
Romeo menemui Halena dan William secara pribadi sembari mengutarakan niatnya. Ia harus mengutarakan dengan cepat keinginan hatinya sebelum gadisnya diambil oleh pria lain. Awalnya ia ingin melamar Saira akhir tahun. Namun, menunggu sampai bulan Desember terlalu lama apalagi ia bersaing dengan suami di masa lalu kekasihnya. Isi hati tidak ada seorang pun yang tahu akan seperti apa nantinya.
"Paman, Bibi, kedatangan saya kemari menyangkut Evellyn. Saya ingin segera melamarnya dan melangsungkan pernikahan."
"Kami sangat menyetujui jika dirimu yang menjadi suaminya karena kami berdua sangat tahu siapa keluargamu serta kami mengenalmu dengan baik."
"Apa kalian menyetujuinya?"
"Kami akan selalu memberikan restu kepada kalian asal kalian berdua sama-sama saling mencintai."
"Terima kasih, kami berdua memang sangat mencintai Paman."
"Syukurlah kalau begitu, kami berdua sangat senang mengetahuinya."
Restu dari kedua orang tua Saira sudah ia dapatkan, setelah ia resmi melamar Saira mereka akan melangsungkan pernikahan sebulan kemudian lalu mengembangkan perusahaan yang berada di Indonesia. Perusahaan itu adalah salah satu warisan dari ayah Romeo dan ia wajib menjaga dan membuatnya berkembang pesat. Dengan bantuan Saira, semua akan segera terwujud.
__ADS_1
"Kenapa dia duduk di kursi milik Lyn?" tanua mereka heran.
Bahkan tidak hanya satu atau dua mata yang menatap penasaran tapi banyak. Ada urusan apa gadis cantik sepertinya duduk di kursi milik Lyn. Mereka berharap gadis yang biasa memakai pakaian nyentrik itu segera datang dan menegur gadis tersebut.
"Kenapa meninggalkanku di parkiran!" dengkus Alyne menatap Saira kesal.
Mereka kembali menatap Alyne dengan tatapan mengaga lebar. Apa kedua gadis ini sedang menyasar ke kantor mereka atau sedang lupa ingatan. Kenapa keduanya sampai berada di sana.
"Mohon maaf sebelumnya, tapi anda berdua ini siapa?" tanya Elca penasaran.
"Kenapa kau tidak mengenali kami berdua." mereka menjawab dengan serentak.
"Ini aku Lyn dan dia ini Ae, masa tidak mengenali kami." kekeh Saira.
"Jangan bercanda," ucap Elca tidak yakin dengan apa yang barusan ia dengar.
__ADS_1
Saira menyebutkan nama panjang Elca dan menyebutkan hobi serta makanan kesukaannya. Sampai tempat nongmrong dan nomor kursi. Mulut Elca dibekap dan mendadak takjub dengan perubahan keduanya.
"Jadi ... jadi kalian ini benar-benar Lyn dan Ae?" tanyanya sambil menunjuk keduanya secara bergantian.
Alyne mengangguk dan tertawa melihat ekspresi lucu yang sedang ditampilkan oleh Elca.
"Kau ini lucu sekali kalau sedang syok. Wajahmu sangat menggemaskan Elca. Inilah kami yang sebenarnya."
"Jadi dia ini tunangan yang dibicarakan oleh orang-orang yang suka julid itu?" Alyne mengangguk dan Elca sangat senang mengetahuinya. Ia tidak sabar melihat ekspresi ketiganya yang akan segera mati kutu.
"Aku nggak sabar ingin lihat ekspresi ketiga nenek lampir itu."
Saira tertawa mendengar julukan yang diberikan gadis itu kepada mereka bertiga. Mungkin ia harus merayakan gelar tersebut bersama ketiganya.
"Kau ini bisa saja, El."
__ADS_1
---------
Siang ditemani sama kesua bocah ini kura kura bakalan ngebosenin nggak? terua kenapa juga kalian selalu merasa kena gantung 🤣🤣🤣🤣 wong aku terkenal tukang gantung kok 🤣🤣🤣