Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kecantikanmu


__ADS_3

"Ini adalah diriku," ucap Saira tersenyum sedih. Ia kini hanya bisa melihat dirinya hanya dari gambar saja.


"Dirimu sangat cantik, Saira. Aksa begitu bodoh karena menyia-nyiakanmu seperti itu. Bahkan sekarang, dia mengejarmu seperti orang gila."


"Itulah yang aku inginkan Romeo," ucap Saira.


Rautnya terlihat bingung saat Saira mengatakan hal tersebut. Apa keuntungan bagi Saira jika melakukan hal tersebut. Itulah yang membuat Romeo sedikit bingung. Melihat bagaimana Aksa memohon kemarin malam, pria itu tahu jika suami di masa lalu Saira sangat memcintai dirinya. Bagaimana jika pria itu berbuat nekat dan menyakiti Saira. Tapi mungkin itu semua hanya pikirannya yang terlalu jauh.


"Apa kau tidak merasa khawatir sayang, bagaimana kalau dia berbuat nekat dan membuatmu terpojok."


"Itulah gunanya aku memilikimu kan? Memangnya kau akan membiarkan dia menyakitiku?"


"Bahkan jika seinci rambut mu rontok, aku akan membuatnya menyesal karena sudah mengenalmu." desis Romeo, sisi yang belum pernah dilihat oleh Saira sebelumnya.


"Aku sudah puas menghabiskan waktu di sini, bagaimana kalau kita pergi."


"Mau langsung pulang?" tanya Romeo kembali dengan kembali normal.

__ADS_1


"Boleh, aku sangat lelah tapi hari ini, berkat dirimu aku kembali merasakan kebahagiaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya."


Pria itu tertawa kecil. "Itulah gunanya memiliki kekasih sepertiku."


"Aku tahu, makanya aku senang."


"Kekasihku sangat menggemaskan," ucap Romeo dan menjalankan mobilnya menuruni perbukitan yang mereka datangi sesaat tadi. Saira tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati keindahan alam dari tempat mereka berada saat ini. Jejeran kayu berbaris memberi sentuhan dingin nan asri dari alam. Bisa merasakan kedamaian hutan yang tidak pernah disentuh oleh polusi udara.


"Apa kau menyukainya?"


"Tentu saja, setiap orang pasti akan menyukai tempat seperti ini."


Gadis itu tersenyum lalu teringat akan kedatangan kedua orang tuanya. Ia melihat ke arah Romeo. "Mama dan Papa akan datang berkunjung kemari."


"Aku sudah lama mengetahuinya," ucap Romeo dengan santai.


"Bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Bahkan sebelum mereka mengabarimu."


"Lalu kenapa tidak memberitahuku?" kesalnya.


"Katena aku tahu, Bibi pasti akan mengabarimi dengan segera. Lagi pula sekarang kau sudah tahu sayang, bagaimana kalau kita menyambutnya dengan meriah. Hitung-hitung untuk membuat mereka terharu dan menjadikan aku menjadi calon menantu idaman mereka."


Saira tertawa mendengar ucapan Romeo, entah pria itu sangat senang karena akan memperistrinya atau memang selalu bersikap seperti itu. Tapi jika kedua orang tuanya menyukai Romeo, hal itu akan sangat bagus. Dirinya tidak perlu lagi merasa patah hati karena tidak mendapat restu.


"Mama sangat menyukai pria tampan dan mapan serta baik hati, aku yakin kau akan langsung diterima menjadi menantunya tanpa seleksi."


Mendengar hal itu seolah Romeo mendapat angin segar karena kalimat itu langsung diucapkan dari bibir pemilik hatinya saat ini. Namun, meski pun begitu ia akan tetap berjuang untuk mendapatkan kepercayaan keluarga William agar mempercayainya menjaga anak semata wayang.


"Sayang, bagaimana kalau Bibi menolakku atau paman berubah pikiran."


"Percaya diri saja, mereka pasti akan menyukaimu kecuali kau tampil dengan tidak senonoh." kekeh Saira.


"Enak saja, aku pasti akan mempertahankan jiwa sopanku jika bersama mereka."

__ADS_1


---------


Selamat sore semuanya, selamat anu juga bagi kalian yang menunaikan. Kapan terakhir kali kalian tersenyum?


__ADS_2