Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kalang Kabut


__ADS_3

Saira memelototkan mata mendengar ucapan Alyne barusan dan gadis itu segera sadar.


"Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud bertindak kurang ajar dengan Anda."


Saira tertawa mendengarnya. Ia akan benar-benar menjadikan itu untuk menghiburnya.


--------


"Ma, apa yang kamu katakan tadi malam?"


"Pa, Mama mimpi kalau putri kita masih hidup."


"Mama, itu hanya mimpi jangan dibawa serius."


"Papa, mimpi itu bahkan terlihat sangat nyata."


Andri menghela napas pelan mendengar kalimat istrinya barusan. Ia yakin semua itu hanya hasil dari penyesalan. Sehingga semua sampai terbawa mimpi dan hal itu tidak akan baik bagi kesehatan sang istri.


"Ma, semua yang Mama alami murni karena rasa bersalah kita. Kita harus bisa mengikhlaskan kepergian Saira."


"Kenapa Papa nggak percaya sama Mama."


Wawa mulai terisak pelan dan kembali, ia dihantui rasa bersalah dan jatuh pingsan. Andri segera memanggil Izora yang sedang memeriksa beberapa berkas yang harus dia selesaikan dengan segera. Semenjak sang ibu sakit, pekerjaannya jadi terlunta dan baru bisa ia selesaikan sekarang.

__ADS_1


"Izora, cepat ke kamar!"


Teriakan Andri membuat Izora berlari ke kamar ayahnya.


"Pa, ada apa?"


"Sayang, tolong panggilkan dokter pribadi kita, kondisi Mama kamu down lagi."


"Baik, Pa. sebentar." Izora segera berlari ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Mereka menunggu kedatangan dokternya dengan was-was. "Sayang apa kamu sudah menelpon?


"Sudah, Pa. Sebentar lagi pasti datang."


"Dokter Alvin, silakan!"


Ia segera berjalan menuju ranjang dan mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa kondisi pasiennya.


"Tekanan darahnya tinggi, beliau tidak boleh dibiarkan terlalu banyak pikiran. Jika tidak, kondisinya akan semakin memburuk.


"Baik, terima kasih Dokter."


"Ini ada beberapa resep obat, silakan tebus di apotek terdekat."

__ADS_1


Izora segera mengambilnya dan segera menggantar Alvin sampai ke depan pintu.


"Sekali lagi terima kasih, Dokter," ucapnya.


"Jangan panggil saya Dokter, panggil saja Alvin!"


Izora menganguk dan Alvin melempar senyum yang berhasil membuat jantung gadis itu berdetak tak karuan. Setelah kepergian Alvin, ia memegang dadanya yang berdenyut dengan kencang. Ia menggeleng beberapa kali untuk menghilangkan debaran di hatinya.


Di rumah bercorak putih, Aksa sedang berada dalam ruangannya. Pelerjaannya berkali lipat setiap malamnya. Bahkan bisa dihitung berapa jam ia menutup mata untuk sekedar istirahat. Ia menatap langit-langit kamarnya dan kembali melempar ingatan pada beberapa bulan yang lalu.


"Dulu, aku sangat jahat kepada Saira. Bahkan sebagai dosennya aku bersikap tidak manusiawi. Tidak pernah mencari tahu alasan keterlambatannya, aku selalu marah dan memakinya dengan kasar." Ia mendesah mengingat semuanya.


Sejak kematian Saira, ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai dosen dan lebih menekuni dunia bisninsnya.


"Bahkan Tuhan tidak akan pernah memaafkan hamba sepertiku."


Ia terus mendesah beberapa kali sampai matanya mulai lelah. Ia terlelap di meja kerja, bahkan untuk berjalan menuju kamarnya saja ia enggan. Padahal jaraknya hanya dipisahkan oleh sebuah sekat. Baru saja matanya tertutup, sebuah panggilan kembali mengganggu. Ia segera mengangkatnya.


"Saya segera ke sana!" Aksa segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan segera berlalu dari sana menuruni tangga demi tangga dan meraih kunci mobilnya untuk menuju rumah sakit.


Kembali ponselnya berdering nyaring, ia melihat nama pemanggilnya dan segera menekan tombol hijau.


"Tolong usahakan yang terbaik buat Mama. Saya akan segera sampai."

__ADS_1


------


__ADS_2