
Saira masuk ke apartemen Angel yang pada saat itu belum pulang dari bekerja. Ia duduk di sebuah ruangan yang tidak terkena cahaya lampu, ditambah lampu apartemen yang selalu dimatikan saat Angel pergi keluar. Saira melihat beberapa peralatan yang ia bawa untuk memberi gadis itu pelajaran agar tidak semena-mena menghilangkan nyawa bayi atau siapa pun itu.
Selama satu jam di sana, barulah terdengar suara seseorang memasukkan pin untuk membuka pintunya. Saira duduk diam di tempatnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Tatapan tajam nan dingin terus mengawasi gerak gerik gadis itu yang terlihat sangat senang.
Tentu semua berbanding terbalik dengan perasaan Saira saat ini. Bahkan tidak ada raut bersalah dalam setiap tatapan gadis itu atas kematian bayi Saira.
"Halo." sapa Saira membuat Angel kaget dan segera menghidupkan lampu.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Angel sedikit membentak pada Saira yang hanya menatap dengan datar.
"Apa lagi memangnya, bukankah nyawa dibalas dengan nyawa?" tanya Saira sambil memainkan pisau kecil yang ada di tangannya saat ini.
"Apa ... apa yang ingin kau lajukan dengan pisau kecil itu!" teriaknya ketakytan membuat Saira terkekeh geli melihatnya.
"Kenapa pembunuh takut dengan pisau? Bukankah ini sangat aneh?"
__ADS_1
"Aku akan memanggil polisi dan kau akan ditangkap, kau akan masuk penjara!" ejeknya membuat senyum Saira mengembang sempurna.
"Aku ingin melihatnya, segera lakukan." perintah Saira sambil melipat kedua tangan dan menatap gadis itu dengan benci.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Angel segera menuju telpon tapi tidak tersambung. Ternyata kabelnya sudah diputus oleh Saira. Ia kemudian menuju ponselnya yang ternyata lowbat dan tidak lama kemudian mati dengan mengenaskan.
"Apa mau kupinjami ponsel?" tanya Saira maju perlahan membuat Angel teriak ketakutan.
Matanya masih awas terhadap pisau yang sejak tadi mengkilap seolah memanggil untuk segera disentuh. Membayangkan pisau itu mengenai kulit mulusnya saja membuat ia merinding. Ia sampai kencing dalam celana karena terlalu ketakutan.
"Aku bahkan masih mengingat wajah congkak yang penuh percaya diri menolakku. Kemana wajah itu, hm?"
Mata Saira perlahan menajam dengan tangan mengepal erat. "Perbuatanmu membuatku kehilangan bayiku!"
"Aku tidak sengaja melakukannya." bela Angel membuat amarah Saira semakin memuncak. Namun, ia mencoba menahannya.
__ADS_1
"Jangan lupakan saat kau memutuskan pergi pada saat itu. Unsur tidak kesengajaan tidak pernah membiarkan orang lain terluka. Tapi kau, tahu apa perbedaannya dengan iblis? Bedanya iblis memang jahat sejak lahir, sedangkan kau terlahir untuk menjadi iblis."
"Diam, aku tidak sengaja melakukannya!" teriak Angel marah.
"Kau selalu berlindung dengan kata tidak sengaja, bagaimana saat kau membunuh temanmu, apa itu juga tidak disengaja?"
Saira terus memberinya tekanan dengan ingatan dan luka di masa lalunya. Membuat Angel ketakutan dengan tangan bergetar. Ia memegang kepalanya sambil berteriak dengan kencang.
"Diam! Diam kau sialan!"
"Yang seharusnya mati bukan mereka yang tidak bersalah, bukankah hidupmu terlalu sia-sia untuk bertahan hidup. Kau hanya sampah masyarakat yang berlindung dengan kata tidak sengaja."
"Diam!"
__ADS_1
Gais semoga kalian senang ya eh gimana wkwkwkwk. semoga kalian suka