Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Jangan Berharap


__ADS_3

Keduanya mulai terbuai dengan suasana malam yang begitu syahdu. Alvin menjamah seluruh bagian tubuh Izora guna meninggalkan jejaknya dan menghapus jejak pria bangsat yang sudah melakukan semua ini kepada kekasihnya. Ia tersenyum saat Izora mulai menikmati sentuhan dan terdengar mendesah. Meremas rambut hitamnya dan terlihat terengah saat Alvin mulai mendekati miliknya.


"Emmm," desahnya membuat Alvin senang.


Saat ia hendak memasuki Izora, gadis itu tersentak dan mengingil ketakutan. Ia berteriak histeris membuat Alvin kelabakan. Ia segera berlari ke pojok ruangan dan menjambak rambutnya kasar. Alvin yang melihat kondisi Izora begitu mengenaskan membuatnya begitu kesakitan melihtatnya. Alvin segera mendekati tubuh yang meringkuk ketakutan di pojok rungan. Alvin menangis dan segera menenangkan Izora dengan memeluknya lembut.


"Sayang, tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu bersamamu selamanya." bisiknya lembut.


"Ak-aku kotor, aku sangat kotor. Mereka menyentuhku di mana-mana. Aku kotor." isak Izora yang terdengar sangat memilukan hati Alvin.


"Sayang, bukan kamu yang kotor, tapi mereka. Mereka yang tidak menghormati wanita adalah orang-orang yang kotor. Sayang, aku sangat mencintaimu."


Izora sudah mulai tenang. Ia memeluk erat tubuh Alvin yang sedang berada di sisinya. "Apa aku masih pantas sama kamu."


Itulah kalimat yang keluar dari bibir Izora. Ia merasa tidak pantas bersama Alvin dengan kondisi yang sangat memalukan seperti sekarang. Bahkan untuk bertemu ibunya juga ia sudah tidak mampu. Apa yang akan ia katakan jika ibunya bertanya dari mana saja dia.


"Sayang, cuma kamu yang pantas mendampingiku."


"Terima kasih banyak," ucapnya tulus.

__ADS_1


 


Di luar, Saira bersama Alyne sedang menatap hamparan bintang yang bertabur di langit. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing dan saling menyelami.


Beberapa kali keduanya tampak menghela napas.


"Ada apa? Apa ada yang sedang menganggu pikiranmu?"


"Sedang kepikiran, tapi bukan sesuatu yang penting."


"Yakin nggak penting?" tanya Saira sambil menaikkan alisnya menggoda Alyne yang tiba-tiba bersemu merah.


"Mengenai hal itu, entahlah. Semua terserah sama Romeo saja. Tidak mau lagi terlalu berharap karena takutnya tidak sesuai rencana seperti dulu."


"Jadi ceritanya sekarang pasrah." kekeh Alyne yang berhasil membuat Saira mendengus kesal.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi Izora?" tanya Saira karena selama ini Alyne yang memantau semuanya.


Saira masih marah kepada dirinya yang tidak mampu menjaga kakaknya dari kejahatan yang sangat fatal. Ia tidak bisa juga memaafkan dirinya meski sudah membantai semua yang sudah merenggut hidup kakaknya. Kehormatan dan kesuciannya kini terenghut secara hina dan Saira tidak mampu berbuat apa pun selain membunuh mereka. Apakah ia masih pantas disebut sebagai adik? Ia bahkan meragukan semua itu karena merasa sangat tidak berguna.

__ADS_1


"Kondisinya masih naik turun dan belum stabil, tapi semoga dengan keberadaan Alvin bisa membuat kondisinya membaik."


"Semoga saja begitu."


"Mengenai bayi kalian? Apa memang benar masih ada?" tanya Alyne penasaran.


"Entahlah, hanya Romeo yang tahu. Aku tahu dia mengatakan semua itu hanya ingin menyenangkan hatiku."


"Apa kamu tidak ingin berharap?"


"Berharap adalah hal yang paling menakutkan Alyne. Jangan pernah berharap kepada manusia, karena kenyataan dengan harapan terkadang saling bertolak belakang."


Alyne tampak menyimak semua kata yang diucapkan oleh Saira. Ia merenungi dan ada benarnya. Jika harapan terkadang bisa membunuh seseorang dalam sekejab. Saat lengah, harapan akan membunuhnya.


"Kamu benar, harapan alan begitu menyakitkan dan membuat siapa saja bisa terbunuh begitu lengah. Harapan memang menakutkan."


"Makanya jangan pernah berharap kepada siapa pun, ingat itu!"


 

__ADS_1


Aku sakit pinggang gais gegara kurang minum hahahahaha.... Maaih sakit ey, malas nulis karena sakitnya sampai sulit rebahan.


__ADS_2