
"Evellyn menghilang!" teriak Saira dengan kalut. Suaranya juga tampak sangat panik dan hampir menangis.
"Tarik napa dulu, tenangkan dirimu."
"Bagaimana aku bisa tenang, Saira diculik entah oleh siapa, aku akan membunuh orang itu!"
"Alyne, Saira baik-baik saja, jangan khawatir."
"Apa kamu tidak lagi mencintainya, aku bisa tahu kamu tidak mengkhawatirkannya sama sekali."
"Untuk apa dikhawatirkan, dia sedang memelukku saat ini." kekeh Romeo membuat Alyne lega.
Tapi sedetik kemudian, dia memberondongi pertanyaan membuat Romeo pusing.
"Datanglah ke apartemen Greylord Nature lantai 20."
Setelahnya ia mematikan panggilan dan membuat Alyne segera bergegas pergi ke sana. Ia sudah menyiapkan berbagai jenis sumpah serapah untuk ia lampiaskan pada Romeo. Pria itu sudah berani membuatnya khawatir setengah mati. Lalu mengabaikan panggilannya sebanyak dua puluh kali.
Setelah sampai Alyne memencet bel demgan brutal. Di dalam Romeo tertawa mendengar suara Bel khas Alyne yang sedang marah. Ia sudah siap dengan segala amukan gadis cantik itu. Romeo mengirim sandinya pada Alyne karena ia tidak bisa bangun.
"Romeo di mana dirimu!" teriak Alyne marah-marah.
Kembali pesan masuk ke ponselnya.
"Aku berada di kamar."
__ADS_1
Alyne segera membuka pintu dan di sana Romeo memasang wajah tanpa dosa sembari memberi isyarat pada Alyne agar diam. Tapi gadis itu sudah kesal. Dia berjalan ke arah Romeo dan memukulinya dengan bantalan sofa yang dia bawa dari luar.
"Stop Alyne, kau akan menyesal kalau melanjutkannya. Aw," ringis Romeo menggoda Alyne yang semakin dibuat marah.
"Ini hanya bantal, bukan kayu! Minggir dari sana." kesal Saira.
"Alyne, aw kau menyakiti kekasihku."
"Eve, bangun!"
Alyne membuka kain yang menutupi tubuh Saira dan ia terkejut melihat apa yang ada di depannya. Ia lalu menatap Romeo dan bergantian dengan bantal guling yang dipeluk erat oleh Romeo. Alyne jatub terduduj dan menyadari sesuatu.
"Di mana, Eve?" tanya Alyne dengan suara tercekat.
Romeo mengernyit bingung melihat reaksi Alyne. Jelas-jelas Saira sedang bersamanya saat ini. Ia melihat ke sebelahnya dan Saira masih tidur dengan lelap.
"Di mana Eve?" tanya Alyne sambil menangis.
Ia menatap Romeo dengan wajah sedih. Bahunya kembali bergetar saat menyadari Romeo sedang tidak baik-baik saja.
Romeo meletakkan kepala Saira ke bantal dan berjalan mendekati Alyne.
"Alyne apa yang kau katakan, Eve sedang tidur di ranjangku."
"Romeo, dia bukan Evellyn, dia hanya bantal guling!" isak Alyne dengan menderu.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Romeo heran sekaligus tertawa. Ia yakin kalau Alyne sedang bercanda.
"Alyne jangan bercanda, ayo sapa Eve."
Alyne semakin menangis melihat keadaan Romeo. Ia sangat sedih kenapa kisah percintaan Saira dan Romeo begitu rumit. Romeo sampai menciptakan kekasih khayalannya menggunakan guling. Alyne bangun dan memegang tangan Romeo.
"Alyne apa yang kau ...."
Alyne menangis sesugukan dan menatap Romeo dengan dalam. "Romeo, kamu harus bisa melihat kenyataan. Aku turut terluka melihatmu seperti ini."
Romeo semakin dibuat bingung oleh kelakuan Alyne yang seolah melihat ia sedang tidak waras. Jelas-jelas Alyne lah yang tidak waras. Saira sedang tidur di ranjangnya dengan pulas. Kini Romeo yakin kalau Alyne sedang berhalusinasi. Ia menatap Alyne dengan prihatin sekaligus menyesal.
"Alyne, aku tahu bagaimana perasaanmu. Kuharap kau akan segera sadar."
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Saira tapi hanya Romeo yang mendengarnya.
"Ini Alyne bertingkah aneh sayang."
"Alyne? Di mana dia?" tanya Saira.
"Romeo, kau kembali bertingkah aneh." Alyne kembali menangis karena kini Romeo mulai berbicara dengan guling.
Komen yang kocak minimal 120 saya akan update lagi 2 bab 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
duh duhhhh mules lagi.