Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Alvinzor


__ADS_3

Bagi Alvin, Izora adalah segalanya. Wanita yang membuatnya merasa tidak memiliki pesona saat pertama kali mereka bertemu. Gadis yang dengan enggan hanya untuk melihat kearahnya. Di saat banyak mata menatapnya dengan penuh memuja.


"Kenapa tersenyum?" tanya Izora heran.


"Aku hanya teringat pada masa lalu, pertama aku melihatmu, kamu bahkan enggan menatapku." Alvin terkekeh.


"Soal itu maafkan aku, saat itu memang aku sendiri sedang dalam fase tidak baik-baik saja. Pikiranku hanya dipenuhi oleh Mama dan Papa, tidak ada tempat untuk pria lain di sana."


Alvin tersenyum mendengarnya. "Kamu tahu apa yang membuatmu berbeda dengan gadis lain?"


Izora menggeleng, Alvin meraih kembali jemarinya dan meremas lembut. Tangan itu seolah sangat sensitif sampai ia memegangnya dengan penuh kelembutan.


"Di saat gadis lain memikirkan bagaimana mempercantik diri, belanja ke mall dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Kamu hanya memikirkan bagaimana cara agaribumu sembuh dan ayahmu tidak jatuh sakit lagi. Kamu adalah gambaran anak yang tidak egois sama sekali."

__ADS_1


Mendengar hal itu, sudut hati Izora menangis mendengarnya. Andai Alvin tahu apa yang pernah ia perbuat sebelumnya, apakah ia masih di cap gadis baik-baik olehnya. Wajah Izora perlahan kehilangan binarnya. Raut murung dan sedih tercetak jelas di sana.


"Ada apa, Zora? Apa ada dari kalimatku yang menyakitimu? Kalau ada maafkan aku," ucap Alvin sambil menatap wajah murung Izora dengan lekat.


Gadis itu menggeleng, "Alvin, aku tidak sebaik apa yang kamu pikirkan selama ini. Aku adalah gadis yang penuh dengan kesalahan dan dosa."


"Ada apa, hm? Coba ceritakan kepadaku."


"Apa setelah mengetahuinya, kamu akan meninggalkanku?" tanya Izora dengan wajah takut. Alvin segera menenangkannya.


Izora memeluk Alvin sambil terisak. Mendengar ucapan pria itu tiba-tiba perasaannya menjadi damai. Ia menangis bukan karena sedih, tapi bersyukur karena Tuhan masih memberinya seseorang seperti Alvin dalam hidupnya.


"Terima kasih atas segalanya, aku nggak tahu apa yang akan terjadi denganku jika kita tidak pernah bertemu."

__ADS_1


"Aku bahkan tidak ingin membayangkannya Zora, bertemu denganmu adalah sebua anugerah untukku. Kuanggap Tuhan sedang sangat baik padaku. Jadi apa kamu mau bercerita?" tanya Alvin sambil mengelus pucuk kepala Izora yang masih terbenam di dada bidangnya.


"Dulu, aku memiliki seorang adik, tepatnya adik bungsu. Kami sangat menyayanginya dan selalu menuruti apa keinginannya."


Tanpa sadar air mata Izora perlahan luntur dan menyentuh pipinya. Ia melepaskan pelukannya sambil mengusap pelan. Sedangkan Alvin memilih menanggapi sesekali.


"Saat kukiah, aku berkenalan dengan seorang pria. Dia sangat tampan dan baik."


Mendengar kalimat itu, ada perasaan tidak suka menyelimuti hati Alvin. Namun, ia tidak ingin membantah Izora yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sebagai seorang kekasih, ia harus bisa memberi kenyamana dan pengertian pada Izora.


"Dia juga sangat ramah dan cepat membaur dengan sepupu dan keluargaku. Lalu suatu hari, aku memberanikan diri untuk mengenalkannya pada seluruh keluargaku. Saat itu hari kelulusanku yang meraih predikat caumlaude." Izora tampak menarik napas sejenak. Rasa sesak mulai menghampiri dirinya. Alvin ikut memberinya kekuatan untuk melanjutkan ceritanya.


"Di sana untuk untuk pertama kalinya adikku jatuh cinta pada kekasihku. Aku tidak mengetahuinya, tidak ada seorang pun yang tahu. Lalu kami sekeluarga memutuskan pergi ke puncak untuk merayakan kelulusanku."

__ADS_1


Tangis Izora mulai pecah saat hendak melanjutkan ceritanya.


---------


__ADS_2