Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Tatapan Tajam


__ADS_3

Saira menatap Alyne tajam. Namun, ia tetap keluar dan berjalan menuju makam tersebut. Di sana tubuhnya terbaring dengan membawa semua kesedihan selama hidupnya. Saira jongkok dan meyentuh papan nama yang mengukir indah namanya.


"Saira, entah Tuhan sedang baik pada takdir kita, entah Tuhan sedang mempermainkan kita. Yang kutahu hanya satu, yaitu membalaskan dendamku dan dendam pemilik tubuh ini."


"Kamu tahu, Evellyn memiliki nasib yang tidak beruntung karena keluarganya memelihara ular di rumahnya. Kamu adalah gadis yang baik, karena itulah kamu ditindas. Tapi aku, aku bukan kamu Saira. Aku adalah gabungan Saira dan Evellyn."


Ia tersenyum tulus untuk yang terakhir kalinya sebagai rasa hormatnya pada dirinya di masa lalu. Tapi kini ia tidak akan lagi lemah seperti dulu. Siapa pun yang mecoba menindasnya, akan dia balas dua kali lipat. Ia kembali ke mobil dan mobil segera menuju bandara.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Alyne setelah mereka sampai di Bandara.


"Sudah lumayan membaik, terima kasih." Saira tersenyum tulus. Alyne terpaku melihatnya.


"Syukurlah Evellyn."


Setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam, mereka kini sudah sampai di Bandara Internasional Melbourne. Ibunya tampak sudah menunggu dengan rona bahagia dan Saira senang mengetahui hal itu.

__ADS_1


"Sayang, selamat datang kembali. Mama kangen banget tahu." Halena segera memeluk Saira dengan lembut. Ia bersyukur pekerjaan putrinya sudah selesai.


"Eve juga kangen banget sama Mama, rasanya Eve nggak bisa napas tanpa Mama."


Mereka tertawa di sana dan Halena beralih ke araha Alyne yang menatap mereka dengan sopan.


"Terima kasih karena sudah menjaga anakku, kamu tidak hanya sebagai sekretaris tapi juga sebagai temannya. Sekali lagi terima kasih."


"Nyonya, tidak seharusnya Anda mengucapkan terima kasih kepada saya, semua itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai sekretaris Nona Evellyn."


"Kamu sungguh gadis yang baik," ujar Halena dan kembali ke sisi putrinya.


Alyne megikuti mereka dari belakang, ia membawa kopernya dan koper Saira sampai ke parkiran. Ia menyerahkan koper yersebut ke pada sopir lalu segera berpamitan kepada mereka semuanya.


"Nyonya, Nona Evellyn, saya izin pamit."

__ADS_1


"Hei kamu mau pamit kemana?" tanya Halena bingung.


"Saya pamit pulang Nyonya," ujarnya dengan sopan sambil tersenyum.


"Alyne, kamu pulang bersama kami, nanti aku akan mengantarmu."


"Tapi Nona, itu akan sangat merepotkan nantinya."


"Sekarang pilih, mau kucari penggantimu atau kamu mengikutiku?"


Alyne mendesah pelan dan mengikuti mereka sampai ke mansion keluarga William. Alyne menganga lebar melihat kemegahan yang tersaji di hadapannya. Bagaimana bisa ada orang sekaya itu hidup di muka bumi ini, pikirnya sekilas.


"Alyne, ayo masuk jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri."


"Baik, Nyonya!"

__ADS_1


Alyne masuk sambil masih menikmati sajian tersebut. Dinding, arsitektur sampai model bangunannya sangat megah. Tapi ia salut pada Evellyn yang tidak pernah menyombongkan diri. Alyne ingat, dulu ia memiliki seorang teman yang jika dibandingkan dengan kekayaan yang dimiliki keluarga William, mungkin temannya hanya bagian ekor saja tapi sombongnya luar biasa. Mungkin benar kata orang bijak, orang yang benar-benar kaya tidak pernah hidup untuk menyombong. Sedangkan orang yang baru kaya, hidupnya habis untuk kesombongan.


----------


__ADS_2