
Saira tersentak dengan pelukan tersebut. Ia hendak berbalik tapi pria itu tidak mengizinkannya. Ia juga merebahkan kepala di bahu Saira yang sudah lama ia rindukan kehadirannya. Tapi karena insiden kecelakaan yang ia alami, membuatnya kehilangan banyak hal termasuk bayi mereka.
"Biarkan seperti ini dulu, sayang."
Alyne yang merasa keduanya butuh privasi pun segera pergi menuju kamar satu lagi. Kini hanya tinggal mereka berdua di sana yang masih hanyut. Tapi amarah Saira memuncak saat mengingat semuanya. Ia melepas kasar pelukannya dan segera pergi dari sana.
"Eve, maafkan aku. Aku tidak pernah berniat menyakitimu sayang."
"Tinggalkan aku sendiri, Romeo. Sudah cukup kau menorehkan luka di hatiku. Aku bukan lagi Eve yang dulu."
Romeo mengejarnya hingga ke kamar dan ia lagi-lagi memeluk Saira dari belakang. Bahu gadis itu bergetar hebat melawan banyaknya gejolak emosi yang ia pendam selama ini. Begitu banyak orang yang ingin melukainya.
"Sayang, aku mohon, maafkan aku." bisik Romeo sarat akan kesedihan.
Ia membalik tubuh Saira yang sudah bengkak karena menangis sejak tadi. Ia menatap lembut manik Saira sampai membuat gadis itu merasa nyaman. Romeo menggendong tubuh Saira ke ranjang dan membaringkannya dengan hati-hati. Berharap gadisnya akan selalu baik-baik saja.
"Maaf," ucap Saira dan kembali menangis.
__ADS_1
"Tidak sayang, akulah yang harus minta maaf."
Saira menggeleng, "seharusnya aku bisa menjaga bayi kita, tapi aku lalai sampai membiarkan orang lain mencelakainya."
Mendengar tangisan Saira, Romeo sangat terpukul sekaligus marah besar. Tapi untuk sekarang, dia harus membuat Saira tenang apa pun caranya.
Sudah cukup gadisnya menangis, ia akan menghapusnya.
"Sayang, akulah yang paling bersalah atas semua ini. Aku yang tidak menjaga kalian dengan baik. Aku sosok pria yang telah gagal menjaga kekasihnya."
Malam itu keduanya menangis. Romeo menceritakan dampak kecelakaan itu pada dirinya. Membuat Saira sangat sedih. Tidak seharusnya dia melampiaskan amarahnya pada Romeo karena dia tidak pernah bersalah sedikit pun. Takdirlah yang datang dan mempermainkan mereka.
"Semua sudah menjadi masa lalu," ucap Saira lembut.
Romeo menatap mata Saira dalam, gadis itu segera mengalungkan tangannya pada leher Romeo.
"Tidurlah bersamaku, malam ini saja." bisik Saira serak.
__ADS_1
Romeo tersenyum dan segera mencium benda kenyak yang sejak tadi membuatnya tidak fokus. Decapan mereka memenuhi seisi ruangan. Untungnya kamar Saira kedap suara sehingga tidak terdengar suara desahan dari bibirnya.
"Ehm..." Saira menjambak rambut Romeo dengan lembut.
Romeo yang tadi menyamping kini mulai mencari posisi nyaman. Perlahan menjamah leher jenjang Saira dan mengelusnya lembut. Ia melepas tautan bibir mereka dan bibir Romeo menjelajahi leher jenjang Saira. Gadis itu terlihat melenguh saat tangan Romeo berhenti di bagian dua gundukan yang sudah mengeras.
Romeo perlahan membuka kancing baju tidur Saira. Memperlihatkan kulit mulus yang sangat indah. Ia meciuminya dan membuka kaitan bra. Membuangnya asal dan tampaklah dada Saira yang sudah membusung, itu terlihat sangat indah. Romeo segera menjelajahi benda tersebut dengan bibirnya. Menciptakan sensasi aneh dalam diri Saira. Ia melenguh beberapa kali.
"Emm ... Ah." desah Saira saat bibir Romeo memilin kuat area sensitifnya.
Tak ingin tersiksa sendiri, kini tangan Saira mulai menjelajahi punggung Romeo dengan gerakan memutar. Ia juga bisa merasakan keperkasaan Romeo sudah mengeras. Seperti biasa, Saira sangat menyukai hal tersebut. Ia kini menjamah bagian Romeo yang paling menggoda baginya.
"Sayang, jangan menyiksaku." bisik Romeo lirih saat tangan Saira dengan nakal menyelinap masuk dan mengelus keperkasaannya yang mengeras.
"Kau seperti tahu akan kugoda." bisik Saira membuat Romeo terkekeh.
__ADS_1
Emosi jiwa 🤣🤣🤣🤣
aku update lagi kalau komennya bisa membuatku ngakak terguling-guling ya 😆😆