
Saira menatap jalanan dengan kosong. Pikirannya sudah tidak pernah berisi sejak ia kehilangan buah hatinya. Ia sangat menyayangi bayi itu tapi kini semuanya hanya tinggal kenangan yang menyakitkan. Semua karena gadis sialan itu dan Saira bersumpah akan membalas segalanya. Ia memutuskan pergi sendiri karena tidak ingin Alyne ikut terjerat apabila nantinya dia kenapa-napa.
Tatapan matanya selain kosong, menyimpan banyak kekejaman yang tidak akan bisa dibendung oleh siapa pun. Nyawa harus dibalas dengan sesuatu yang sangat berharga, itulah prinsip Saira.
"Angel, namamu memiliki arti yang snagat mulia. Tapi sikapmu tidak kencerminkan arti dari namamu. Maka tunggulah penyiksa dari neraka menghampirimu."
Senyum mengerikan mengembang dengan sempurna dari bibir yang sudah ia poles dengan warna merah darah. Kemarahan dan luka membuat ia tidak bisa membendung lebih banyak lagi kekecewaan. Jika ada yang berani merenggutnya, maka harus siap dengan segala konsekuensinya.
"Aku mungkin manusia biasa, tapi hatiku terbuat dari panasnya api neraka. Dia dipenuhi amarah dan dendam. Tidak akan melepaskan sampai yang membangkitkannya menderita dalam ketidak berdayaan."
Saira pergi setelahnya menuju sebuah tempat yang akan dia jadikan sebagai markas sampai dendamnya terbalas dengan sempurna. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang
"Mama, Papa, jangan khawatirkan kondisi Eve, Eve akan segera kembali ke sana."
__ADS_1
Ia tidak bisa mendengar suara ibunya yang menangis serak, apalagi sang ibu sudah mengetahui jika ia sedang berbadan dua saat pergi ke negara tetangga. Baru saja merasakan bahagia memiliki cucu, kini harapannya sudah musnah saat Eve memberi tahu jika ia mengalami kecelakaan dan mengharuskan dia mengambil waktu istirahat full.
"Air matamu akan segera kuganti dengan penderitaannya, Ma." gumam Saira setelah panggilan dimatikan.
Ia menyimpan ponselnya dan segera menuju apartemen yang berbeda lantai dengan Angel. Hal itu untuk melakukan semua rencana yang akan dia jalankan sendiri tanpa bantuan siapa pun. Ia mengambil kamera Canon EOS 3000D. Akan dia gunakan besok saat mengintai gadis bernama Angel. Saira segera tidur setelah membenahi beberapa perlengkapan yang akan dia bawa besok.
Di lain tempat Romeo masih memikirkan ucapan Alyne mengenai Saira yang akan pergi meninggalkannya jika masih bersikap seperti sekarang. Ia mencoba mengingat kenangan yang mereka bangun berdua tapi hal itu sangat sulit dia lakukan. Sampai kepalanya terasa sakit dan ia terjatuh.
Ponselnya terdengar bersering, ia segera mengangkatnya dan ternyata itu dari Alyne. Ia segera mengangkat tanpa menunggu lebih lama lagi.
Tangis Alyne mulai terdengar di seberang membuat perasaan Romeo tidak menentu. Ia yakin sudah terjadi sesuatu. Tanpa menunggu lama ia segera menanyakan apa yang terjadi.
"Dia pergi Romeo, dia sudah pergi." isaknya.
__ADS_1
Awalnya Romeo tidak menyadari siapa yang sedang dibicarakan oleh Alyne. Sampai gadis itu terisak sangat pilu. Barulah ia sadar dan merasakan sesuatu yang berdentum keras di dalam hatinya.
"Bagaimana bisa?" tanyanya pelan.
"Dia hanya meninggalkan secarik kertas danengatakan untuk jangan mencarinya. Dia tidak pernah meninggalkanku seperti ini, Rom. Itu menandakan dia sangat terluka."
"Kita akan mencarinya."
"Kamu tahu Rom, betapa bahagianya dia saat dikatakan hamil, di saat dia kehilanganmu hanya bayinya yang menjadi penguat pada saat itu. Andai kamu melihat apa yang sudah dia lalui selama kamu pergi," isaknya.
Entah kenapa mendengar hal tersebut, jantungnya berdenyit nyeri tanpa bisa ditolak. Kepalanya mendadak kembali sakit saat beberapa bayangan melintas di benaknya. Itu saat ia dan Saira sedang memadu kasih. Romeo tersentak akan kenyataan itu dan segera mematikan ponselnya.
Dari kejauhan Saira sudah memantau apa saja kegiatan yang dilakukan Angel. Ia tidak akan membunuhnya, hanya akan sedikit bermain-main saja agar gadis itu tahu siapa yang coba ia tindas.
__ADS_1
-----