Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kebahagiaan yang Aneh


__ADS_3

"Kamu yakin dia bisa membahagiakan Alyne?” Tanya Saira dengan serius. Dia tidak ingin sahabatnya mendapatkan lelaki yang kelak hanya menyampakkannya. Kehidupan Alyne sudah sangat berat dan Saira tidak ingin sahabat yang dia cintai menderita seperti dia di masa lalu.


“Sayang, aku kenal baik sama Danish.”


“Kenal baik belum tentu baik untuk orang lain. Kamu ingat kan aku kenal baik dengan Aksa, tapi lihat saat kami bersama dia membuatku menderita.”


“sayang, jangan bahas pria itu lagi, aku tidak suka mendengarnya!” Peringat Romeo. Setiap mendengar nama Aksa kemarahannya selalu berhasil memuncak. Dia bisa membayangkan luka kekasihnya.


“Apa sekarang kamu cemburu?’ tanya Saira sambil terkekeh geli melihat wajah Romeo.


“Alih-alih cemburu, aku lebih marah.”


“Bagaimana kalau kita menguji Danish. Dia harus lulus tes dariku sebelum layak memiliki Alyne.” Saira mengganti topik pembahasan mereka karena pembahasan tadi bisa merusak mood kekasihnya.


“Caranya?’ tanya Romeo. Dia setuju saja dengan tes yang Kana dilakukan Saira untuk mengetahui seberapa layak temannya untuk Alyne.


“Tapi awas ya kalau kamu bilang sama Danish. Tesnya harus jujur, adil dan beradap. Nggak boleh ada yang namanya KKN.” Peringat Saira dengan tajam. Romeo menganguk dan terkekeh geli melihat kelakuan Saira.

__ADS_1


“Wah, Danish jalanmu tidak akan mudah kawan.” Kekehnya lagi dan membayangkan kejutan apa yang akan diberi oleh Saira.


Alyne memandangi langit dan sudah tidak terhitung lagi jumlah tarian napasnya sejak tadi. Dia tahu, keputusan yang dia buat tidak akan pernah mudah. Begitu juga dengan pria yang memilih hidup bersamanya. Alyne tidak akan banyak berharap karena harapan tinggi pada manusia hanya akan membawanya pada sebuah kekecewaan berkepanjangan.


“Sekarang semua kuserahkan padamu Danish. Jika sudah mendapat jawabannya hubungi aku.”


Alyne akan segera beranjak dari sana karena Danish tampak diam tidak berkutik apa pun. Dari raut wajahnya Alyne sudah mengetahui apa yang sedang ada dalam pikiran kekasihnya. Apa pun itu dia akan menghormatinya. Dia percaya setiap orang punya keputusan penting dalam hidup mereka, sudah sepantasnya Alyne menghormatinya.


“Setelah mengatakan hal mengejutkan, kamu akan pergi begitu saja?” Tanya Danish tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alyne.


“Karena tidak ada yang bisa kulakukan selain memberimu waktu. Keputusan ku akan mengubah hidupmu. Kamu harus memikirkannya dengan sangat matang.” Peringatnya.


Alyne yang belum siap dicampakkan hanya mampu menarik napas dalam-dalam kemudian melepaskannya dengan kasar. Gurat wajahnya terlihat tertekan dengan apa yang akan disampaikan oleh Danish.


“Apa kamu tidak bisa menundanya saja?’ tanya Alyne mencoba bernegosiasi.


“Alyne, kita tidak sedang transaksi narkoba, apalagi senjata api. Tolong dengarkan apa yang akan kusampaikan dengan saksama. Jangan pernah memotongnya atau pun kabur dariku.”

__ADS_1


“baiklah, katakan saja.” Wajah Alyne tampak pasrah luar dalam.


“Sebelum memberimu jawaban, aku akan lebih dulu mengatakan sesuatu mengenai diriku yang belum kamu ketahui.” Danish menatap dalam mata Alyne yang sudah gugup sejak tadi. Dia kemudian menundukkan pandangannya karena tidak sanggup menatap wajah Danish lebih lama lagi.


“Sebenarnya aku mandul.”


Alyne mendongakkan wajahnya dan menatap dalam mata Danish mencoba mencari kebohongan. Tapi tidak bisa dia temukan. Dia bisa merasakan Danish meraih jemarinya dan menggenggam nya erat. Danish meletakkan tangan Alyne di dada bidangnya. Tempat di mana jantungnya sedang berdetak menggila karena takut Alyne tidak bisa menerima kondisinya.


“Setiap bersamamu, jantung ku selalu berdetak menggila. Setiap malam aku selalu ketakutan saat ingin jujur mengenai kondisiku. Takut kamu tidak bisa menerimanya lalu meninggalkanku. Ketakutan itu terus bersemayam dibenakku apalagi kamu selalu bersikap cuek.”


Alyne menggelengkan kepalanya karena ketakutannya dengan Danish sama. Dia juga takut ditinggalkan oleh pria itu. Alyne segera memeluk Danish erat dan menangis. Dia tidak menyangka kekasihnya memiliki ketakutan yang sama dengannya. Danish mengelus lembut punggung Alyne yang bergetar hebat. Dia sangat takut akan mendengar jawaban yang tidak dia inginkan. Hanya Tuhan yang tahu betapa bahagianya dia mendengar kabar tersebut. Mungkin dia sedang jadi wanita jahat karena bahagia di atas kemandulan kekasihnya. Tapi dia benar-benar tidak ingin memiliki anak.


“Kamu membuatku ketakutan, bisa-bisanya tidak mengatakan hal sepenting itu kepadaku.” Omel Alyne masih dengan tangisnya.


“Aku sangat berterima kasih karena kamu tidak ingin memiliki anak.” Kekeh Danish tersenyum senang.


“Dasar kurang ajar, tapi aku sangat bahagia sayang.”

__ADS_1


“Aku juga sangat bahagia cintaku,” ujar Danish so sweet.


__


__ADS_2