Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kau yang berbuat, dia yang menanggung


__ADS_3

"Sekali Anda melakukan panggilan, saya akan menekan tombol ini dan hidup Anda akan berakhir Pak Tua."


Pria itu kembali meletakkan gawainya. Ia tidak ingin semua yang dia bangun dari nol akan lenyap begitu saja.


"Saya dengar, putri Anda sedang menempuh pendidikan di Autralia."


"Jangan menganggu putriku!" peringatnya.


"Hoho, santai saja, saya tidak akan menganggunya asal Anda menuruti semua keinginan saya."


"Saya akan melakukan apa pun."


Saira tersenyum mengejek melihat ke arah pria itu dan menatap Alyne. "Pantau terus pria ini, jika dia macam-macam, putrinya yang akan menanggung akibatnya."


"Saya ... saya pastikan tidak akan berbuat macam-macam, tolong jangan ganggu putri saya."

__ADS_1


"Hem, sebagai ayah kau ini lumayan penyayang juga ya, tapi sebagai pemimpin kau hanya sampah. Dengar! Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya!"


Pria itu mengangguk dan mereka berdua segera pergi dari sana. Sebelum benar-benar pergi, Saira menoleh ke arahnya. "Jangan coba-coba menghianati saya, sekali kamu melakukannya saya akan langsung menghabisi putrimu. Mungkin memberikannya kepada pria hidung belang bukan masalah besar, atau digilir sepuluh pria."


Jantung pria itu seolah berhenti berdetak saat Saira mengatakan hal tersebut, bagaimana mungkin ada perempuan sekeji itu. Ia tidak boleh melakukan kesalahan apa pun atau putrinya akan berada dalam bahaya.


"Eve, apa selanjutnya?" tanya Alyne saat mereka sudah berada di dalam mobil bersiap meluncur ke suatu tempat.


"Kita akan menculik mereka satu per satu."


"Aku sudah menemukan gudang tua yang tidak pernah dipakai lagi, setidaknya sudah kosong lima tahun belakang, coba kau bayangkan apa saja yang ada di sana." kekeh Saira.


"Hantu?"


"Jangan memikirkan hal sejauh itu Alyne, aku tidak suka dengan cerita hantu. Ular, aku menyukai mereka."

__ADS_1


Bulu kuduk Alyne, mendengar kata ular saja sudah membuatnya merinding, bagaimana jika ia harus mengatasi ular atau memegangnya. Alyne bahkan tidak bisa membayangkannya sama sekali.


"Ada apa?" tanya Saira saat Alyne mendadak diam.


"Tidak ada, aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya memegang ular."


Tawa Saira pun pecah saat mendengar kalimat tersebut. Untuk apa Alyne memikirkan hal yang sudah jelas jawabannya. Lagi pula ia tidak akan menyuruh gadis itu memegang ular berbisa. Ia menggeleng beberapa kali lalu memutuskan tidak menanggapi lagi.


Di lain tempat, detak jantung pria itu naik turun di mesin EKG. Tapi terlihat sangat lemah. Ibunya tidak berhenti menangis dan itu sudah sepuluh hari dinyatakan koma. iya tidak pernah menyangka nasib putranya akan senaas itu. Semua karena gadis bernama Evellyn. Meski dia putri dari sahabatnya, tetap saja baginya gadis itulah yang menyebabkan semua ini terjadi. Ia bersumpah tidak akan pernah membiarkan putranya bertemu dengannya lagi.


Malam pun sudah menjelang kini Saira membaringkan diri di kasur besarnya. Saat berada sendirian, ia akan menjadi sangat lemah, air mata kembali turun membasahi pipinya. Pikirannya selalu dicengkram oleh kenangan bersama Romeo. Hingga saat ini ia belum menemukan di mana keberadaan kekasihnya itu. Ia sudah membayar beberapa detektif di Autralia tapi hingga kini belum juga ada kabar.


"Sayang, kamu di mana? Aku sangat tersiksa hidup seperti ini!" isaknya perlahan saat tidak lagi mampu membendung segalanya.


Sesak kerap hadir dan menggerayangi jantungnya hingga mencekik dan membuatnya kesulitan untuk bernapas. Saira memegang jantungnya, meremas dengan lembut dan kembali menangis.

__ADS_1


 


__ADS_2