
Mata Izora tampak berkaca-kaca saat melihat mata yang selalu membanjirinya dengan cinta. Izora terpaku untuk sejenak, sebelum akhirnya ia memeluk tubuh Alvin dengan erat. Ia menangis karena sudah membuat Alvin susah dan harus mengurusnya. Ia menangis karena Alvin tidak pernah secuil pun ingin meninggalkannya. Ia menangis karena Tuhan begitu baik mempertemukannya dengan pria seperti Alvin. Ia menangis karena terlalu bahagia.
"Sayang, apa aku menyakitimu?" tanya Alvin khawatir.
"Bukan begitu, aku menangis karena Tuhan masih menyayangiku dengan memberikan pria terbaik sepertimu." isaknya.
Mendengar hal itu, sudut hati Alvin sangat senang sampai-sampai ia bersorak tanpa rencana. Hal itu membuat Izora tertawa dan Alvin bahagia melihatnya.
"Aku lebih suka melihat tawa ini yang keluar dari bibirmu dan raut bahagia ini akan kupastikan melekat di wajahmu."
"Terima kasih banyak," ujar Izora lembut.
"Nah sekarang karena putri tidur sudah bangun, cuci muka dulu nanti kita makan."
"Tunggu di luar, aku akan mandi dulu."
__ADS_1
"Mau kutemani?" tanya Alvin menggodanya.
Seketika tubuh Izora menegang, ia masih belum bisa melupakan apa yang pernah menimpanya. Alvin mengelus pundaknya dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Alvin keluar dari kamar tersebut. Sebelum keluar, ia mempersiapkan pakaian santai untuk dikenakan oleh Izora nantinya.
Di luar, Saira sudah lengkap dengan oakaian kantornya. Ia melihat Alvin yang baru menuruni anak tangga. Ia menghampiri pria itu dan menyerahkan kunci mobil padanya. Alvin yang menerima benda tersebut sedikit dibiat bingung. Apa dia sedang diberi hadiah mobil oleh Saira, pikirnya.
"Jangan berpikiran aneh-aneh! Pergilah keluar, ajak Izora ke taman atau ke mana pun kau mau asal ingat jalan pulang."
"Ah, iya."
"Sekali lagi kau bersikap sok kalem padaku, aku akan menendang milikmu!"
Mendengar hal tersebut tentu membuat Alvin ketakutan. Ia sampai susah payah menelan ludahnya yang sudah berkumpul di mulutnya. Ia menganguk dan mencoba tersenyum sampai giginya terasa kering. Romeo yang melihat kelakuan kekasihnya hanya menggeleng kepala heran. Apa sejak lahir kekasihnya sudah se bar-bar itu pada semua orang.
"Ayo," ajak Saira pada Romeo yang masih geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Selang beberapa puluh menit, mereka berdua sudah sampai di perusahaan. Saira disambut dengan senyuman oleh semua karyawannya. Namun, mata mereka terpaku pada Romeo yang memiliki batas ketampanan yang di atas rata-rata. Apalagi bibirnya yang seksi mampu membuat semua wanita di sana berfantasy liar.
Romeo yang melihat tatapan mereka kepadanya, dengan segera memeluk pinggang ramping Saira dengan mesra. Saira yang tidak suka ambil pusing pun hanya membiarkan saja sampai mereka memasuki lift. Beberapa wanita yang melihatnya tampak patah hati dan sebagian lagi merasa betapa beruntungnya bos mereka memiliki kekasih seperti Romeo. Padahal kenyataannya, Romeo lah yang merasa beruntung karena Saira mau dengannya.
Di dalam lift, Romeo masih belum mau melepaskan tangannya dari pinggang Saira. Ia masih memeluk erat.
"Sayang, kaulmu belum memberiku sarapan pagi."
Alis Saira menukik tajam mendengarnya. Kenapa ia harus memberi Romeo sarapan padahal pria itu punya rumah sendiri. "Kenapa harus aku yang memberimu sarapan?
"Kekasihku sangat tidak peka," ujar Romeo singkat. Wajahnya tampak datar dan menatap ke depan tanpa menoleh.
---
Bagi kalian yang mau membaca ulang versi revisian cerita ini. Sudah tersedia di Mangatoon ya dengan judul Antara Cinta dan Dusta. Kenapa kurevisi di lapak baru?
__ADS_1
karena babnya snagat puanjang beb. Lalu, setiap kali scrol ke bawah, begitu dikembalikan auto naik ke atas lagi. jadi aku lelah scrol bebs 🤣🤣🤣🤣