Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Cerita Sebenarnya


__ADS_3

"Apa kamu sedang bercanda?" tanya Alyne dengan sedikit ragu. Bibirnya sampai bergetar tidak percaya.


"Aku adalah Saira, gadis yang selama ini kukunjungi makamnya adalah makamku sendiri."


"Ta ... tapi bagaimana bisa?" tanya Alyne masih dengan wajah bingung.


"Itulah kenyataannya, terkadang apa yang ditakdrikan Tuhan tidak bisa kita nalar dengan akal bukan."


Gadis itu mengangguk. "Kalau kamu adalah Saira, lalu siapa Evellyn?"


"Gadis yang malang itu sudah meninggal dunia akibat kecelakaan berencana. Semua yang menimpanya sudah direncanakan oleh orang terdekatnya."


"Siapa?" tanya Alyne sedih.


"Bibi yang selama ini menumpang di rumahnya, wanita tua itu yang melenyapkan Eve dan aku akan membalaskan semuanya."


"Apa kalian dua orang yang tersakiti?" tanya Alyne.


Gadis itu megangguk dan menatap langit-langit kamar dengan sendu. "Kami memang dua orang yang tersakiti, tapi aku melakukannya karena kesalahanku sendiri sehingga Tuhan merasa aku sangat pantas untuk disakiti."

__ADS_1


"Bisa kamu menceritakannya?" tanya Alyne dan Saira mengangguk.


Kalimat demi kalimat dengan lancar meluncur dari bibirnya. Jika dulu ia akan terlihat emosional, tidak dengan kali ini. Ia sudah meyadari semuanya berpunca dari dirinya yang menyebabkan semua ini terjadi. Saira menatap wajah Alyne yang mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Ia jadi ingat pria bernama Aksa, bagaimana Saira memperlakukannya dan ternyata inilah penyebab dari semua itu.


"Kurang ajar, pria itu pantas mendapatkan kebencianmu." geramnya sesekali ia menyeka air mata yang keluar dari kedua matanya.


"Kenapa kau malah menangis?" tanya Saira sambil terkekeh.


"Aku tidak tahu jika ada nasib seburuk dirimu. Biasanya itu hanya terjadi di dunia fiksi atau film."


"Takdir tidak ada yang tahu Alyne, mungkin dengan cara seperti ini aku bida menjadi lebih kuat. Terbukti bukan?" kekehnya mencairkan suasan.


"Panggil saja seperti biasanya. Jagan sampai ada yang mengetahui akan hal ini, terlebih ada kakakku di sini."


"Baiklah," ucapnya.


"Lalu bagaimana tanggapanmu? Apa kamu masih merasa aku orang yang sama?"


"Siapa pun kamu, aku akan tetap mendukungmu. Mengenai kematian Eve, aku akan membantumu membalas mereka." Mata itu terlibat menyimpan banyak bara yang siap membakar siapa saja.

__ADS_1


"Terima kasih atas semuanya, aku tidak tahu jika persahabatan itu nyata. Tapi Tuhan membuka mataku melalui dirimu."


"Aku juga tidak percaya akan hal itu, tapi memang cara Tuhan sangat indah mempertrmukan dua orang yang bisa menjadi sahabat."


Mereka berdua tertawa, di balik pintu wajah yang sangat manis itu menangis. Ia mendengar semuanya, ternyata selama ini mereka sangat dekat dengan Saira. Hanya saja gadis itu hidup dalam wajah dan tubuh orang lain. Pantas ia sangat marah kepada mereka semua saat berziarah ke kuburannya.


"Lalu mengenai uang ratusan juta itu, buat apa?" tanya Alyne.


"Untuk pengobatan kedua orang tuaku, mereka sangat menderita semenjak aku dinyatakan meninggal. Semua penyesalan membawa mereka pada akhir yang tidak baik. Awalnya aku senang mengetahui hal ini. Namun, hatiku sangat sedih dan memutuskan untuk mengobati mereka dengan segera.


"Setidaknya mereka masih hidup," ucap Alyne dengan senyum.


Izora menutup mulutnya dengan bahu bergetar kencang. Kemana ia sebagai seorang kakak, kenapa ia bisa begitu kejam. Ia mengakui jika Saira sudah merebut kebahagiaannya. Tapi tidak bisakah ia sebagai panutan adiknya memberikan semua kebahagiaan yang diinginkan olehnya.


"Maaf, maaf," isaknya.


Malam itu ia memutuskan pergi dari sana dengan membawa segudang rasa sesal yang kembali tumbuh dan merayap ke dalam hatinya tanpa dipandu. Menyembuhkan luka, memang tidak semudah yang dibayangkan.


 

__ADS_1


__ADS_2