Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Alyne menatap datar pria yang saat ini sedang berada di depannya. Bukan karena pria itu tidak menarik sama sekali. Hanya saja ia sudah lama tidak pernah tertarik lagi pada kaum pria. Aline bisa melihat cara pria itu duduk dan minum, jelas ia pria yang terdidik dan mungkin termasuk keluarga bangsawan. Alyne memang meminta pria yang kaya raya, tapi ia tidak suka dengan anak bangsawan yang menurutnya memiliki aturan ketat. Ia tidak menginginkan kehidupan semacam itu.


“Sudah lama tinggal di sini?” tanya pria itu sambil menyuap makanan dengan pelan.


“Kalau dilihat dari sudut pandangku, lumayan lama.”


“Berapa lama?” tanyanya kembali sembari menaikkan alisnya.


“Dua tahun lebih, maybe.”


“Ternyata kau sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Adam,” Kekehnya dan menyudahin makannya, kini ia memperhatikan Alyne makan dengan gaya acaknya.


Alyne hanya mengangkat bahunya tak acuh, ia sangat bosan dengan percakapan yang sedang mereka lakukan. Menurutnya pria di depannya terlalu klise dalam mengajukan pertanyaan, ia seperti bertemu pria tua di tahun 2015.


“Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?”


“Alyne,” jawabnya singkat dan tidak berniat menanyakan kembali nama pria tersebut. Sejak awal dia sudah tidak suka dengannya. Untuk apa Alyne menjaga image di depan pria itu, apalagi jika memberikan respon balik atas pertanyaannya.


“Kau tidak menanyakan namaku?” tanyanya sambil menunjukkan gigi keringnya.


“Untuk apa? Kau tinggal mengatakannya.”

__ADS_1


Pria itu menghela napas pelan, ia kemudian mengulurkan tangannya. Alyne menatapnya dengan bingung, kalau hanya untuk memperkenalkan nama untuk apa sampai harus berjabat tangan. Tapi ia mengulurkan juga tangannya setelah lama terdiam, raut senang terlihat jelas dari wajah pria itu.


“Aku Danish.”


“Senang mendengar namamu,” ujar Alyne dengan raut wajah jengah. Ia segera melepaskan tangannya dan melihat sekilas ponselnya. Ia berharap Saira memberinya pekerjaan mendadak sehingga bisa segera pergi dari sini.


“Em, kalau begitu kita sudah makan malamnya.” Alyne kembali melihat jamnya dan hendak pamit.


“Cepat sekali, apa kau sedang sibuk juga di malam hari?” Tanya Danish penasaran.


Alyne menatapnya sekilas, “Aku tidak harus melaporkan kesibukan kan?”


“Ada apa?” Tanya Romeo di seberang dengan napas memburu, ia yang sedang menemani Saira menonton film horor. Wajah Romeo sudah pucat pasti karena hantunya selalu muncul di saat ia fokus ke layar televisi.


“Tunggu, ada apa dengan suaramu? Jangan bilang kau sedang main kuda poni bersama istrimu, apa aku sudah menganggumu?” Tanya Danish cemas. Ia tidak ingin di cap sebagai pria penganggu yang tidak tahu diri.


“Sembarangan!” dengkus Romeo kesal. “Ada apa kau menelpon ku malam-malam.”


“Gadis yang kau kenalan kepadaku, apa dia memang sedatar itu?”


“Maksudmu Alyne?” Tanya Romeo sambil teriak kaget, Danish ikut teriak karena ikutan kaget. Semua mata jadi memandang ke arahnya. Ia meminta maaf dengan gerakan tangannya.

__ADS_1


“Maaf, aku kaget karena sedang menemani istriku menonton. Kau sendiri kenapa berteriak.” Kesal Romeo yang ikut merasakan gendnag telinganya hampir pecah.


“Kupikir kau sedang klimak menggunakan sesuatu.” Kekehnya tanpa dosa yang berhasil membuat Romeo kesal.


“Sekali lagi kau mengatakannya, aku tidak akan mau menjawab semua pertanyaanmu.”


“Oke, kembali ke Alyne,” ujarnya, ia sejujurnya begitu dibuat penasaran oleh sosok Alyne yang terbilang dingin.


“Dia hanya dingin saat lawan bicaranya tidak membuatnya nyaman.”


Mendengar itu, Danish kaget, seingatnya tadi ia tidak bertindak aneh. Ia juga merasa tidak membuat Alyne merasa tidak nyaman, jelas kan ia tidak mengghina, menyinggung apalagi mengolok-oloknya. Seketika ia kembali dibuat bingung, Alyne bagaikan teka teki yang harus ia pecahkan.


“Satu lagi, dia tidak suka dengan pria yang kaku, apalagi saat makan bagaikan bangsawan.”


Seketika Danish tersedak ludahnya sendiri.


-----


Maafken aku hibernasinya hampir 1 abad


 

__ADS_1


__ADS_2