Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Menjenguk


__ADS_3

"Awalnya sama Tanteku, hanya saja tabiat Pamanku tidak baik. Dia mata keranjang dan sering mau menjahiliku, terakhir dia memainkan drama dan berakhir lah aku di rumahku yang sekarang."


"Terus apa kamu bebas dari Pamanmu?" tanya Saira dengan geram.


"Tentu saja tidak, itu semua bahkan membuatnya lebih leluasa datang ke rumah, apalagi kediamanku jauh dari keramaian."


"Apa kamu tidak ingin memberinya pelajaran?" tanya Saira.


"Apa dayaku Evellyn, aku hanya wanita lemah yang tidak mampu berbuat apa pun, aku bersyukur diterima bekerja di perusahaanmu dan bisa terbebas darinya," ucapnya lemah.


Tangan Saira mengepal mendengar cerita Saira, pria itu harus dimusnahkan, jika terus dibiarkan hidup maka Alyne akan terus menderita.


"Aku akan membantumu setelah kita kembali dari Indonesia."


"Dengan cara apa?" tanya Alyne penasaran. Saira menampilkan senyum misteriusnya. Saira dan Alyne kembali melanjutkan aktivitasnya.


----------


Izora sedang menikmati kopi di sebuah kafe. Ingatannya melayang ke beberapa bulan yang lalu. Ia mendesah beberapa kali. Sampai sekarang jika ia merindukan Saira, ia akan tidur di kamar Saira. Kamarnya bahkan tidak boleh disentuh oleh siapa pun, bahkan yang bertugas membersihkan kamarnya dia sendiri.


"Hai, boleh duduk nggak?" tanya sebuah suara yang terdengar berat.

__ADS_1


"Silakan aja kalau mau, kursinya gratis." Izora manis tampak masih belum mengalihkan tatapannya dari benda yang sedang ia pegang. Itu satu-satunya peninggaln Saira. Sebuah gelang yang dibeli oleh Saira untuknya.


Pria itu berdehem dan berharap menarik perhatian Izora. "Kalau mau pesan minuman, pesan aja."


Pria itu tampak salah tingkah dengan reaksi yang diberikan Izora padanya. Ia tidak tahu kenapa wanita yang kini duduk di hadapannya tidak tertarik padanya. Selama yang ia tahu, selama ini banyak wanita yang mengejarnya seperti pencuri gadis perawan.


"Permisi, apa boleh ...."


"Boleh, ambil aja kalau mau."


Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita di depannya ini sungguh terlihat sangat menarik perhatiannya. Baru kali ini dia benar-benar diabaikan oleh seorang wanita. Wanita itu juga tida mau repot-repot melihat kearahnya sama sekali.


Izora menghentikan kegiatannya, ia terlalu hanyut dalam kenangannya di masa lalu. Ia meletakkan kembali gelang tersebut ke dalam sebuah tempat dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu ia mengalihkan tatapan ke arah pria yang sedang menatapnya dengan salah tingkah.


"Tadi Mas nya nanyak apa?" tanya Izora dengan raut biasa.


Pria itu berdehem sebentar lalu. "Apa saya boleh mengetahui nama kamu."


"Buat apa ya? Mas ini wartawan?"


"Oh, bukan bukan, saya ini murni bujangan bukan wartawan."

__ADS_1


"Memangnya wartawan tidak boleh bujangan," ucapnya heran. Setahu Izora banyak eartawan yang masih bujangan.


"Bukan, maksudnya, saya bukan wartawan."


Izora menganguk pelan dan kembali menyesap minumanya dan kembali mengabaikan pria tersebut. Sampai sebuah suara kembali membuatnya tersadar.


"Jadi bagaimana?" tanya orianitu yang terlihat penuh harap.


"Apanya?"


"Nama Mbaknya siapa?"


"Oh, saya Izora."


Pria itu tersenyum senang, sebuah kemajuan. Kini dia sudah tahu nama wanita di hadapannya. Ia hendak memperkenalkan diri agar Izora tahu juga namanya.


"Kenalkan saya Aro ...," ucapnya terpoting saat Saira menerima sebuah panggilan.


"Apa? Kok bisa sih Bi, ya udah saya ke sana sekarang. Tolong jaga Mama dengan baik sampai saya sampai ke rumah."


----

__ADS_1


__ADS_2