Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Sosok Penenang


__ADS_3

Alvin menyodorkan sebuah kopi hangat kepada Izora, ia terpaku dengan wajah pucat dan tubuh kurus. Seingatnya, pertama kali bertemu Izora tidak sekurus ini.


"Terima kasih," ucap gadis itu pelan.


"Sama-sama."


"Zora, apa kamu baik-baik aja?" tanya Alvin lembut sekaligus khawatir.


"Menurutmu bagaimana?" ia kembali melempar pertanyaan dan bibir Alvin terasa kelu. Lalu sebuah gelengan terlihat dari kepalanya, membuat gadis itu tertawa kecil. Selepas itu, air mata perlahan jatuh dan ia tergugu.


Alvin sontak kaget dan melihat tatapan beberapa orang yang seolah menghakiminya. Ia mengelus pundak Izora, gadis itu terlihat sangat rapuh.


"Alvin, aku sangat lelah dengan hidupku."


Ucapan yang keluar dari bibir tipisnya berhasil membuat Alvin khawatir dan jantungnya berdetak tidak karuan. Sebenarnya apa yang sudah kamu lalui, pikirnya. Jika gadis itu menangis seperti sekarang, artinya ia tidak bisa lagi menahan segalanya.


"Menangislah, lepaskan semuanya."


Ia memeluk tubuh kurus Izora dan mengusapnya dengan penuh kelembutan. Jika sedikit saja gadis itu terkena sentuhan kasar, maka akan hancur. Hati pria itu sudah terpaut dengan Izora sejak pertama kali mereka berjumpa. Ia masih ingat, bagaimana gadis itu mengabaikan ketampanannya dan seolah cuek dan tidak mau ambil tahu tentangnya.


"Terima kasih," ucap Izora setelah tangisnya selesai.


"Apa kamu mau cerita sesuatu? Beban itu nggak boleh ditanggung sendirian, nanti jadi penyakit."

__ADS_1


"Aku tahu, tapi tidak ada yang bisa kujadikan sandaran."


Mata Alvin seketika berbinar mendengar kalimat itu. "Jadikan aku sebagai sandaranmu."


Tidak ada keraguan sedikit pun di setiap kalimatnya. Bahkan kebohongan juga tidak dibiarkan berkelana di bola mata yang menatapnya dengan binar. Pria itu seolah sosok yang selama ini ditunggu olehnya. Izora tampak menimbang sesuatu, tidak ingin memberikan ruang kepada siapa pun untuk menyakitinya kelak. Namun, pria itu terlihat sangat tulus.


"Sekali lagi terima kasih."


Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari bibir tipisnya. Ia bahkan tidak akan pernah bosan mengucapkannya. Alvin tersenyum mendengarnya. Malam itu ia akan membuat gadis itu tidak akan lagi merasa sendiri.


"Apa kamu mau tambah?"


"Nggak usah, ini aja masih banyak."


"Sudah jam sepuluh, kalau aku makan malam akan menimbulkan banyak lemak jahat."


"Tapi kamu sangat kurus, perhatikan juga kesehatanmu. Jangan sampai sakit, aku akan sedih melihatmu seperti ini."


Jantung Izora berdegup kencang mendengar sebaris kalimat yang diucapkan pria itu. Ini kali pertama dia merasa sudah dicintai setelah sekian lama. Ia tersenyum ke arah Alvin dan pria itu terpukau dengan kecantikan yang dimiliki Izora. Senyuman yang selama ini disembunyikan oleh si pemilik.


"Kamu sangat cantik," ucapnya tanpa sadar.


"Jangan menggodaku seperti itu."

__ADS_1


"Tidak, aku mengatakannya dengan tulus. Kamu sangat cantik kalau bibirmu selalu menghias senyum seperti ini."


Wajah Izora merona malu, baru kali ia ia merasakan tulusnya sebuah cinta. Jika dulu bersama Aksa, ia hanya berpikir jika cinta keduanya bukanlah yang sebenar. Karena setelah kematian Saira, hubungan keduanya kandas karena ingin menyembuhkan luka masing-masing. Gadis itu melihat jam yang melingkat di tangan kanan.


"Sepertinya kita harus pulang, Papa sendirian di rumah. Aku takut nanti dia mencariku," serunya.


"Ya sudah, ayo." ajak Alvin dan mereka segera meninggalkan kedai kecil itu.


"Terima kasih karena sudah mengantarku." Izora melambaikan tangan dan masuk dengan segera.


Alvin menatap kepergian Izora sambil tersenyum hangat. "Kuharap, senyuman akan selalu menghiasi bibirmu. Matamu tidak akan bersedih lagi."


Ia pun pergi meninggalkan halaman rumah tersebut. Tidak akan ada rasa lelah, letih untuk mendapatkan sebuah cinta dari gadis itu.


------


Buah semangka


Buah kedondong


Besok Puasa


Semangat dong

__ADS_1


Selamat menjalankan puasa bagi kalian yang beragama islam ya. Semangat!


__ADS_2