Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Introgasi Romantis


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang kau lakukan sama mereka berdua?" tanya Romeo sambil mengipasi kaki Saira yang ia letakkan di pahanya.


Saira sedikit tersentak saat pria itu mengangkat lembut kakinya dan mengipasnya dengan sangat hati-hati. Semua usaha itu memang mampu mengurangi rasa perih yang menderanya. Lalu seketika ia dikagetkan oleh suara bariton milik pria itu.


"Kau menanyakan apa barusan?"


Romeo tertawa mengejek sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Apa yang kau lakukan pada keduanya?"


"Oh itu, kau tahu mereka berdua sangat menyebalkan. Kalau kau mendengarnya langsung dariku, gigimu pasti akan bergetar."


"Memangnya apa yang mereka lakukan?" tanya Romeo masih dengan nada yang bersahabat.


"Si wanita tadi namanya Viya, dia selalu menyiksaku dengan memberiku segunung berkas. Kau tahu, itu adalah pekerjaannya, tapi dia selalu merecokiku. Bahkan tempo lalu aku lembur karenanya. Terakhir aku marah karena dia memarahiku lantaran menampar Tedy, pria kurang ajar yang tadi bersamanya. Saat itu kakiku sangat sakit dan menyuruhnya untuk tidak membahas hal yang sudah jelas jawabannya. Tapi dia tidak mendengarnya, alhasil aku mengancamnya dengan pisau kater."

__ADS_1


Tangan Romeo sudah mulai bereaksi. Ia tampak mengepal dan meremas kipas yang ia pegang.


"Lalu pria tadi, kau tahu apa yang dia lakukan? Dia mencoba merabaku dan katanya aku harus bersyukur karena dia tertarik padaku."


Cukup sudah kesabaran Romeo, ia segera menghentak meja dan memukulnya dengan keras. Amarah segera memenuhi rongga dadanya sehingga terlihat naik turun. Ia segera menekan sebuah tombol yang menghubungkan dengan sekretarisnya.


"Kau ini, cepat sekali emosi." ejek Saira sambil mengaduh kesakitan karena kipas yang dipegang Romeo menyentuh bagian yang terluka.


"Maaf, maaf! Aku tidak bermaksud melukaimu," ucap Romeo sembari mengusap lembut dan meniup bagian itu. Dengan pelan ia menurunkan kaki jenjang milik Saira yang sangat lembut tanpa bulu.


"Panggil Tedy dan Viya ke ruangan saya segera!"


"Baik, Pak."

__ADS_1


Selang beberapa waktu, Keduanya tampak datang dengan wajah congkak menatap Saira yang menunduk. Mereka yakin, gadis itu sudah kena sembur. Bisa jadi kabar baiknya malah dikeluarkan dengan tidak hormat. Itulah pikiran mereka saat memasuki ruangan tersebut.


"Silakan duduk," ucap Romeo datar. Wajahnya bahkan tidak bersahabat sama sekali dan mereka tidak menyadari akan hal itu karena terlalu terpaku pada Saira.


"Saya sudah mendengar ceritanya dari Lyn dan sebagai pemimpin perusahaan ini. Saya malu mempekerjakan kalian sebagai kayawan di sini. Di luaran sana masih banyak yang lebih kompeten dan sangat mampu mengampu posisi kalian."


Mereka awalnya mau senyum. Namun, seketika berubah saat mendengar kalimat panjang yang dilontarkan oleh Romeo.


"Pak, apa yang dia katakan tidaklah benar, kami pasti sudah difitnah."


Keduanya masih mencoba mengelak. Lalu Saira memainkan sebuah pesan suara yang mampu membuat dunia keduanya runtuh seketika. Keduanya syok dan menatap Romeo dengan wajah pucat pasi. Mereka memohon maaf dan menatap Saira masih dengan tatapan tajam. Sebelum beberapa detik kemudian mereka bersikap manis. Saira tersenyum miring melihat keduanya yang masih tidak menyadari juga kesalahannya.


 

__ADS_1


Ratu licik dilawan ya mampus lah kalian wkwkwkwkwk....


__ADS_2