
Saira menguap beberapa kali melihat pekerjaan Alyne yang tiada habisnya. Ia memakan cemilan yang disiapkan oleh Alyne di atas meja.
"Masih lama?" tanya Saira dengan mulut penuh.
"Habiskan dulu makanannya baru ngomong, nanti keselek loh."
Saira menelan makanannya setelah dikunyah dengan halus. "Jadi apa masih lama?"
"Satu jam lagi selesai, kenapa?" tanya Alyne sambil menatap layar laptopnya dengan serius. Sesekali ia juga menjangkau cemilan untuk mengisi mulutnya yang terasa hampa.
Ponsel Saira berdering, nama ayahnya tertera di sana. Hal itu membuat Saira menghela napas.
"Iya, Pa. Kenapa?"
"Iya, besok Saira kembali tapi Papa harus janji dulu."
"Hem, iya Pa. Titip salam buat Mama, bilangin ke Mama jangan sampai sakit."
Alyne menghentikan kegiatannya dan menunggu Saira menyelesaikan panggilannya.
"Bos Besar nyuruh kamu pulang?"
__ADS_1
Saira mengangguk dan kembali memakan cemilannya. Saira melihat kearah Alyne yang kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia teringat kemarin pria jelek itu datang dan mengancam akan datang kembali kemari. Ia harus memberitahu segera.
"Alyne, ada yang ingin kuberitahu tapi kau lanjutkan saja pekerjaanmu."
"Katakan saja kalau begitu."
"Ini mengenai pria jelek, maksudku pamanmu."
Alyne menghentikan kegiatannya dan melihat serius ke arah Saira yang sedang menyuap cemilan ke mulutnya.
"Apa dia datang kemari? Apa dia menganggumu?" tanya Alyne bertubi-tubi.
"Kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Saira.
"Ah, mengenai hal itu, aku berhasil mengusirnya tempo hari tapi katanya dia akan membalas dendam padamu. Apa kau tidak takut?" tanya Saira penasaran.
Alyne menghela napas pelan dan menatap Saira dengan tatapan entahlah. Saira sendiri tidak tahu harus menjabarkan seperti apa. Yang pasti Saira tahu Alyne tidak sedang baik-baik saja.
"Sebenarnya aku sudah biasa dengannya. Maksudku tidak terlalu ambil pusing lagi, tapi mendengar ucapanmu barusan, entah kenapa bulu kudukku merinding begitu saja."
Saira tertawa mendengar penuturan Alyne. Ia menuntaskan cemilannya kemudian bangun dari sofa kecil yang sudah menampung tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?"
"Pulang, apa kau mau ikut?" goda Saira dan berhasil membuat gadis dengan rambut sebahu itu nyegir kuda.
"Ya sudah, bersiaplah!"
Mereka segera menuju kediaman keluarga William dan mobil dinas milik Alyne sudah terparkir indah di halaman yang sangat luas. Sekelilingnya ditumbuhi bunga dengan corak beragam dan warna warni.
"Selamat datang Nona, silakan Tuan Besar sudah menunggu di dalam."
Saira menganguk dan memasuki rumahnya bersama Alyne yang setia mendampinginya. Ia melihat ayahnya beserta sang ibu sudah menunggu di ruang tamu. Saira juga melihat Tasma bersama putrinya berada di sana. Wajahnya tampak sangat congkak.
"Sayang ...." Halena menghampiri Saira yang sudah berada di ruang tamu dan William juga tampak sangat senang meski rautnya tidak terlalu kentara seperti istrinya.
"Mama hampir sakit jantung pas tahu kamu pergi." ceritanya sambil membawa Saira ke ruang tamu.
"Alyne, ayo!" ajaknya sekalian dan mempersilakan Alyne duduk di samping Chloe yang menatap tidak suka padanya.
William berdehem beberapa kali lalu menatap Saira yang sedang menatapnya dengan datar. Tidak ada raut apa pun di wajahnya. Sebenarnya Alyne heran dengan reaksi yang Saira berikan pada sang ayah, gadis itu terkadang terlihat datar, dingin dan menyenangkan sewaktu-waktu.
-------
__ADS_1
Holla guys jangan lupa dukung cerita ini ya, terima kasih banyak.