
Satu bulan kemudian .....
Dua tamparan keras dilayangkan mertuanya ke wajah Saira, ia tidak tahu apa lagi kesalahannya kali ini. Terlepas dari apa pun itu, hatinya menjerit perih karena Aksa membiarkan dirinya ditampar oleh ibunya sendiri.
"Aku sangat muak melihat wajahmu, bisakah kau enyah dari hadapanku!" teriak Rika marah.
Saira menatap ke arah suaminya. Namun, lagi-lagi hatinya terobek perih, saat melihat Aksa tertawa bahagia di ujung ruangan bersama Izora, tanpa memperdulikan perasaannya. Bukankah bulan lalu mereka sudah sepakat untuk berdamai? Tapi kenapa sekarang tampak tak acuh. Ia melangkah penuh nelangsa menyusuri taman untuk mengobati keperitan hatinya.
"Ini sangat menyakitkan.” Ia meremas dadanya yang amat terasa sesak.
"Kapan semua ini akan berakhir ya Allah." tatapannya kosong melayang ke langit yang kini mulai berubah senja. Jika bisa memilih waktu, ia tidak ingin dilahirkan agar tidak melakukan kesalahan begitu besar. Ia hanya ingin menjadi bintang di langit.
"Tuhan, izinkan kelak aku menjadi bintang di langitmu," lirihnya tersenyum penuh makna.
🐠🐠🐠
Kabar duka tengah menyelimuti keluarga Andri, Izora mengalami kecelakaan yang parah saat pulang dari rumah Aksa. Hal itu hingga menyebabkan ginjal sebelah kanannya harus segera diangkat. disebabkan mengalami kerusakan parah akibat benturan keras. Jika tidak, akan membahayakan nyawanya.
__ADS_1
Mereka sedang menunggu di depan UGD dengan perasaan bercampur aduk antara takut, dan khawatir tak terkecuali Aksa. Saira juga ikut merasakan ketakutan jika sampai terjadi sesuatu pada kakaknya. Ia duduk di kursi paling pojok karena kehadirannya di sini tidak akan terlihat oleh siapa pun.
Terlihat seorang dokter keluar dari ruang UGD dengan wajah kelahnya.
"Keluarga pasien?" .
"Iya dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Andri khawatir.
dokter tersebut menarik napas panjang.
"Kecelakaan yang di alami pasien sangat parah, sehingga menyebabkan ginjal sebelah kanannya harus segera diangkat. Jika tidak segera di operasi, pasien bisa kehilangan nyawanya. Kita butuh pendonor secepatnya," ucap dokter tersebut dengan nada menyesal.
"Baiklah, kita akan memeriksa seberapa cocok ginjal Anda dengan pasien," ucap dokter yang bernama Yulia.
Saira sudah melakukan serangkaian tes dan hasilnya cocok dengan pasien. Awalnya dokter tidak mengizinkan Saira melakukannya jarena kondisinya sendiri sangat tidak memungkinkan. Tanpa ragu sedikit pun, ia mendonorkan ginjalnya meski dengan risiko yang besar. Tekadnya sudah bulat, ia akan menebus kesalahannya pada Izora serta keluarganya. Setelah itu ia akan pergi jauh dari mereka semuanya, menuju tempat yang tidak ada jalan untuk kembali.
"Apa Anda yakin?" tanya Dokter dengan ragu mengingat risikonya sangat besar untuk seorang pendonor.
__ADS_1
"Saya yakin Dokter," ucap Saira.
"Tapi nyawa Anda bisa dalam bahaya mengingat Anda juga memiliki masalah dengan ginjal."
"dokter, saya pasti akan meninggal, sebelum itu saya ingin membuat anggota tubuh saya berguna untuk yang membutuhkan."
Mendengar kalimat Saira, dokter teraebut tampak sangat terharu. Ia tidak tahu jika masih ada orang yang memikirkan orang lain.
"Tapi bisakah dokter merahasiakan identitas saya," ucapnya penuh permohonan. Ia tidak suka jika harus di kasihani.
Tatapan wajah dokter tersebut terlihat bingung.
"Saya berhutang budi pada keluarganya dok," ucap Saira.
"Baiklah, tiga hari lagi operasinya akan dilaksanakan." putus Dokter tersebut. Gadis itu menarik napasnya lega. Setidaknya ia bisa melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya.
Dokter Yulia segera menemui Keluarga pasiennya untuk memberikan kabar bahagia ini.
__ADS_1
"Ada kabar baik Pak, ada seseorang yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk putri Bapak, " ucap dokter Yulia tersenyum.