Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Menghangatnya Hati yang Beku


__ADS_3

Romeo bangun dan memberi ruang untuk gadis itu duduk, ia mengambil kaki Saira ke pangkuannya dan meniupnya beberapa kali. Ia juga menyentuh dengan lembut. Salahnya karena terlalu terpancing dengan keadaan yang sangat mendukung.


"Apa masih sakit?"tanyanya.


"Sudah lumayan berkurang sakitnya," ucap Saira.


"Maafkan aku ya, aku sampai kelepasan."


"Aku juga salah, jadi tidak perlu meminta maaf. Lagi pula kita berdua terbawa suasana." Saira berusaha menanggapi dengan santai.


Saira melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Ia tidak tahu entah berapa lama keduanya menghabiskan waktu di sana yang pasti sangat lama.


"Kita harus segera pulang, Alyne pasti mencariku dan menunggu dengan cemas."


"Dia tidak akan cemas karena tahu kau pergi denganku."


"Semoga saja begitu."


Romeo memperbaiki pakaian, lingganya masih terangsang. Namun, prioritasnya sekarang adalah mengantar Saira dengan selamat.


"Apa rambutku masih acak-acakan?" tanya Saira membuat Romeo tersenyum.


"Sebentar biar kurapikan." ia menyisir rambut Saira menggunakan jarinya sampai terlihat rapi kembali.


"Sudah lebih baik dari yang tadi." kekehnya.

__ADS_1


Saira mendengkus kesal tapi tidak bisa ia pungkiri jika ada sebagian dari hatinya menghangat. Hidup bersama Aksa banyak memberinya luka, di kelilingi oleh keluarga yang selalu melempar tatapan benci dan jijik. Terkadang membuat Saira lupa bagaimana caranya bahagia. Namun, semenjak kehadiran Romeo ia kembali merasakan sedikit kebahagiaan dari hal yang sederhana.


Saira merasakan tubuhnya melayang saat kedua tangan Romeo mengangkat Saira. "Bawakan tongkatmu Eve, tanganku cuma dua."


Ia masih sempat mengajak Saira bercanda. Hal -hal sederhana yang dia lakukan selalu berhasil menyembuhkan lukanya secara perlahan. Saira terus memandangi Romeo dengan lekat tanpa berkedip sama sekali dan hal itu membuat Romeo senang.


"Aku sangat tampan, kan."


"Biasa saja, hanya menang wajah doang."


"Ya baiklah, yang penting kamu menyukai wajahku."


Keduanya terus bercengkrama sepanjang perjalanan menuju lobbi. Satpam yang selalu berjaga di sana menyapa keduanya dan Romeo selalu memberi gaji setimpal dengan pekerjaan pria paruh baya itu.


"Malam, Pak."


"Kaki Ibu Eve kenapa Pak."


"Terpeleset pak dan dia ngotot ingin lembur."


Saira menatap tajam ke arah Romeo yang melempar senyum pada Pak Umar.


"Wah, Bu Eve panutan sekali. Meski pun kakinya sedang cidera tapi tidak melupakan tanggung jawabnya."


"Ya begitu lah Pak Umar, apalagi kalau dia bisa dijadikan istri."

__ADS_1


Belum sempat Pak Umar membalas ucapan Romeo. Saira kencubit pria itu dengan keras.


"Pak Umar, jangan mendengarkan ocehan Pak Asthon. Beliau kadang suka ngelantur. Kami pulang dulu ya Pak."


Romeo mengaduh kesakitan tapi Saira menutup mulutnya. "Diam, nanti Pak Umar dengar, cepat ke mobil."


Romeo menggeleng melihat kelakuan Saira jika mode galaknya sedang aktif. Seluruh tubuhnya bisa membiru dan bayak tonjolan merah di segala sisi.


"Pak, kami izin pulang dulu, Mari!"


Di sinilah Saira saat ini, di depan kediamannya dan seperti dugaannya. Alyne menunggu dengan khawatir di ruang tamu.


"Kemana saja?" tanya nya.


"Habis makan malam terus cerita sebentar dan lupa waktu."


"Kamu ini, tidak bisakah mengabariku agar aku tidak cemas."


"Maaf, ponselku mati lain kali akan kuberitahu."


"Tunggu, kenapa lehermu merah-merah?"


"Ah, anu itu hanya ruam biasa. Sudahlah jangan diperhatikan." Saira sampai salah tingkah.


"Alyne, kalau kamu jadi laki-laki, pacarmu akan merasa bahagia karena kamu sangat perhatian." Romeo menimpali dan membuat Alyne jengkel.

__ADS_1


Keduanya seperti perpaduan dua insan yang selalu berhasil membuatnya kesal tapi terihat serasi.


 


__ADS_2