Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Iri tanda tak mampu


__ADS_3

Beberapa pasang mata melihat interaksi keduanya dengan wajah iri. Kenapa dari sekian banyaknya gadis cantik di perusahaan itu, atasan mereka malah dekat dengan Saira. Bahkan cara berpakaiannya sangat jauh dari kata bagus. Lihatlah, rok sepanjang lutut dipadukan dengan kemeja kebesaran dengan rambut kepang dua. Jangan lupakan kaca mata besar membingkai kedua matanya.


"Kenapa sih, bos kita harus dekat sama dia? Pakai pelet apa coba."


"Iya, kamu benar, aku yakin dia pakai pelet, kalau enggak mana mungkin bos kita akan peduli dengannya. lihat tadi pagi, bahkan Pak Asthon sangat khawatir."


"Pak Asthon, apa Anda merasa saya telah memelet Anda?" tanya Saira keras-keras agar mereka yang tadi membicarakannya bisa mendengar dengan jelas.


"Tidak, bahkan aku yang memeletmu." kekehnya dan berhasil membuat mereka semua bungkam seribu bahasa.


Ini seperti dunia yang sudah terbalik 180° karena pria tampan lebih tertarik dengan dandanan yang biasa dan terkesan norak seperti pakaian yang dikenakan Saira. Andai mereka tahu siapa sosok sebenarnya dibalik tampilan yang mereka anggap sangat norak.


Saat hendak menaiki tangga yang terdiri dari tiga tingkatan Saira berpikir dengan keras. Bagaimana cara melewatinya. Ia takut terpeleset dan menyebabkan kondisi kakinya semakin parah. Romeo yang berdiri di sampingnya seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu segera menawarkan bantuan.


"Apa mau kubantu?" tanyanya.

__ADS_1


"Bagaimana caramu membantuku?" selidik Saira seketika menatap curiga. Di kepala pria itu hanya ada kata gendong, tidak ada yang lain.


"Ah, kamu sangat mengenal diriku," ucapnya terkekeh pelan.


Saira memutar matanya kesal, sedangkan Romeo yang sudah sangat gemas dengan tindak tanduk Saira, ia pun dengan segera menggendong Saira bride style. Gadis itu terpekik kaget karena tiba-tiba tubuhnya melayang.


"Apa yang kau lakukan, turunkan aku!"


"Jangan banyak bergerak, nanti jatuh, mau?" tanya Romeo dengan kenakut-nakuti gadis itu.


Tentu saja Saira menggeleng. Dia tidak mau lagi terjatuh, lalu ditimpa tangga. Cukup kakinya saja yang keseleo. Jangan seluruh badannya. Bahkan dipakai berjalan saja rasanya sangat nyeri dan menyakitkan. Bayangkan jika kembali jatuh, maka tamat sudah kakinya.


"Iya, ini terakhir kalinya tapi tidak janji."


"Dasar pria menyebalkan. Awas kalau kau mengambil kesempatan lagi."

__ADS_1


Romeo hanya tertawa melihat kemarahan Saira yang menurutnya lebih terlihat menggemaskan dari pada menakutkan. Segala sesuatu yang menyangkut gadis itu selalu membuatnya bahagia. Entah resep apa yang digunakan gadis itu.


"Eve, kamu kenapa? Sampai pakai kruk begini?" bisik Alyne setelah mereka keluar dari lift. Saat itu Alyne sedang mengantar berkas ke ruangan manajer dan bertepatan dengan kemunculan Saira bersama Romeo.


"Jatuh, kepeleset di bawah."


"Ini pasti ulah si nenek sihir itu, tapi dia sudah kukasih pelajaran." bisiknya dengan suara bangga.


"Kalau dia ngadu sama Pak Asthon gimana?"


"Nanti kupikirkan, palingan dia akan memecatku."


Romeo mendengar percakapan mereka yang terdengar bisik-bisik. Ia tahu siapa yang salah tapi juga harus menegur Alyne agar tidak main hakim sendiri. Harusnya gadis itu mengajaknya juga.


"Ayo, kubantu sampai ke meja." Alyne mengambil alih tugas Romeo menuntun Saira. "Terima kasih, Pak. Sudah mengantar teman saya dengan selamat, sehat dan masih berdiri meski dengan satu kaki."

__ADS_1


------


Setan apa yang bisa terbang?


__ADS_2