
Pagi itu Saira bangun dengan napas ngos-ngosan. Ia memegang jantungnya yang berdegup kencang. Saira melirik ponsel disampingnya yang berbunyi. Ia segera mengambil lalu mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Saira datar.
"Saira ...."
Saira mengernyit heran mendengar orang tersebut memanggilnya seperti itu. Setahunya hanya tiga orang yang mengetahui ia sebagai Saira.
"Maaf Anda salah sambung!" Saira segeraematikan panggilannya. Namun, panggilan tersebut tetap masuk dan menganggunya.
"Sialan!" maki Saira dan kembali mengangkatnya.
"Saira ...."
Kembali panggilan itu didengar olehnya. Tentu hal itu membuat Saira sangat kesal. Apa orang itu sedang berniat main-main dengannya? Jika ia Saira akan memastikan pria itu menyesal karena sudah membuatnya kesal setengah mati.
"Katakan siapa dirimu? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni ketidakwarasanmu!"
"Aku pria yang pernah menyia-nyiakan istrinya." Suara terisak pelan mulai terdengar dari seberang.
__ADS_1
"Lalu apa hubungannya denganku!"
"Karena yang kusia-siakan itu adalah dirimu."
Saira sekarang mengerti siapa yang menelponnya. Ia tersenyum jahat. Ia akan membuat Aksa menyesal karena sudah menelponnya. Apa pria itu sudah tidak memiliki pekerjaan sampai harus menganggunya sepagi ini. Saura mendengkus kesal mengetahui fakta tersebut. Maka dari itu ia akan mengerjainya.
"Ahhh, Ahhhh, Romeo aku se-sedang menelpon," ucap Saira dengan napas dibuat terengah-engah.
"Ahhhhhhhhh, Romeo jangan, jangan merabanya, a-aku sedang menelpon." erang Saira dengan erotis.
Hal itu membuat Aksa yang berada di seberang telpon meremas keras ponselnya. Namun, ia belum ingin mematikan panggilannya karena sangat merindukan Saira. Ia akan mencoba menahan agar tidak terluka. Saira yang melihat panggilannya belum juga diakhiri menjadi sangat kesal. Apa Aksa menjadi pria tidak tahu malu? Kenapa malah enggan mematikan panggilannya.
"Ma-maaf, Romeo menyerangku, Ahhh, apa masih ada yang ingin kau sampaikan? Atau mau mendengar percintaan kami?" tanya Saira kembali dengan suara terengah dan terdengar sangat seksi.
"Ahhhhhhhhhhhhhhhhh, a-apa yang kau katakan, sayang jangan hentak kuat-kuat aku sedang berbicara." erang Saira dengan gusi mulai kering.
"Maaf menganggu waktu kalian." Aksa segera mematikan panggilannya. Hal itu membuat Saira lega. Ia segera keluar dari kamar dan di sana sudah ada Romeo yang menaikkan alisnya.
"Sedang apa?" tanya Romeo.
__ADS_1
"Mengerjai seseorang yang sangat menyebalkan. Kapan kau datang?" tanya Saira mengalihkan pembicaraan.
"Aku datang karena sangat merindukanmu, dia juga merindukanmu." bisik Romeo nakal. Saira segera menyentil keningnya sampai Romeo mengaduh kesakitan.
"Dasar mesum."
"Dan itu hanya bereaksi saat bersamamu."
"Ya ya Tuan penggombal, apa sudah sarapan?" tanya Saira lembut.
"Belum, tapi sayang ada yang mau kukatakan."
"Mengenai apa?" tanya Saira heran.
"Bisakah kita bicara di dalam saja?"
"Apa sepenting itu?" tanya Saira dan menuruti kekasihnya.
Mereka pun kembali masuk ke dalam dan Romeo langsung menyerang Saira dengan mencumbunya. Saira segera membalasnya dan suara decapan mereka memenuhi seluruh ruanganan itu. Saira segera mengalungkan tubuhnya ke tubuh Romeo dan pria itu duduk ke sofa dengan Saira masih melingkat di pinggangnya. Ciuman itu terus berlanjut sampai napas mereka berdua mulai terengah. Saira yang sangat mudah terpancing pun menginginkan yang lebih. Ia sudah sangat merindukan kebanggaan Romeo berada dalam genggamannya.
__ADS_1
Gais maaf aku baru update. Aku baru pulih hahahahahah maafkan yaw.