Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kekejaman yang Sebenarnya


__ADS_3

Satu minggu pun sudah berlalu, setiap gadis yang ada di sana akan diseret dan seperti biasa. Hanya tersisa Izora dan ia sangat ketakutan. Mimpi buruk yang seharusnya bisa dipadamkan dengan bangun tidur, kini menjadi kenyataan. Tubuhnya diseret dari ruangan tersebut menuju ruang yang biasa dipakai untuk menggilir para gadis.


Izora mencoba kabur dan melawan. Tapi tenaganya tidak sekuat itu. Ia mendapat beberapa tendangan dan ia pun kini sudah mengalami mimpi paling buruk dalam hidupnya. Tidak ada lagi tangis, yang ada hanya mata menatap kosong.


Saira menelpon Romeo, tapi ponsel kekasihnya sedang tidak aktif. Ternyata ia sedang menjadi sandra Angelina. Gadis itu sangat mencintai Romeo dan terobsesi padanya. Sebuah panggilan masuk dan nomor tersebut tidak bisa dilacak.


"Halo, Evellyn," ucap sebuah suara sambil tertawa.


"Siapa kau?"


"Bukankah kalian sedang menyelidiku? Ah, apa kau mencari Asthon?" tanyanya.


Saira pun menyadari telah terjadi sesuatu pada Romeo. Lagi-lagi ia disambut suara tawa yang membuat Saira jengah. Gadis itu segera mematikan panggilan, lalu ia kembali menelpon menggunakan video call. Di sana Romeo sedang diikat di sebuah kursi. Saira yang melihat itu pun dibuat marah.


Ia ditekan dari dua sisi. Keadaan itu sempat membuatnya tidak berdaya. Tapi Alyne menjadi penguatnya di saat seperti ini. Gadis itu meyakinkan pada Saira bahwa semua bisa ia atasi dengan kekuatannya.

__ADS_1


"Apa kau tahu, ada seorang gadis asal Indonesia, dia sangat cantik tapi sayang, aku membencinya."


Mendengar hal itu, ia yakin gadis itu adalah Izora. Saira marah dan menanyakan di mana Angelina menyembunyikan kakaknya.


"Kenapa harus marah? Bukankah dia hanya salah satu dari gadis yang akan dijadikan budak ****."


Mendengar hal itu, Saira marah dan memaki Angelina. Lalu sebuah video masuk ke ponselnya dan di sana terlihat kondisi Izora yang sangat mengenaskan. Saira menangis melihatnya. Ia jatuh terduduk dan meraung. Alyne yang melihat hal itu juga ikut menangis. Sedangkan Zakof tampak terdiam di tempatnya.


"Kenapa? Keanapa harus Izora! Kenapa?" teriak Saira frustrasi.


Alyne berusaha menenangkannya dengan memeluk tubuhnya erat. Saira menangis menumpahkan segalanya. Marah, kecewa dan bersalah terus menghantuinya saat itu juga. Izora tidak akan mengalami hal buruk jika ia dengan sigap menolongnya.


Bayangan saat mereka masih remaja, Izora selalu melindunginya. Mengusir cowok yang suka menganggunya. Membawa makanan saat Saira tidak makan pagi. Menemaninya tidur saat Saira ketakutan atau saat ia sedang patah hati.


Tangannya terkepal sangat erat. Matanya perlahan menajam. Sisi iblis dalam dirinya perlahan bangkit. Itulah yang Alyne tunggu. Ia lebih menyukai Saira dengan sisi itu dari pada sisi lemahnya.

__ADS_1


"Angelina, kau sudah salah memilih lawan!" desisnya dan segera pergi menuju markas tersebut.


Dengan segala kecerdasan Zakof ia berhasil merusak beberapa kamera cctv dan kamera pengintai. Juga meretas pintu masuk. Saira meminta Alyne mengawasi dari dalam mobil. Ia yang akan masuk sendiri. Awalnya Alyne menolak tapi Saira tidak akan bisa fokus jika Alyne ikut dengannya.


"Balas mereka lebih kejam."


Saira menganguk dengan wajah datar, mulai masuk ke dalam. Ia sudah membawa beberapa peralatan mini tapi mematikan dalam sebuah tas kecil. Ia menyusup ke dalam setelah Zakof memperkirakan jumlah mereka. Tanpa takut, Saira terus berjalan menyusuri beberapa lorong. Tampak beberapa penjaga sedang mondar mandir sekitar lima orang.


"Mari kita bermain, bangsat!"


Saira memakai masker gas. Dengan pelan ia berjalan ke arah mereka lalu menyemprotkan sianida sampai mereka terkulas lemas dan tewas.


"Tidak seru," gumam Saira. Ia kini menuju ruang keamanan berdasarkan panduan Zakof.


Ia mendobrak pintu kasar sambil menyapa mereka dengan bahasa indonesia.

__ADS_1


"Hai," ucapnya, lalu melempar gas dan mengurung mereka semua sampai mati. Teriakan itu terdengar sangat sahdu di telinganya.


------


__ADS_2