Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Mama dan Malu


__ADS_3

Romeo segera menyuruh perawat untuk menyediakan kruk untuk nantinya dipakai oleh Saira sebagai penyangga. Kakinya belum bisa menyentuh permukaan lantai sebelum benar-benar pulih atau bisa berakibat fatal.


Setelah selesai dari rumah sakit, Saira tidak mau kembali ke rumahnya melainkan ke kantor karena pekerjaannya masih banyak. Karena tidak ingin berdebat panjang, apalagi setiap mereka debat maka Saira lah pemenangnya. Dering ponsel terdengar di mengaung dari dalam tas Saira.


"Romeo bisa tolong dekatkan tasku." pintanya dengan pelan. Kakinya masih sedikit terasa nyeri saat ia bergerak.


"Terima kasih," ucap Saira setelah ia menerima tas tersebut dan mengambil ponselnya.


"Halo, Ma." sapa Saira dengan nada gembira.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Halena khawatir, entah kenapa perasaannya tidak tenang bahkan pot bunga hiasnya jatuh berderai di lantai. Ia langsung teringat pada Saira.


"Aku baik-baik saja, Ma. Mama bagaimana?" tanya Saira lembut.


"Mama antara baik dan tidak," ucapnya lesu.


"Apa Mama sakit? Sudah minum obat? Dokternya manjur, tidak? Apa dokternya berpengalaman? Apa ...," ucapannya terhenti saat sang ayah datang dari belakang Halena.


"Mana bisa Mamamu menjawab kalau kamu terus menghujaninya dengan berbagai pertanyaan." tawa ayahnya terdengar renyah.


"Habisnya, aku sangat khawatir Pa."


"Mamamu hanya sedang merindukanmu, katanya dia merindukan memasakkan sesuatu untukmu. Kemarin malam bahkan sampai tidur di kamarmu."


"Dan kamu tahu sayang, Papamu menggemboknya. Menyebalkan." kesal Halena membuat tawa Saira membuncah.

__ADS_1


"Kalau tidak kugembok, maka kamu akan selalu tidur di sana dan aku akan tidur sendirian."


"Dasar suami genit." ejek Halena.


"Yang penting kamu sangat mencintaiku sayang."


Hubungan kedua orang tuanya sangat harmonis dan romantis. Saira sangat iri melihat itu semua. Meski usia mereka sudah tidak lagi muda, tapi tidak malu menunjukkan keharmonisan rumah tangga mereka.


"Mama, coba tebak aku sedang bersama siapa?"


"Bersama Alyne," jawab ibunya.


"Tidak, lain."


"Ah, Papa tahu, pasti kamu sedang bersama pria tampan dan seksi."


"Lihat! Bahkan paman mengakui ketampananku." bisiknya dengan pelan.


"Iya, Pa. Dia memang pria yang tampan tapi sangat disayangkan sedikit tidak normal."


"Tunggu, apa yang kamu katakan pada paman." protes Romeo. Pria tua itu bisa saja berpikir macam-macam mengenai dirinya.


"Apa dia seorang homo? Biasa pria yang menyukai sesama jenis dikategorikan sebagai pria yang tidak normal." komentar ibunya yang berhasil membuat Romeo menangis darah yang tidak kasat mata.


"Ah, kenapa Mama berpikiran sejauh itu." kekeh Saira sambil menatap Romeo dengan wajah menyebalkan. Bahkan pria itu ingin sekali menerkamnya.

__ADS_1


"Mana tahu kan, jadi siapa dia?"


"Romeo Ma," ucap Saira sambil tertawa. Halena di negara seberang hampir memuntahkan ludahnya saat mengetahu pria yang sedang bersama putrinya.


"Sayang, kenapa tidak bilang dari tadi. Mama jadi merasa tidak enak karena menuduhnya homo barusan."


"Tidak masalah, Bibi." Romeo membalasnya dengan tawa garing.


"Ah, kamu memang pria yang rendah hati. Bersenang-senang lah kalian berdua. Sayang, Mama pergi dulu ya."


Belum sempat Saira menjawabnya, panggilan sudah dimatikan. Hal itu membuat tawa Saira pecah. Ia yakin sekali kalau ibunya sangat malu atau sedang menyembunyikan wajahnya ke atas bantal.


"Apa Bibi akan baik-baik saja?" tanya Romeo sedikit khawatir. Wanita itu pasti sangat malu sekarang ini.


"Dia akan baik-baik saja, jangan khawatir."


"Semoga saja."


Keduanya sudah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi. Itulah perusahaan Romeo.


"Pak, mobilnya tolong diparkir ya," ucapnya.


"Baik, Pak."


"Apa kau benar-benar bisa berjalan?" tanya Romeo yang sedikit ngilu melihat kaki Saira menggantung. Ia hanya memakai satu sepatu yang satu lagi sengaja diletakkan di dalam mobil agar tidak hilang. Itulah kata Romeo.

__ADS_1


----------


__ADS_2