Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Rasa Bahagia


__ADS_3

"Kenapa tidak bilang kalau kamu mau digendong di belakang."


"Apa kita akan berdebat? Aku yakin waktumu sangat berharga."


Romeo menghela napas dan segera membawa Saira turun ke lobi. Di sana mereka ditatap dengan berbagai macam. Ketampanan Romeo mampu membuat beberapa wanita kejang-kejang. Mereka bahkan sangat ingin berada di posisi Saira yang menatap datar ke pada setiap orang yang mereka lalui. Ia tidak peduli dengan berbagai macam perspektif dari semua orang, bagi Saira cukup dirinya dan Tuhan yang tahu.


"Akhirnya sampai juga ke mobil." kekeh Romeo kembali menggoda Saira. Gadis itu sudah mencak-mencak di belakang karena merasa Romeo menyindir dirinya.


Mereka berdua membelah jalanan menuju kediaman Saira. Di sana sudah ada Alyne yang sudah siap dengan pakaian kantornya. Ia tampak terkejut melihat pria itu keluar dari mobil dan menggendong Saira sampai ke dalam. Kening Romeo sedikit mengernyit melihat tampilan gadis itu. Ia seperti pernah melihatnya, setelah berpikir beberapa saat, ia teringat sesuatu.


"Sepertinya aku mengenalmu!"


Pemandangan tadi saja sudah membuat Alyne syok, ditambah kini pria itu mengatakan mengenalnya. Ini seperti sebuah bencana baginya.


"Mana mungkin, saya dan Anda belum pernah bertemu." Alyne menjawab dengan bibir sedikit bergetar. Bukan karena takut, melainkan ada sensasi aneh yang ia rasakan saat bertatapan dengan Romeo.


"Iyakah? Tapi wajahmu sangat mirip dengan seseorang yang bekerja di kantorku, tunggu bahkan cara berpakaianmu juga sama."


Romeo tampak memicing curiga ke arah Alyne yang sudah tidak betah duduk di sofanya. Sedangkan Saira memperhatikan keduanya dengan tatapan jengah.

__ADS_1


"Bukankah kau ada pekerjaan penting, pergi sana!" usir Saira, hal itu berhasil membuat jantung Alyne hampir meledak karena syok dua kali.


"Kamu ini sungguh kejam, tidak adakah ucapan terima kasih?"


"Baiklah, terima kasih!"


Romeo tertawa melihat cara Saira mengucapkan kalimat itu. Lalu sebuah ide melintas di benaknya. "Temani aku makan malam besok, ingat! Aku tidak menerima penolakan."


"Kupikir masih ada hal yang gratis di dunia ini, ternyata aku sangat konyol!" dengkusnya.


Romeo segera pamitan kepada Alyne dan segera keluar dari sana dengan perasaan bahagia. Ia senang menganggu Saira karena bersama gadis itu, ia merasa sangat bahagia.


"Aku hampir dibegal dan hampir dibunuh juga, tapi entahlah, biasanya penjahat begitu pasti akan membunuh korbannya setelah diperkosa."


Kalimat Saira membuat bulu kuduk gadis itu merinding. Bagaimana bisa ia dengan santainya berkata seperti itu.


"Lalu kenapa kamu bisa bersama Pak Asthon?" tanya Alyne penasaran.


"Maksudmu Romeo? Ah, dia yang menolongku tadi malam. Lalu mengenai Aksa, aku memang sengaja ingin pulang sendiri karena merasa tidak enak merepotkan pria itu."

__ADS_1


"Lalu kenapa tidak menghubungiku? Aku kan bisa menjemputmu."


"Kau pasti sangat lelah, jadi kubiarkan saja kau beristirahat."


"Kalau begini caranya, setiap kamu akan berkencan, aku akan menemanimu!"


"Terserah kau saja, aku akan mengikutinya!"


"Ya sudah, kamu tidak usah pergi ke kantor. Aku akan meminta izin untukmu."


"Tidak, aku harus pergi, Alyne siapkan pakaianku, kakiku sangat sakit."


"Makanya tidak perlu pergi, nanti kalau nenek sihir itu membuatmu sibuk bagaimana? Jangan salahkan jika aku menjambaknya!" kesal Alyne membuat Saira tertawa pelan.


"Kau ini sangat lucu dan menggemaskan. Sudah lah, ayo cepat, kita nanti terlambat."


Alyne segera menyiapkan pakaian Saira dan mengantar gadis itu ke kemarnya.


 

__ADS_1


Tes tes air mataku, membasahi bumi, oh deras sekali. Tralala Trilili kamu baik sekali.


__ADS_2