
Sudut bibir Saira terangkat dan ia tersenyum sinis. Sekarang mereka memanggil Saira sebagai putri dan semua itu terjadi setelah ketiadaannya. Manusia memnag suka melakukan hal yang tidak berguna. Selagi ada di sia-siakan, setelah tiada dirindukan setengah mati.
"Saya sahabatnya," ucap Saira datar tanpa berniat berbalik arah. Ia segera meninggalkan kedunya yang tampak masih kebingungan.
Alyne tampak mengamati interaksi mereka bertiga yang terlihat sangat aneh. Yang aneh adalah saat Saira melihat kearah mereka. Tatapannya tidak bersahabat sama sekali dan itu membuat Alyne kembali bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya. Ia tahu jika Saira memang sosok yang dingin tapi tatapannya tidak pernah sedingin itu. Ia bahkan seperti menyimpan sebuah luka yang tidak kasat mata.
"Alyne, ayo pergi!"
Ia segera memasuki mobil dan Alyne mengikuti langkahnya. Gadis itu segera menjalankan mobil menuju sebuah taman. Alyne dan Saira segera turun dan mereka tampak menikmati suasana di sana dengan tenang. Saira ingat, dulu sehabis pulang kuliah, ia akan berlari ke taman ini. Lalu ada seorang pria yang mencoba menghiburnya. Ia tersenyum miris saat mengingat betapa sulit kehidupannya dulu. Di dunia ini ia bahkan memiliki semuanya. Namun, rasanya sebatang kara.
"Apa kamu baik-baik saja Evellyn, dari tadi wajahmu tampak sedang menahan sesuatu." Alyne akhirnya berani berbicara.
__ADS_1
"Kalau kubilang baik-baik saja, apa kamu akan percaya?" Saira melihat ke arah Alyne yang tampak menggeleng.
Saira menarik napas dengan berat dan memejamkan matanya, sebulir air mata jatuh perlahan ke pipinya. Semua kembali teringat dan mencekam hatinya yang berdenyut nyeri. Alyne hanya menjadi pemerhati saja karena sejauh ini, ia tidak mengenal Saira dengan baik.
"Menangislah jika semua bisa mengurangi bebanmu." hanya itu yang mampu ia ucapkan sebagai 'teman'.
"Terima kasih, Alyne." Saira berujar tulus.
"Sama-sama Evellyn," ucap Alyne.
Di tempat pemakaman Saira, wajah Wawa sudah dibanjiri air mata. Putrinya seolah menghukumnya bahkan tidak menyisakan satu hal pun untuk bisa mereka kenang. Semua hal yang menyangkut dirinya, raib tidak bersisa.
__ADS_1
"Sayang, kamu apa kabar di sana? Mama sangat merindukanmu, apa kamu merindukan Mama juga?" bahu Wawa tampak bergetar dengan hebat. Andri sendiri tidak kuasa menahan kesedihan, kerinduan dan penyesalannya selama ini. Ia tahu bahwa kata pepatah memang benar. Tidak ada sesal yang lahir di awal melainkan di akhir untuk memberikan manudia sebuah pelajaran berharga. Mereka sudah menyia-nyiakan putri yang begitu baik, hanya karena sebuah kesalahan yang masih bisa dimaafkan. Tapi hati mereka keras seperti batu. Menyisihkan ia sendirian melawan kerasnya kehidupan sampai maut menjemputnya dengan bahagia.
"Sayang, meski jutaan kali Mama memohon maaf atas segalanya, tetap saja kerinduan ini semakin menyiksa. Apa yang harus Mama lakukan untuk mengobatinya." isaknya terdengar sangat memilukan.
"Ma, sudah jangan menangis lagi, nanti Mama jatuh sakit lagi." tegur Andri sambil mengusap pelan bahu istrinya.
"Pa, Mama mau pulang, Saira tidak mau menjawab Mama." isaknya.
Andri sangat sedih melihat kondisi istrinya yang selalu memburuk jika menyangkut Saira.
-------
__ADS_1