Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Pembalasan akan Dimulai


__ADS_3

Ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Saira membawanya makanan dari rumah saat ia jatuh sakit akibat kelelahan bekerja. Ruangannya sama dengan yang sedang ditempati oleh ibunya. Wajah istrinya datang dengan raut khawatir. Tapi Izora sudah berada di sisinya. Memegang tangannya dengan lembut dan memberi tatapan penuh cinta.


Makanan yang dibawanya juga hanya teronggok di meja tanpa ia sentuh sama sekali. Bahkan Saira pulang dengan wajah sedih tercetak jelas di wajahnya. Setitik air mata berhasil lolos menembus pertahannya. Setiap ia teringat hal menyakitkan yang ia perbuat pada Saira, hatinya selalu berdenyut nyeri dan mengutuk semua tindakannya. Andai semuanya bisa bisa diputar kembali. Aksa ingin memberikan seluruh cinta dan hidupnya untuk membahagiakan Saira.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Rita lembut.


"Enggak kok, Ma. Cuma kemasukan sesuatu kayaknya." Aksa memaksakan senyumnya agar sang ibu tidak khawatir.


"Kalau ada apa-apa cerita sama Mama." Aksa hanya tersenyum.


Di benua lainnya, Saira kembali mendengkus saat lagi-lagi menemukan sebuah bukti. Selama ini mereka memang sudah bekerja sama dengan pria itu. Mungkin jika Evellyn kembali hidup, maka hanya kematian yang kembali ia temukan.


"Evellyn, aku berjanji padamu, tidak akan kubiarkan sepeser pun harta dan hakmu jatuh ke tangan mereka. Aku juga akan membuat mereka merasakan apa yang sudah kamu rasakan selama ini. Setelah aku menyelesaikan urusanku dengan mereka, aku akan kembali ke Indonesia dan menyelesaikan urusanku juga."

__ADS_1


"Hah, ternyata menjadi intel.dadakal melelahkan juga." desahnya dan kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang empuk yang sejak tadi memanggilnya untuk segera berbaring.


Ia juga teringat pada Alyne yang sudah baik membantunya. Gadis itu juga bekerja sangat memuaskan dan ia akan menolongnya. Pria yang menyebutkan sebagai oaman Alyne harus segera dia beri pelajaran secepatnya.


"Mama Halena, maafkan Saira karena harus melakukan semua ini untuk membalas mereka semua yang sudah membuat putrimu meninggal."


"Evellyn, jika kamu merasa bahagia di sana, kabari aku kapan-kapan melalui mimpi. Jika ada lagi yang kau ingin kulakukan, kasih tahu saja." gumam Saira sebelum matanya tertutup karena rasa kantuk menderinya dengan menggila. Ia tidak tahu sudah berapa hari tidak tidur dengan nyenyak.


"Will, bagaimana kata Alyne, apa putri kita ada bersamanya?" tanya Halena. Gelengan William membuktikan bahwa putrinya tidak bersama sekretarisnya. Lalu kemana dia, Halena sangat khawatir.


"Rico, ayo pulang!" perintah William tegas.


Setelah sampai di kediamannya. William segera bersiap untuk pergi ke tempat sahabatnya yang sudah lama bekerja di kepolisian. Entahlah, ia hanya ingin agar putrinya segera ditemukan dan ia akan menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi lagi. Namun, sebuah email membuat langkahnya berhenti.

__ADS_1


"Jangan mencariku, Pa. Aku sedang butuh sendiri."


Itulah bunyi pesannya dan William menghela napas dengan lega.


"Ma, apa Mama yakin kalau paman akan memberikan sebagian hartanya pada Chloe?"


"Tentu saja Sayang, pamanmu yang bodoh itu hanya memiliki satu anak dan itu Evellyn. Dia juga hanya memiliki satu adik yaitu Mama."


"Kalau begitu, kita harus bermain dengan maksimal untuk meyakinkan Paman William."


"Semua itu serahkan pada Mama, Pamanmu sudah berjanji pada Papamu untuk menjaga kita. Bahkan dia tidak tahu bahwa kitalah yang sudah menyebabkan Evellyn kecelakaan, tapi sialnya gadis itu masih saja hidup sampai sekarang."


Tasma terlihat mendengkus kesal.

__ADS_1


 


__ADS_2