
Pria bernama Wali berusaha keras menghilangkan bukti mengenai kejahatan Wira. Dia yang berprofesi sebagai kepala kepolisian menerima berkas tersebut. Namun, sialnya sang anak buah mendokumentasikan penyerahan bukti tersebut tanpa dia ketahui sebelumnya. Bukan masalah percaya atau tidak. Namun, gadis itu sudah menyerahkan tanggung jawab sebesar itu kepadanya. Lagi pula pria itu sangat tahu sepak terjang laki-laki bernama Wali.
"Apa lagi yang kau tunggu? Apa ada yang mau kamu sampaikan kepada saya?" tanya pria tersebut.
"Tidak, Pak. Laporan saya hanya itu, tapi ada satu hal yang ingin saya tegaskan."
"Mengenai apa?"
"Mengenai berkas tersebut, Pak. Saya berharap Bapak akan mengurusnya dengan tepat."
"Saya adalah atasan kamu, saya jauh lebih paham apa yang harus saya lakukan, kamu tidak perlu mengajari saya mengenai hal itu!" matanya terlihat menatap tajam dan pria tersebut segera keluar. Setidaknya ia sudah memiliki bukti jika nantinya terjadi hal yang tidak diinginkan.
Pria itu segera menelpon Sara dan memberi kabar jika berkasnya sudah diserahkan kepada atasannya. Ia juga mengirim bukti yang sempat ia abadikan sesaat tadi. Saira menyimpan bukti tersebut, jika pria itu memberinya bukti seperti ini, bisa jadi kemungkinannya akan terjadi hal yang tidak ia inginkan.
__ADS_1
"Jika pria tua ini mencoba bermain-main denganku, dia akan merasakan akibatnya!" desisan tajam menggema dari bibirnya yang seksi.
Pria itu mengambil ponselnya lalu menghubungi Seseorang.
"Wira, saya sudah mendapatkan semua bukti kejahatan kamu, saya akan segera memusnahkannya dengan begitu posisi kita semua akan aman."
"Saya yakin kamu pasti mampu melakukannya, terima kasih Wali."
"Sama-sama," ucap pria tersebut dan segera mematikan panggilan. Tidak ada lagi hal yang ia cemaskan untuk saat ini. Yang perlu ia lakukan adalah meracuni otak Alvin agar mau menuruti semua kemauannya. Tapi jalannya tentu tidak akan pernah mudah, karena Saira akan segera menghidupkan bom yang memicu Alvin melawan kepadanya.
"Setidaknya biarkan aku menyeruput kopinya dulu Alyne," ucap Saira sambil menggelengkan kepala.
"Nikmati sepuasnya, aku akan menunggu dengan sabar asal rasa penasaranku bisa terobati." kekehnya dan segera menarik sebuah kursi.
__ADS_1
Saira segera menyeruput minuman tersebut sambil memainkan pulpen yang berada di tangannya. Ia menarik napas panjang dan menatap Alyne dengan serius.
"Mungkin apa yang akan kusampaikan terdengar tidak masuk akal di telingamu tapi itulah kebenarannya."
Mendengar hal tersebut membuat Alyne sedikit mengernyit bingung. Namun, ia mengangguk dan akan mencerna semua kalimat yang keluar dari bibir gadis yang saat ini masih memainkan ponselnya.
"Jangan menyelaku jika sedang berbicara."
Gadis itu mengangguk setuju dan Saira memulai menceritakan sebuah kebenaran. Yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang karena menurutnya, kisah hidupnya bukan sesuatu yang bisa dijadikan santapan publis.
"Namaku Saira."
Dua kata yang mampu membuat hantung Alyne berdegup kencang. Jika gadis yang biasa ia kenali sebagai Eve mengaku bernama Saira. Maka Izora adalah kakaknya, makam yang selama ini mereka kunjungi adalah makan dirinya. Alyne menatap tidak percaya ke arah Saira dan menatap gadis itu degan tatapan aneh.
__ADS_1
-------
Minal Aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. selamat hari lebaran semuanya,,, mohon maaf lahir dan batin ya.