
"Hei, pegawai baru! Siapa namamu?" tanya Viya dengan congkak.
"Saya Lyn," ucap Saira pelan. Sesekali ia meringis saat telapaknya bergesekan dengan flat shoes.
"Antarkan berkas ini ke ruangan manajer, dan ingat! Jangan lama." Ia meletakkan asal berkas tersebut. Alyne yang melihat hal tersebut menjadi sangat marah. Tapi Saira menahannya.
"Baik, Bu."
Wanita itu segera kembali ke ruangannya. Setiap ada karyawan baru yang masuk, maka akan diperlakukan dengan semena-mena oleh Viya. Sudah empat karyawan yang memutuskan resign dari sana.
"Lyn, kamu sabar ya, nanti juga dia bakalan bosan." Elca mencoba memberinya semangat.
Mereka semua yang ada di sana sudah sangat tahu tabiat Viya. Karyawan yang sok merasa berkuasa, dan mereka tidak ada yang bisa berbuat apa pun untuk membantu. Jika ketahuan, maka dia akan diadukan kepada manajer genit yang siap meraba-raba karyawannya.
Saira membawa berkas tersebut dengan susah payah, kaki yang ia paksakan untuk berjalan menuju lift, sungguh sangat menyiksa. Sesekali ia menarik napas dan membuangnya. Belum lagi berkas yang ia bawa ada lima buah. Setelah sampai ia segera mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Silakan, masuk!"
__ADS_1
Saira memutar knop pintu dengan pelan. Di sana sudah ada pria tua yang menunggunya dengan tatapan kurang ajar. Saira sudah memiliki firasat aneh saat melihatnya.
"Pak, ini berkas dari Ibu Viya, beliau menyuruh saya untuk mengantar ke sini."
"Terima kasih, silakan duduk dulu."
Pria itu bangkit dari kursinya dan segera berjalan mendekati Saira.
"Tidak perlu, Pak. Saya harus mengantarkan beberapa berkas lagi."
Saira hendak berlalu. Namun, sebuah tangan menahan pergelangannya. "Kenapa begitu terburu-buru, ayo duduk dulu."
"Jangan coba-coba kurang ajar dengan saya!" peringat Saira dengan tatapan tajam.
Pria itu tertawa, setelah itu ia juga menampar pipi Saira sampai ia tersungkur ke lantai karena tidak bisa mengimbangi tubuhnya. Ia meringis dan hampir menangis menahan sakit.
"Beraninya gadis sepertimu bersikap kurang ajar denganku! Seharusnya kau bersyukur karena aku masih mau melirikmu. Lihatlah penampilanmu, sangat menjijikkan!" makinya kesal.
__ADS_1
"Hanya wanita bodoh yang bersyukur Anda perlakukan seperti tadi."
"Kau akan menyesal karena sudah melawanku! Sekarang keluar dari ruanganku!" usirnya dan segera melaporkan tindakan Saira kepada atasannya.
Saira segera keluar dan kabar tersebut segera menyebar dan Viya sangat marah. Ia mendatangi Saira yang sedang duduk di kursinya. Rasa sakit mendera sampai ke kepala sehingga ia sangat tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
"Lyn, apa maksudmu dengan menampar manajer? Apa kau sedang cari mati?" teriaknya. Hal itu membuat beberapa karyawan tampak menjadikan keributan itu sebagai tontonan.
"Bisakah jangan mengangguku sekarang." Saira menatap wanita itu datar.
Ia pikir semua sudah berlalu. Namun, sebuah gebrakan keras membuat Saira membuka kembali matanya. Ia bangun dari kursi dan segera mengambil pisau kecil yang biasa ia gunakan untuk memotong kertas. Ia membuka dengan gerakan slow motion. Setiap bunyi dari gesekan itu mampu membuat mereka merinding termasuk Viya. Nyalinya menciut saat melihat tatapan Saira yang mematikan.
"Ap ... apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan suara gugup.
🧚🧚🧚🧚🧚
Gantung lagi, gantung lagi, pembaca geram
__ADS_1
dijilat, diputar, dicelupin.
jadi deh Oreo isi pisang kejut. Anggap aja aing lagi baek hati update tiga bab.