Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Calon Tunangan


__ADS_3

"Memangnya ada makanan seperti itu. Indonesia memang terkenal kaya akan kulinernya. Kamu harus membawa Mama menjaja makanan Indonesia sampai puas."


Saira dan Romeo tertawa bahkan Alyne yang sejak tadi mati kutu pun ikut tertawa. Berada dalam lingkungan keluarga seperti ini membuatnya merindukan sosok seorang ibu. Ia mendadak murung dan melempar tatapan.


"Alyne, ayo makan lagi." Halena menatap Alyne yang sedang terlihat murung.


"Kamu kenapa?" tanya Halena lembut.


"Ma, Alyne mungkin sedang butuh waktu sendiri," ucap Saira paham apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu.


Melihatnya yang sedang bersama kedua orang tua Evellyn membuat Alyne ingin merasakan apa yang tidak pernah ia rasakan. Rasa penasaran dan haus kasih sayang pasti sedang menggerogotinya dengan kejam.


Mereka pun menghabiskan waktu dengan bercanda ria. Sesekali William bertanya mengenai perkembangan perusahaan milik Romeo yang sedang ia jalankan. Lalu membicarakan kerja sama keduanya.


------


Kabar kedatangan William mulai terdengar di perusahaan Romeo. Pagi ini pria itu akan berkunjung untuk urisan bekerja sama dengan perusahaan milik Romeo.

__ADS_1


"Eh, udah dengar belum kedatangan tamu istimewa dari Autralia. Kabarnya putri mereka akan segera bertunangan dengan Pak Romeo."


"Benarkah, aku tidak sabar ingin menyaksikan wajah penuh putus asa milik gadis kesayangan sesaat itu."


Mereka terkekeh membayangkan betapa akan merananya gadis yang mereka kenal bernama Lyn. Calon tunangan Romeo cantik dan sangat modis. Berbeda dengannya yang udik dengan penampilan kuno.


"Lihat deh, dia nggak nongol dan pasti sakit hati banget karena sudah di php in sama Pak Romeo."


Mereka mengejek Saira saat seseorang dengan penampilan luar biasa masuk ke dalam perusahaan. Rambut yang digerai indah bersatu dengan kemeja yang ia kenakan dan rok sepanjang lutut dengan hils sepanjang sembilan cm. Beberapa pasang mata menatap takjub dan iri saat melihatnya.


"Lihat, itu tunangan Pak Romeo, dia sangat cantik dan menawan."


Beberapa karyawan mencoba basa basi dengannya termasuk mereka bertiga. Saira mengangkat alisnya dan menatap mereka dengan tatapan datar dan menusuk. Elca yang sedang memasuki lobby juga ikut terpana melihat gadis cantik sedang berdiri di depan lift bersama tiga wanita yang diketahui sering menyindir dan menatap kesal kepada Saira.


"Selamat pagi Elca," ucap Saira dengan senyum ceria.


"Pagi juga, Bu." Elca menjawab dengan kaku. Lantaran dia tidak mengetahui siapa gadis cantik yang sedang menyapanya.

__ADS_1


"Masa tidak mengenaliku," ucap Saira tersenyum misterius. Membuat ketiga gadis itu heran dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin Elca bisa mengenal calon tunangan dari atasan mereka. Apalagi sapaan mereka tampak diabaikan sedangkan Elca tampak dilayani dengan baik oleh Saira.


"Maaf jika saya lancang, tapi saya benar-benar tidak mengetahui siapa Anda."


Elca menunduk takut, tapi seingatnya gadis secantik itu belum pernah ia lihat apalagi kenal dengannya.


"Nanti juga kamu akan tahu sendiri," kekeh Saira.


Mereka berhenti di lantai tempat ruangan Elca berada. Ia dan tiga gadis itu heran melihatnya ikut keluar di lantai yang sama.


"Menurutmu apa yang akan dia lakukan di lantai ini?" tanya salah satu dari mereka dengan kepo.


"Kalau boleh kutebak, dia mau menjumpai Lyn dan memberinya peringatan agar tidak ganjen dengan tunangannya. Bagaimana menurutmu?" tanya yang lainnya.


"Aku setuju bagian itu."


Mereka bertiga sangat senang jika apa yang mereka pikirkan akan segera terjadi.

__ADS_1


---------


__ADS_2