
"Ya sudah, ayo!" ajaknya lembut dan mereka berjalan menuju mobilnya.
"Ayo kita pulang!" ajak Alyne saat jam sudah menujukkan pukul lima. Saira membuka mata dan menganguk pelan. Mereka bangkit dari sana dan berjalan menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari sana.
Seorang anak kecil yang sedang berlari, menabrak Saira hingga terjatuh, es krim yang ia bawa tumpah mengenai kaki Saira. Gadis itu mensejajarkan tinggi dengan gadis kecil itu.
"Apa kamu terluka?" tanya Saira lembut. Gadis kecil itu menggeleng.
"Tidak, Kak. Tapi aku sudah menumpahkan es krimnya ke kaki Kakak. Aku tidak mau dimarahi." isaknya kecil dan semua itu membuat Saira tersenyum kecil.
"Kakak tidak akan memarahimu, ayo bangun da kita beli lagi es krimnya." Saira tersenyum.
"Tapi bagaimana dengan kaki kakak yang kotor," ucapnya sedih.
"Sudah tidak apa-apa, nanti kakinya bisa dibersihkan. Ayo!" ajak Saira sambil menggendong gadis kecil yang ia perkirakan masih berusia enam tahun.
__ADS_1
Alyne tampak terpukau melihat pemandangan tersebut. Ia kembali melihat sisi lain dari atasannya. Ia mengira sosok dinginnya berlaku pada semua makhluk hidup. Tapi ternyata tidak, hatinya juga sangat lembut terhadap anak-anak. Tadinya ia takut jika Saira akan memaki atau memarahi syukurlah kekhawatirannya tidak terjadi.
"Saira!" panggil sebuah suara yang sangat dia kenal. Jantungnya berdetak kencang. Apa pria itu sudah mengenalinya sekarang.
Ia berbalik dan Aksa tampak menghampiri mereka berdua.
"Sayang, kamu kenapa menghilang dari hadapan Papa. Papa kan jadi panik."
Lagi, jantung Saira berdetak kencang saat mendengar Aksa memanggil gadis kecil yang sedang ia gendong dengan menyebutkan dirinya sebagai Papa. Apa pria itu suda menikah sekarang. Pertanyaan itu bergentayangan di kepalanya.
"Papa, tadi Ai numpahin es krim ke kaki Kakak ini." ia kembali terlihat sedih.
"Bu Evellyn, maaf atas tindakan putri saya. Sayang ayo sini!" Gadis itu meraih uluran tangan Aksa dan beralih ke dalam gendongannya.
Saira masih tampak diam dan mencerna semuanya. Ia tidak berniat membalas ucapan Aksa.
__ADS_1
"Mbak, ini es krimnya." seorang penjual mengulurkan es krim kearah Saira.
"Ini es krimnya, jangan lari-lari lagi ya nanti bisa bahaya."
"Makasih Tante yang cantik, Tante sebaik almarhum Mama Saira." celetuk anak itu yang membuat langkah Saira mendadak berhenti. Ia bertanya apa maksud dari perkataan anak tersebut. Kenapa dia menyebut dirinya sebagai Mama.
Aksa sendiri tampak mengembuskan napas pelan. Kembali, Saira tidak menggubrisnya. Ia tidak tahu apa kesalahannya sampai gadis itu selalu bersikap dingin padanya.
"Saira, ayo kita pukang! Mama pasti sudah menunggu di rumah."
Aksa melangkah pergi dari sana, menyisakan beribu pertanyaan di benak Saira. Siapa wanita yang disebutkan mama oleh Aksa. Apakah pria itu sudah menikah dengan Izora. Ah, mengingat Izora, ia yakin sekarang keduanya pasti sudah menikah.
"Mungkin hanya aku yang ditakdirkan hidup semerana ini." bisiknya dan pergi meninggalkan taman tersebut.
Aksa terus memikirkan soal Saira, apalagi saat melihat senyuman yang dia berikan pada Saira—putri dari kakak sepupunya yang sangat akrab dengannya. Ia sengaja memberikan nama Saira untuk mengingatkannya selalu pada istri yang belum sempat ia cintai selama hidupnya. Namun, senyuman itu, mengingatkan Aksa pada senyum Saira yang sudah lama tidak ia lihat.
__ADS_1
---------