Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Jodoh Takkan Tertukar


__ADS_3

"Setelah ini kau mau kemana?" tanya Saira sambil menyeruput minumannya. Makanan yang tadi disajikan sudah tandas setengah.


"Hari ini aku akan mengekorimu kemana pun sayang." Romeo mengedipkan sebelah matanya ke arah Saira.


"Oh, iya? Termasuk ke kamar mandi?" ejek Saira.


"Tentu saja kalau kamu menginginkannya sayang."


"Kau ini! Mau aku yang bayar?" tanya Saira sambil membuka tasnya. Namun, gerakannya dihentikan oleh pria itu dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan segera berjalan menuju kasir. Saira tertawa melihatnya, bagi Romeo jika wanita mengeluarkan uang saat diajak makan, itu menjadi sebuah aib.


"Mau kuantar?" tanya Romeo.


"Kau bilang mau mengekoriku." ejek Saira berhasil membuat pria itu terkekeh. Ia akan dengan senang hati mengekori ke mana pun gadis itu pergi.


"Baiklah tuan putri, sesuai permintaanmu."


Mereka segera membelah jalanan Jakarta yang digandrungi polusi kenderaan dengan berbagai macam bahan bakar. Berbagai jenis asap terlihat di jalan dan Saira sudah biasa akan hal ini. Berbeda dengan kehidupan di Autralia yang jauh lebih nyaman.


"Apa kamu pernah merindukan ibumu meski sekali saja?" tanya Romeo memecah kesunyian.


"Tentu saja pernah, anak mana yang tidak aka ln merindukan orang tuanya. Meski aku hidup di tubuh anak orang terkaya sekali pun, aku tetap sangat merindukan orang tuaku."


"Bagaimana rasanya?"

__ADS_1


"Rasa? Rasa apa?" tanya Saira bingung.


"Hidup di tubuh orang lain, bagaimana rasanya?"


"Aku bersyukur karena hidup di dalam tubuh gadis ini, coba bayangkan bagimana kalau dalam tubuh pria."


Saira bahkan bergidik ngeri membayangkannya jika ia bangun di tubuh yang berbeda jenis kelamin dengannya. Ia harus menyesuaikan semuanya.


"Sudah, jangan dibayangkan nanti ketagihan."


"Yang ada bikin mual," kekeh Saira.


Mereka berdua kembali menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan.


"Aku menyukai kehidupanku yang dulu."


"Pasti kehidupanmu sangat bahagia, ya."


"Aku memiliki seorang adik yang sangat manja. Kami semua sangat menyayanginya. Apa pun yang dia inginkan, pasti akan kami berikan."


"Wah, adikmu sangat beruntung karena memiliki kakak sepertimu." Alyne tampak tersenyum menatap kejauhan. Andai ia memiliki saudara juga, hidupnya tidak akan terasa sepi sebelum bertemu dengan Saira.


"Aku yang sangat bahagia memiliki adik seeprtinya."

__ADS_1


"Lalu sekarang di mana dia?"


"Dia sudah tenang di pangkuan Tuhan karena terlalu menyayanginya hingga mengambilnya lebih dulu."


"Aku turut berduka atas semuanya."


Alyne sangat tahu apa yang dirasakan oleh Izora karena ia juga pernah berada di posisi itu. Memiliki seorang adik memang sangat menyenangkan. Namun, semuanya akan terasa indah kalau sama-sama merasa bahagia.


"Apa kau tidak ingin menziarahinya?" tanya Alyne.


Seketika Izora ingat dan menganguk.


"Iya, aku ingin menziarahinya. Rasanya sudah sangat lama aku tidak kesana."


Mereka berdua segera pergi untuk menziarahi makan Saira. Saat berada di sana, keduanya turun dan segera menuju makam tersebut setelah membeli beberapa bunga untuk diletakkan di sana.


Alyne sangat mengingat makan itu. Itu adalah makam yang sering dikunjungi oleh Saira. Ia terkejut saat gadis yang bernama Saira adalah adik dari Izora.


"Namanya sangat indah bukan?" tanya Izora dengan senyum mengembang.


Alyne menganguk dan menatap dengan saksama semua kegiatan yang dilakukan oleh gadis itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.


----------

__ADS_1


__ADS_2