
Saira membuka mata pelan, ia merenggangkan otot-ototnya. Badannya yang sempat terasa sakit, tidak lagi ia rasakan pagi ini. Lalu sepasang mata ikut terbuka, hal itu membuat Saira syok dan berteriak histeris.
"Ada apa? Ada apa?" tanya Romeo ikutan kaget. Ia khawatir Saira telah melihat sesuatu yang mengerikan.
"Kau! Kenapa tidur satu ranjang denganku!" teriak Saira marah, sambil memeriksa pakaiannya. Saira lega karena kain yang membungkus tubuhnya masih lengkap. Tapi tetap saja ia tidak terima. Ia mengambil bantal dan melempar kepada Romeo. Ia juga memukuli pria itu beberapa kali.
"Hei, hei! Hentikan Eve, jangan memukuliku."
Romeo terus berusaha menangkis dan keduanya kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke ranjang. Deru napas Romeo yang begitu wangi membelai wajah cantik Saira. Mereka berada dalam posisi seperti itu selama lima menit. Setelah itu, Saira menolak tubuh Romeo sampai pria itu terjungkal ke belakang.
"Eve, kenapa kamu sangat kasar!" ringisnya sambil mengusap kepala yang terbentur ke lantai.
"Aku kasar? Salahmu sendiri kenapa harus jatuh bersamaku. Kau pasti mengambil kesempatan, iya kan!"
"Enak saja, kamu yang duluan, kenapa memukuliku, aku jadi kehilangan keseimbangan."
"Siapa suruh kau tidur satu ranjang denganku, lagi pula bukankah aku tidur di sofa, kenapa bisa di sini?" tanya Saira menatap tajam manik sebiru samudera milik Romeo.
"Aku tahu, punggungmu pasti akan sakit jika tidur di sofa. Makanya kupindahkan kemari," ucap Romeo lembut.
__ADS_1
Saira meredupkan tatapan tajamnya dan berdehem beberapa kali. "Ya sudah, terima kasih. Aku akan segera pulang."
"Aku akan mengantarmu," ucap Romeo.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Yakin?"
Anggukan penuh percaya diri dari Saira membuat sudut bibirnya tertarik sedikit. "Kalau begitu, pulang lah."
"Aku pasti akan pulang!" decaknya kesal.
Ia turun dari ranjang dan rasa sakit mendera telapak kakinya. Ia meringis kesakitan. Saira lupa jika kakinya sedang terluka.
"Tidak ada, memangnya kenapa?" dengkus Saira.
"Mana tahu, seseorang membutuhkan bantuan, tapi gengsi memintanya karena sudah menolak." kekehnya dan berhasil membuat Saira kesal.
Saira berpikir sejenak, jika ia tetap dengan pendiriannya. Maka, sampai sore pun ia tidak akan pernah sampai ke rumahnya. Hari ini ia harus masuk bekerja. Saira menatap Romeo dengan mata memicing curiga, tetapi sedetik kemudian ia menghela napas pelan.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah, antarkan aku pulang."
Romeo tersenyum dengan manis. "Tunggu sebentar, aku mengganti pakaian dulu."
Saira mengibaskan tangannya membuat pria itu terkekeh geli. Ia sudah seperti seorang pelayan sang putri raja. Tingkah laku Saira selalu berhasil membuat Romeo terhibur. Padahal gadis itu selalu bersikap dingin dan datar pada setiap orang.
"Aku sudah siap, ayo!" ajaknya dan berlalu terlebih dahulu. Saira ingin sekali memukul kepala Romeo.
"Eve, kenapa belum beranjak?" kepala Romeo menyembul dari luar.
"Apa tanganku bisa dipakai buat berjalan," ucap Saira dengan sarkas. Romeo menepuk kepalanya dan segera mendekati Saira.
"Baiklah, Tuan Putri, mari kita pergi." ia meletakkan tangan kirinya di leher dan tangan kanannya di kaki Saira.
"Kau mau apa?" tanya Saira dengan tatapan horor.
"Tentu saja menggendongmu, memangnya mau apa lagi?"
"Kesinikan punggungmu." Perintah Saira dan Romeo segera menurutinya meskipun ia sedikit bingung. Kebingungannya terjawab setelah ia merasakan punggungnya terasa berat.
__ADS_1
------
Siapa yang senyum pas baca ini? kalau ada yang berwajah datar, segera periksa wkwkwkwkw