
"Bibi, jangan kasar pada Mama saya!" marah Chloe yang tidak terima atas tindakan Halena. Sedetik kemudian ia juga mendapat sebuah tamparan yang berasal dari Alyne.
"Jangan berteriak di depan orang yang lebih tua."
"Kamu ... Beraninya menampar putri saya, memangnya kamu siapa hah! Siapa kamu sampai berani menampar putri saya!" Tasma terlihat marah, apalagi pipi putrinya sampai memerah.
"Dia hanya orang asing," jawab Saira santai.
"Kamu dengar apa yang Eve katakan, kamu hanya orang asing!"
Tasma tampak senyum meremehkan Alyne yang menatapnya dengan biasa saja.
"Tapi orang asing itu lebih baik dari kalian yang statusnya saudaraku!"
Senyum Tasma perlahan memudar mendengar ucapan Saira. Ia melihat gadis itu sedang menatapnya dingin. Bahkan kemarahan terlihat jelas di matanya yang berwarna terang. William juga melihat pada Tasma dengan marah.
"Apa sudah selesai?"
__ADS_1
"Bawa mereka masuk!" teriak Saira dari ruang tamu.
"Baik, Nona."
Asisten rumah tangganya segera membawa dua orang polisi bersama satu orang pria yang menjadi saksi kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Saira segera menyapa keduanya dan menatap tajam pada pria itu.
"Nona Eve, apa benar pria ini yang Nona lihat sesaat sebelum Anda pingsan setelah kecelakaan?" tanya salah satu dari mereka yang bernama Anthony.
"Benar, Pak."
"Kami menangkapnya saat dia hendak melarikan diri." terang pria itu.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab kami, Nyonya."
"Pak, silakan bawa dua orang ini juga dari rumah saya!"
Mereka berdua segera digiring ke kantor kepolisian tanpa perlawanan. Karena semua sudah percuma, kejahatan mereka sudah terbongkar dengan apik. Namun, terakhir ia menatap Saira tajam dan menggumamkan sesuatu yang membuat Saira tersenyum.
__ADS_1
"Bukan aku yang akan menyesal, tapi kalian! Tahu kenapa? Karena kejutannya ada di jeruji besi. Bibi akan segera mengetahuinya nanti."
Bisik Saira dan segera menutup pintu utama.
William masih tampak tidak percaya atas apa yang dilakukan oleh adiknya sendiri. Meski mereka hanya berstatus sebagai saudara tiri. Tapi William sangat kenyayangi Taa. Bahkan ia selalu menuruti keinginannya saat mereka masih remaja. William juga sangat memanjakan Tasma seperti adiknya sendiri.
"Will, kamu pasti kecewa kan?" tanya Halena lembut.
"Aku terluka Lena, adik yang kujaga selama ini malah mencelakai putriku sendiri. Apa salah Eve padanya." William masih tidak habis pikir dengan pola pikir Tasma.
"Salahku hanya satu Pa," ucap Saira pelan.
Halena dan William tampak serius mendengarkan kelanjutan ucapan Saira selanjutnya.
"Aku ahli waris dari kekayaan William. Itu masalahnya."
William tampak terperanjat mendengar ucapan putrinya. Jika itu masalahnya, itu berarti Tasma mengincar kekayaan yang akan ia wariskan pada Evellyn. Belum lagi jika Eve meninggal maka kekayaannya akan jatuh kepada keponakannya, yakni Chloe. Rahangnya seketika mengeras mengetahui semua itu. Tanpa mereka bernuat seperti ini, William juga akan memberikan mereka harta yang tidak akan habis meski mereka foya-foya. Ia juga sudah membelikan sebuah rumah mewah untuk ditinggali oleh keduanya.
__ADS_1
"Papa benar-benar tidak menyangka pada jalan pikiran mereka Lena." desah William sedih.
-------