Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
TAMAT


__ADS_3

Ponsel Saira tampak berbunyi dan mengambil benda pipih itu yang terletak di atas mejanya.


"Nanti malam, mau diner bersamaku?"


Itulah bunyi pesannya. Sudut bibir Saira tertarik sempurna. Jemarinya mengetik dengan lancar di keyboard.


"Oke, nanti kabari saja." Ia kembali meletakkan ponselnya.


Romeo yang menerima pesan dari Saira sangat senang. Ia bahkan menggebrak meja. Di luar, sekretarisnya tampak takut, mungkin ada seseorang yang membuat atasannya marah. Mau menjenguk, ia takut kena semprot juga.


"Akhirnya setelah menunggu begitu lama, bisa juga makan malam bersama Evellyn."


Satu hal yang dia syukuri, Saira tidak menjadi perempuan yang jual mahal. Bawaannya yang datar dan dingin ternyata ada gunanya juga. Ia akan menyiapkan suasana yang sangat romantis. Mana tahu Saira akan takjub dan khilaf untuk menerima cintanya.


"Permisi, Pak." sekretarisnya datang sambil membawa beberapa berkas yang perlu ditanda tangani. Namun, tangannya sedikit gemetar, bahkan ia tidak sanggup menatap atasannya.


"Kamu kenapa?" tanya Romeo bingung.


"Saya baik-baik saja, Pak."


Romeo tersenyum simpul. "Lalu kenapa tanganmu tampak gemetar seperti ini?"


"Ah, itu bawaan lahir Pak."

__ADS_1


"Saya belum pernah melihat sebelumnya."


"Sejujurnya saya mau jujur sama Bapak, saya mendengar dentuman meja dan saya tahu, bapak sedang marah. Saya sangat takut dan panik."


Tawa Romeo pecah seketika, bahkan hidupnya akan penuh warna jika sekretarisnya semenghibur ini. Andai gadis itu tahu dia sangat senang hari ini. Tapi dibiarkan saja akan jauh lebih baik, supaya ia bisa dikenal sedikit garang.


"Ya sudah, kamu boleh keluar."


"Terima kasih, Pak." gadis itu bahkan tidak sabar menunggu kakinya sampai ke depan pintu.


"Raya!" panggil Romeo datar berhasil membuat kakinya sedikit gemetar. Bahkan saat tubuh itu berbalik, wajahnya kaku.


"Iya, Pak. Ada yang Bapak perlukan lagi?"


"Baik, Pak."


Raya merutuk setelah berada di luar ruangan, ia bisa berbuat aneh jika sedang dilanda panik dan cemas. Saat ini kecemasannya sangat berlebihan, satu hal yang sangat ia takuti saat ini adalah, kopi pesanan Romeo. Haruskah ia menyuruh OB hang membuatnya, tapi jika takarannya tidak pas, maka hidupnya akan segera berakhir. Kepalanya terlihat menggeleng beberapa kali.


"Tidak, ini sangat penting, aku saja yang membuatnya."


Pada akhirnya, ia yang memutuskan membuat kopi tersebut dan segera mengantar ke ruangan Romeo.


"Silakan, Pak. Dinikmati kopinya. Saya permisi."

__ADS_1


Romeo segera mencicipi kopi tersebut. Sedangkan Raya sudah tidak sabar ingin segera keluar dari kandang macan yang kapan saja bisa mengamuk dan menyebabkan ia dalam kesulitan.


"Raya!" kembali namanya terdengar.


Entah kenapa seolah malaikat maut sedang berdiri di belakangnya sambil mengayunkan sebilah pedang tajam.


"Saya, Pak." cicitnya dengan wajah kaku.


Romeo ingin sekali tertawa dan mungkin akan berguling di lantai saat melihat wajah sekretarisnya yang menggemaskan. Entah ini akan menjadi sebuah hobi untuknya mencari hiburan.


"Kopinya sangat enak, kapan-kapan buatkan lagi yang rasnaya seperti ini. Jangan kurang dan jangan lebih."


"Baik, Pak. Apa saya boleh keluar sekarang." cicitnya.


"Silakan."


Gadis itu mengembuskan napas lega sesaat setelah keluar dari ruangan tersebut. Rasanya ia mau mati sejenak karena tidak bisa bernapas dengan leluasa. Bayangkan satu ruangan dengan orang yang baru saja mengamuk dan nyawanya bisa saja melayang tiba-tiba tanpa ia persiapkan terlebih dahulu. Mungkin kesannya agak lebai, tapi itulah kenyataannya.


 


Guys, Jujur cerita ini masih puanjang banget. kalian mau kuterusin di sini atau kubuatkan lapak baru dengan judul yang sama. Panjang naskahnya 150 ribu kata. dan yang ku tulis masih 50 ribu kata 🤣🤣.


Istri Lemah Menjadi Kuat Season 2.

__ADS_1


__ADS_2