
Keduanya tertawa dan meneguk minuman seolah hidup mereka sudah benar-benar aman. Lalu sebuah panggilan membuyarkan tawa mereka berdua karena Wali meneruma panggilan telpon dari nomor yang tidak dikenal. Tanpa merasa ragu sedikit pun, ia segera mengangkat.
"Halo Tuan Wali, sang inspektur terhormat!" sambut sebuah suara dari seberang.
"Siapa ini?" tanya Wali dengan kesal.
"Saya adalah orang yang akan menjadi mimpi buruk bagi Anda!"
Mendengar kalimat tersebut, Wali menjadi marah dan membanting gelas yang sejak tadi ia pegang. Wira tentu saja merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Hoho, Anda marah? Tidak perlu marah, lagi pula saya akan segera menghampiri Anda dan mengambil semua yang sudah Anda miliki selama ini."
"Kurang ajar! Siapa kau? Beraninya main-main denganku! Apa kau tidak tahu siapa diriku hah!" teriaknya.
"Saya sangat tahu siapa Anda, tapi Anda tidak tahu siapa saya bukan? Seharusnya Anda waspada pada saya."
Suara itu tertawa keras di seberang. Alyne sampai batuk-batuk karena kerongkongannya terasa kering. Ia sampai harus mengubah suaranya. Tapi satu hal yang dia ketahui kalau misi mereka berhasil. Pria itu sudah terpancing.
"Saya akan segera mendatangi Anda Tuan Wali Prakoso!"
__ADS_1
Setelah menyelesaikan kalimat tersebut, ia mematikan panggilan dan membuat Wali menjadi tidak tenang sama sekali.
"Dari siapa?" tanya Wira penasaran.
"Aku tidak tahu dia siapa, tapi dia baru saja mengancam diriku."
"Kurang ajar, beraninya dia mengancammu."
"Apa mungkin dia memiliki bukti mengenai kejahatan kita?" tanya Wira.
"Kurasa tidak mungkin, mengingat aksesnya sangat kecil. Pekerjaan kita sangat rapi dan tersusun dengan baik."
Mereka kembali berniat melanjutkan pesta. Lalu sebuah notif masuk ke dalam ponsel keduanya. Baik Wira mau pun Wali, keduanya sangat kaget bukan kepalang. Mereka berdua segera bangkit dan saling menatap satu sama lain.
"Kita harus menemukan siapa dia sebenarnya, ancaman terbesar kita sedang menunggu."
Wali mengangguk dan keduanya segera menelpon seseorang yang menurut mereka bisa membantu menuntaskan masalah yang sedang menghadang.
"Riko, cari tahu mengenai nomor yang akan saya kirim padamu. Dan ingat, kamu harus merahasiakannya dari siapa pun."
__ADS_1
"Baik, Pak."
"Yudi, katakan pada anak buahmu untuk menyelidiki nomor yang akan Papa kirim sama kamu."
Keduanya segera mengirim nomor yang sudah menganggu mereka. Di seberang keduanya juga menerima dan Riko terkekeh geli melihat Wali yang sudah seperti cacing kepanasan sedangkan Yudi tampak geram dengan nomor yang dikirim oleh sang ayah.
"Sialan! Aku akan menemukanmu dan melenyapkan sampai kau tidak akan pernah menyangka dengan cara apa aku melakukannya!" teriak Yudi dengan narah.
"Mereka berdua sangat bisa kita andalkan."
Di seberang kota, Saira tertawa melihat keduanya yang seperti rubah yang kehilangan ekor mereka. Riko menelpon dan memberitahu bagaimana Wali meminta bantuan kepadanya. Saira menyuruh pria itu untuk membantu Wali.
"Bantu saja dia," ucapnya.
"Apa kau bercanda?" tanya Riko tidak habis pikir dengan jalan pikiran Saira.
"Aku menyuruhmu membantunya agar masuk jeruji besi," kekeh Saira dan Riko mengerti apa yang harus dia lakukan saat ini. Masa bagi Wali sudah berakhir.
-------------
__ADS_1