Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Rasa Frustrasi


__ADS_3

"Elca, letakkan benda itu, jangan berbuat nekat."


Saira mencoba meraih pisau kater yang biasa digunakan gadis itu untuk memotong kertas. Namun, gerakan Elca tidak terbaca olehnya. Alyne juga tidak kalah menenangkan Elca. Untungnya mereka saat ini sudah berada di dalam mobil sehingga tidak akan ada yang menyadari apa yang dilakukan Elca.


"Aku ketakutan! Aku sudah tidak kuat lagi, Tolong biarkan aku mati saja!" teriaknya frustrasi.


"Elca, dengarkan aku, kamu jangan menyerah dengan semua ini, siapa pun pria itu aku pasti akan membuatnya membayar apa yang sudah dia lakukan sama kami." tegas Saira.


Gadis itu menggeleng, "Tidak, Lyn. Dia sangat licik dan berkuasa. Kita tidak akan pernah mampu menghadapinya."


"Elca, dengarkan dulu Evellyn."


Elca sedikit tenang dan mendengarkan Saira. "Seberapa berkuasa dia?"


"Dia bekerja di perusahaan ternama dan memiliki posisi tinggi, kemudian ayahnya juga sebagai petinggi di perusahaan tempat kita bekerja. Mereka memiliki berbagai jenis koneksi dengan petinggi di negara ini termasuk kepolisian."


Saira mengangguk mendengarnya. Jika hanya seperti itu, bukan hal sulit bagi Saira untuk meruntuhkan pria itu. Saira tersenyum menatap Elca.


"Jika hanya seperti itu, dia tidak perlu kau takuti."

__ADS_1


Elca mengangkat kepalanya melihat wajah Saira yang tampak tidak gentar sedikit pun. Alyne juga begitu, mereka berdua terlihat biasa saja.


"Apa maksudmu?" tanya Elca.


"Berikan dulu pisaunya, maka pertanyaan dan kekhawatiranmu akan segera hilang El." Alyne menyodorkan tangan kanannya. Elca sedikit ragu untuk menyerahkan benda tersebut. Namun, Alyne berusaha menyakinkannya jika mereka bisa membantu tanpa membuat aibnya terbongkar.


"Nah, sekarang tarik napas kamu, kita akan membahas semua ini di rumah."


"Rumah siapa?" tanya Elca.


"Rumah bos kita." tunjuk Alyne ke arah Saira sambil tertawa. Elca masih bingung akan tetapi ia menurut saja. Rasa bingungnya akan segera terobati jika sudah sampai ke rumah keduanya.


Alyne segera mengemudikan mobilnya menuju sebuah rumah mewah yang mampu membuat mata Elca membelalak. Dia mengira mereka sama seperti dirinya yang hanya berasal dari keluarga menengah. Bahkan rumah yang mereka huni sekarang lebih besar dari rumah milik Yudi yang pernah ia datangi.


"Lebih tepatnya rumah bos kita!" tunjuk Alyne kepada Saira yang menatap keduanya dengan jengah.


"Ayo masuk, anggap saja rumah sendiri!"


Elca semakin terkesan saat memasuki rumah mewah dengan nuansa putih bersih, tidak seperti rumahnya yang sangat biasa. Namun, ia tetap bersyukur, setidaknya mereka masih bisa tidur dengan bebas tanpa memikirkan biaya rumah yang harus mereka bayar setiap bulan atau tahun.

__ADS_1


"Ayo duduk," ucap Alyne.


"Alyne, Sebenarnya siapa Lyn ini."


Alyne tersenyum, "Namanya Evellyn, putri tunggal dari pengusaha terkaya di Autralia. Memiliki mansion mewah dan memiliki perusahaan sendiri."


"Maksud kamu Lyn, maaf maksudku Evellyn ini berasal dari Autralia?"


"Lebih tepatnya kami berdua, aku adalah sekretaris kepercayaan keluarga William sekaligus yang bertugas menjaga dan mengurus segala keperluan Evellyn."


"Lalu Pak Asthon?" tanya Elca.


"Dia juga berkebangsaan Autralia dan beliau juga jajaran orang terkaya di Autralia."


"Kenapa kau malah promosi, sekarang kita harus menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh Yudi. Pria itu harus segera diberi pelajaran." Saira berkata dengan tegas.


"Elca serahkan ponselmu."


Gadis itu segera menyerahkan ponselnya kepada Saira.

__ADS_1


--------


Save Elca.


__ADS_2