
Saira masih menatapnya dengan datar, hal itu membuat gadis itu kikuk dan merasa tidak diharapkan kehadirannya. Padahal niatnya ingin bisa dekat dengan wanita yang akan dikencani oleh kakak satu-satunya. Tya tampak menyenggol lengan Aksa agar memperkenalkan dia.
"Eve, perkenalkan ini adikku namanya Tya."
"Salam kenal Tya." Saira menyapanya. Kebenciannya tidak akan pernah hilang. Memori Saira berputar ke beberapa bulan yang lalu.
"Jangan menceramahiku seolah kamu itu sudah benar! Dengar ya, aku tidak pernah menganggapmu sebagai kakak ipar. Jangan mimpi."
"Eve, Eve!" Saira tersadar dari memori lamanya dan menatap Aksa yang sedang menatapnya cemas.
"Apa kamu baik-baik aja?" tanya pria itu pelan.
"Sepertinya aku kurang sehat, aku pulang dulu ya."
"Biar kuantar!"
"Tidak perlu Aksa, aku bisa sendiri kok. Kamu jaga Tya," ujarnya dan segera berlalu dari sana tanpa menunggu Aksa mengejarnya.
"Kak, apa dia memang tidak ramah? Tya bertanya penasaran sambil menyeruput red velvet latte milik Saira yang belum sempat disentuh.
"Dia memang tipe yang datar dan tidak suka berbicara banyak Tya. Maklumi saja," ucap Aksa.
"Beda ya, sama Saira! Wajah cantik tapi ganjen."
__ADS_1
"Tya, jangan membicarakan orang yang sudah meninggal, nggak baik. Ayo kamu ikutan makan, ajak juga temanmu, sayang makanannya."
Tya tersenyum senang dan segera mengajak kedua temannya. Sedangkan Aksa segera membayar tagihan dan pergi dari sana.
Saira memutuskan berjalan sendirian, setiap bertemu dengan orang di masa lalunya. Luka itu kembali menganga. Ia mencoba meredam, tapi tidak bisa. Air mata perlahan turun membasahi pipinya. Ia sampai tidak sadar telah memasuki jalan sepi yang sudah tidak ada lagi perumahan.
Saira menyadari satu hal, dia dalam masalah besar karena dua orang terlihat menghampirinya dari depan.
"Halo, Neng! Sendirian aja nih, mau kita temenin nggak, kebetulan lagi malam purnama!"
Saira menatap tajam kepada keduanya. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak boleh menunjukkan rasa takut.
"Tidak bisakah kalian menyingkir!" desisnya.
"Apa ada yang lucu?"
"Tentu saja ada, kamu sangat lucu sayang."
Saira sangat menyesal karena tidak memesan taksi. Akhirnya dia berujung seperti ini. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Namun, ia berusaha bersikap tenang.
"Jangan mendekat!"
"Memangnya kenapa? Kamu mau melakukan apa kalau kami mendekat?"
__ADS_1
Mereka berdua kembali tertawa dan memecah kesunyian. Saira mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Bubuk cabai yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Kalian akan menyesal!"
"Kami akan lebih menyesal kalau tidak mendekatimu cantik! Ayolah jangan galak-galak."
Saira tersenyum sinis ke arah keduanya dan dalam hitungan detik, bubuk cabai tersebut sudah melayang ke udara. Keduanya menjerit menahan rasa perih yang menyiksa.
"Gadis sialan! Kurang ajar!" teriaknya dan berusaha mengejar Saira yang sudah menghilang dari hadapan mereka.
"Ya Tuhan, selamatkan aku, bahkan sakit hatiku belum juga terbalas. Jangan biarkan aku mati konyol."
Ia melepas hils-nya dan berlari menyusuri kasarnya permukaan aspal. Telapaknya sampai terluka karena terkena gesekan kasar. Ia terjatuh sampai kedua lututnya terbentur sehingga terluka.
"Hei, berhenti kau!" teriak keduanya masih dengan mata tertutup dan melihat dengan samar.
"Sialan! Mataku sangat perih!" dengkus mereka, tapi masih berusaha mengejar buruan mereka.
Saira menguatkan kedua kakinya dan kembali berlari, sampai ia hampir ditabrak oleh sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Untungnya pria itu bisa menginjak remnya.
------------
Hayo siapakah pria itu?
__ADS_1
klik like kalau kalian penasaran, klik favorit kalau kalian penasaran muehehehehwhw....