Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kepergian Mantan Mertua


__ADS_3

Saira merasa tubuhnya sangat lemas. Ia jatuh pingsan di ruang tamu dan Alyne sangat kaget. Ia segera membawa tubuh Saira ke rumah sakit dengan bantuan supirnya. Di sisi lain Wawa juga dilarikan ke rumah sakit akibat tekanan darahnya semakin tinggi dan berpotensi membahayakan nyawannya. Di sana mereka berdua sama-sama dilarikan menuju ruang perawatan. Tanpa sengaja Izora melihat sosok Aksa sedang tergesa-gesa menuju sebuah ruangan.


"Pa, tunggu sebentar di sini, Izora melihat Aksa berlari di sana."


"Cepat kembali ya Nak."


Izora menganguk dan segera menyusul Aksa yang memasuki ruang melati dua dan terkejut saat melihat Aksa terlihat sangat berantakan.


"Aksa, apa yang kamu lakukan di sini?"


Pria itu tampak menangis di depan pintu, kening Izora berkerut.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Mama, Zor, Mama meninggal dunia." isaknya terlihat sangat hancur.


Izora juga ikut menangis mendengar kabar tersebut. Ia tidak menyangka wanita yang sudah menganggapnya seperti putri sendiri sudah pergi secepat ini. Ia memeluk Aksa untuk memberinya kekuatan.


"Aksa, dengar! Kamu harus kuat buat adik kamu, Tya pasti sangat membutuhkanmu."

__ADS_1


"Aku tidak tahu Zora, baru saja kemarin Mama bersamaku tapi bahkan aku tidak melihat saat terakhirnya."


"Aku akan membantumu mengurus pemakaman Tante," ucap Izora.


"Terima kasih, hatiku sangat rapuh Zora. Tidak ada lagi yang membuatku semangat menjalani hidup ini."


"Aksa, kamu jangan berbicara hal aneh. Pikirkan Tya."


Izora mengajak Aksa untuk melihat jenazah Rita. Menemaninya masuk ke dalam dengan linangan air mata. Kaki Aksa bahkan tidak bisa berdiri dengan tegak saat tubuh yang terbaring kaku di hadapannya. Seutas kain putih menutup setengah dari badan.


"Mama, kenapa ninggalin Aksa. Aksa belum memenuhi keinginan terakhir Mama. Tolong buka mata, Ma."


"Menangislah, Aksa." bisik Izora dengan suara serak.


Di lain ruangan Saira sudah siuman dari pingsannya. Tubuhnya terlalu diforsir dengan berat sehingga kehilangan keseimbangan. Ia melihat sekitar ruangan yang terlihat sangat asing. Ia ingat, terakhir lantai dingin yang menyambutnya.


"Syukurlah kamu sudah sadar, aku sangat takut Eve." Alyne berkata dengan khawatir.


"Kenapa harus membawaku ke sini?" tanya Saira tidak nyaman.

__ADS_1


"Habisnya kamu pingsan dan aku panik, makanya membawaku kemari mana tahu ada sesuatu yang berbahaya hinggap di tubuhmu."


"Kau ini ada-ada saja. Lalu apa kata dokternya?" tanya Saira masih dengan suara lemah.


"Kamu terlalu kelelahan, dan selama dua hari ini diharuskan istirahat total untuk mengembalikan tenagamu." beritahu Alyne.


"Pasti akan sangat membosankan," keluhnya berhasil membuat Alyne melotot tak suka. Saira tertawa melihatnya.


Alyne terlihat sedang menimbang sesuatu, apakah harus memberitahu atau tidak. Namun, jika disembunyikan gadis itu pasti akan marah padanya. Itu merupakan hal terakhir yang tidak ingin dia alami.


"Ada apa? Wajahmu tampak tidak baik-baik saja, apa kau juga ikutan sakit?"


"Bukan begitu, em ibunya Pak Aksa baru saja meninggal dunia!"


Saira sedikit terkejut mendengarnya. Meski sejahat apa pun wanita itu dulu, ia pernah menjadi menantunya. Meski dibenci setengah mati.


"Di mana?" tanya Saira masih dengan lemah.


"Di rumah sakit ini, besok akan segera dimakamkan."

__ADS_1


---------


__ADS_2