
Tubuh Saira dibaringkan di atas ranjang. Pria itu memandangi wajah yang sudah sangat dia rindukan dengan intens. Melepas penutup wajahnya dan segera ikut berbaring disamping Saira. Deru napas gadis itu selalu mampu membuatnya memimpikannya siang dan malam.
Semenjak ingatannya kembali beberapa minggu yang lalu. Ia segera mencari keberadaan Saira dan ingin meminta maaf. Gadis yang sangat dia cintai terluka karena perbuatannya sendiri. Hal itu semakin membuat pria itu sangat terluka.
"Sayang, maafkan aku karena harus menculikmu seperti ini. Aku hanya ingin kita memiliki waktu untuk berdua saja." bisiknya sambil mengecup lembut kening Saira.
Ia terus menunggu sampai reaksi obat tersebut menghilang. Sekitar dua jam, akhirnya Saira sadar. Ia ingat ada seseorang yang menculiknya. Hal tersebut membuat Saira bangun dalam keadaan kepala masih pusing.
"Aww," ringis Saira sembali memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
Dia datang membawa minuman ke kamar dengan memakai topengnya. Ia sangat merindukan wajah Saira saat bengis. Apalagi ia sedang diculik, sudut bibirnya sedikit terangkat tapi segera dia hilangkan. Saira menyadari kedatangan pria itu dan hanya menatap datar.
Tidak lupa, pria itu menyodorkan segelas air pada Saira tapi segera ditepis kasar sampai gelasnya pecah. Ia mengambil sesuatu dari laci sedangkan kesempatan itu digunakan Saira untuk kabur. Namun, sayangnya pintu kamar sudah dikunci. Hal itu membuat Saira sangat kesal bukan kepalang.
__ADS_1
Pria itu segera menghampiri Saira dengan dua buah tali yang seratnya sangat halus. Saira mencoba melawan tapi tetap saja tenaga pria itu, lebih kuat darinya. Tubuhnya dibawa ke ranjang dan diikat olehnya.
"Siapa pun kau, aku pasti akan membalasmu jika berani menyakitiku!" teriak Saira membabi buta.
Pria itu mengisyaratkan agar Saira diam. Ia segera melepas baju yang membungkus di badannya samoai hanya menyisakan celana bokser. Hal tersebut tentu saja membuat Saira panik. Ia menyumpahi pria itu jika berani berbuat tidak senonoh padanya.
Dia menjilat bibirnya saat menatap Saira. Tentu saja perbuatannya membuat Saira jijik.
"Lepaskan saya, brengsek!" teriak Saira membuat pria itu tertawa. Tapi sedetik kemudian rautnya berubah datar.
"Siaoan! Lepaskan aku, aku bersumpah akan membunuhmu!"
Pria itu mulai membelai wajah Saira, sampai mendapatkan ludahan. Ia tidak marah, membersihkan dan kembali dengan kegiatannya. Karena rasa rindunya sudah sangat memuncak sampai tidak bisa ditahan lagi.
__ADS_1
Ia mencium kedua bibir ranum Saira yang mendapat gigitan ganas dari gadis itu. Perbuatan Saira sampai membuat bibirnya berdarah. Rasa asin mendominasi tapi tidak membuatnya mengurungkan niat. Ia kembali menyatukan bibirnya dengan milik Saira meski gadis itu berusaha menutup bibirnya. Pria itu tersenyum melihat perlawanan Saira.
"Kau adalah milikku," bisik pria itu membuat Saira kembali marah.
"Aku tidak sudi menjadi milikmu, sialan!"
"Tapi sebentar lagi, kau akan menjadi milikku sayang, apa kau bisa merasakannya?" bisiknya sensual saat miliknya yang sudah berdiri menyentuh perut Saira.
Saira menangis karena sebentar lagi ia akan ternoda oleh pria yang tidak dia kenali sama sekali. Ia juga membenci pria itu karena menghapus air matanya.
"Tolong, lepaskan saya. Apa pun yang kamu minta, akan saya penuhi." isaknya .
"Aku sudah memiliki segalanya, hanya dirimu yang belum kumiliki." ia masih berbisik serak.
__ADS_1
------
Ekhem ekhem.... mendadak sakit perut.