
"Tidak perlu berterima kasih Alyne. Coba kau pikirkan, jika kau yang langsung datang ke sana dan pamanmu hanya didakwa pencemaran nama baik. Maka, hukumannya tidak akan lama. Lalu setelah ia keluar, pasti pamanmu akan balas dendam."
Alyne tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Ia tidak menyangka Saira sampai memikirkan hal sejauh itu. Saira sudah menolongnya dari bencana.
"Aku berjanji akan selalu berada di sisimu selamanya." Alyne mengatakan kalimat itu dengan serius.
"Kalau kau menikah bagaimana? Mau tinggal bersamaku?" tanya Saira sambil menahan senyum melihat raut gadis itu terlihat bingung.
"Kalau begitu, aku tidak akan menikah sampai tua."
"Lalu kau mau jadi perawan tua di saat wajahmu sangat cantik?"
"Bukan begitu, hanya saja aku akan setia ke padamu."
"Kita akan dikira memiliki hubungan yang serius." Tukas Saira membuat wajah Alyne mendadak ngeri mendengar kalimat yang barusan Saira utarakan.
Saira tertawa mendengar kalimat tersebut. Bagaimana mungkin Alyne berjanji akan setia kepadanya. Ia tidak akan mengikat gadis itu untuk terus berada di sisinya. Karena bagi gadis itu dirinya adalah Evellyn Ophelia bukan Saira Ophelia. Bahkan nama mereka berdua memiliki nama yang sama. Hanya beda di awal saja.
"Oh, iya Ev, mengenai proyeknya kan sudah selesai. Apa kita akan kembali ke Autralia?"
__ADS_1
Saira menggeleng pelan dan menatap manik itu serius. Ia meminum teh untuk melonggarkan tenggorokannya yang terasa kering.
"Aku belum berencana kembali ke Autralia dan Papa tahu akan hal itu. Hanya Mama yang tidak tahu karena sengaja kusembunyikan."
"Lalu apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Alyne penasaran.
"Apalagi, kita akan bekerja di sini."
"Bekerja sebagai apa?" tanya Alyne bingung. Bukankah kantor mereka berada di Autralia. Ia sangat bingung dengan jalan pikiran atasannya yang satu ini.
"Kita akan bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang akan akan dikelola oleh salah satu kenalanku. Perusahaan itu milik anak dari teman Mama. Namanya Romeo."
"Tapi dengan satu syarat Alyne."
Gadis itu menoleh pada Saira yang sedang tersenyum menatapnya. "Melihat senyumanmu, perasaanku menjadi tidak enak."
Saira tertawa pelan mendengar hal itu. Ia sungguh terhibur dengan kalimatnya yang terdengar sangat lucu di telinganya. Ia menatap Alyne dengan serius, tidak ada tawa bahkan senyuman terbersit di bibirnya. Melihat hal itu, membuat Alyne merinding ngeri.
"Alyne, kamu harus belajar bahasa Indonesia mulai dari sekarang."
__ADS_1
Gadis itu menganguk patuh. Baginya hal itu bukan masalah yang besar. Ia tipe yang mudah belajar. Kemudian Saira kembali melanjutkan ucapannya.
"Romeo adalah pria yang memiliki pesona yang luar biasa. Jika kau melihatnya, hatimu akan berdegup kencang dan hal itu bisa mengakitkan diabetes akut. Kalau kau sakit bagaimana? Kau bilang akan selalu bersamaku."
"Iya, aku berjanji tidak akan tergoda oleh pesonanya."
"Untuk menujudkan hal itu, kita harus berpenampilan sederhana dan akan melamar pekerjaan di sana. Aku yakin kita berdua akan lolos. Kau tahu, Romeo hanya akan terpikat oleh wanita cantik."
Mendengar hal itu, Alyne mengangguk paham. Jika ia sampai terpesona maka janjinya akan cidera. Untuk itu Saira memberikan syarat seperti itu agar tidak ada celah bagi mereka dilirik oleh Romeo.
"Apa sekarang kau paham maksudku?" tanya Saira dengan serius.
"Aku sangat paham Nona Evellyn. Idemu sangat cemerlang di setiap kesempatan. Kita tidak perlu repot-repot untuk jatuh cinta ke padanya."
"Bagus Alyne, aku baru sekali bertemu dengannya dan kau tshu, dia tidak berminat sama sekali denganku!" tawa Saira membahana membelah malam.
-----
Pssttt....
__ADS_1
Ingat ancamannya! Mau kalian ku kutuk jadi dolar? kalau enggak mau segera laksanakan sogokannya. Awas ya kalau bolong, kalau kata babang bintang holywood I Watching You. Mataku sudah melek ini buat mengawasi kelen.