Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Jangan Macam-macam


__ADS_3

Setelah selesai, ia segera mengirim kepada kepolisian dan menyuruh mereka mengusut hal ini. Saira tidak akan membiarkan siapa pun menindas dirinya. Semua perbuatan akan ada balasannya. Wajah mereka terpampang dengan jelas dan tersenyum. Mereka tidak tahu jika Saira sudah menjadikan itu semua sebagai bukti. Mereka akan segera merasakan akibatnya.


"Siapa pun mereka, aku akan membuat mereka mendekam di penjara karena sudah melakukan semua ini."


"Sayang, itu cuma telur."


"Iya, sekarang telur tapi nanti apa? Bom? Bertindak itu jangan sampai nyawa di ujung tanduk. Tapi kita harus bisa mencegah."


"Iya, iya kekasihku memang sangat cekatan dan juga seorang pendendam."


"Kau benar, aku selalu membalas orang dengan apa yang mereka lakukan kepadaku! Kau juga akan kubalas jika nanti setelah menikah, berani melukaiku."


Romeo sangat merinding mendengar Saira mengatakan hal tersebut. Ia jadi takut jika sampai melakukan kesalahan pada Saira kelak.


"Kenapa? Kauu takut melakukan kesalahan?"


"Siapa yang takut, aku tidak pernah takut melakukan kesalahan sama kamu sayang. Karena aku tidak akan pernah melakukannya.


"Kita lihat saja nanti, kalau sekarang bilangnya tidak akan begini dan tidak akan begitu."

__ADS_1


Mobil Romeo sudah sampai di depan perusahaannya. Dengan segera mereka melangkah memasuki lobi dan disambut oleh sepasang mata yang menatap dengan geram. Wanita yang sudah menaruh hati pada Romeo sejak pertama mereka bertemu.


"Mereka makin lengket, sialan!" dengkusnya kesal.


Tangannya mengepal erat, bagaimana pun caranya ia akan memberi gadis yang sudah merebut pujaan hatinya merasakan penyesalan. Tidak akan pernah ia maafkan sampai kapan pun. Ia pun segera menyusun sebuah rencana.


Di ruangannya, Saira yang baru sampai segera dihampiri oleh Elca yang menatapnya dengan takut.


"Lyn, ada yang ingin kusampaikan sama kamu, apa kamu ada waktu?"


Saira mengangguk. Elca menatap Saira dengan penuh harap. Jika Saira tidak bisa menolongnya dari jeratan itu maka hancur sudah kehidupannya. Ia akhirnya berani mengambil risiko berat ini karena ucapan Saira terus terngiang di telinganya. Lalu Alyne juga ikut meyakinkan agar dirinya mau bercerita pada Saira.


"Ada apa?" tanya Saira setelah mereka berada di kamar mandi.


Elca terisak saat mengingat semua hal yang menimpa dirinya.


"Aku akan menceritakannya saat kita pulang nanti," ucapnya dan Saira mengangguk.


Elca segera kembali sedangkan Saira masih membenahi dandananya dan sekalian membuang hajat. Seseorang masuk ke kamar mandi dan menendang pinti dengan kasar. Saira melirik ke arah wanita tersebut sambil menatapnya datar.

__ADS_1


"Apa pintu itu sudah berbuat salah padamu?" tanya Saira sarkastik.


"Saya ingatkan sama kamu, jangan pernah merebut Pak Asthon dan kamu, jangan sok kecantikan jadi orang."


Saira tersenyum miring, ia hendak berlalu dan langkah kakinya dicegat oleh dua orang. "Apa kantor ini tempat untuk seorang gengster atau tempat untuk kroyokan?"


"Wah, kurang ajar ini perempuan, minta dihajar!" kompor salah satu temannya membuat wanita itu tersenyum licik.


"Siapa nama kalian?" tanya Saira sambil melipat kedua tangan di dada.


"Buat apa tahu nama kami, mau kamu adukan sama atasan?" sinis mereka.


"Oh, bukan! Saya tidak suka mengadu pada atasan, alasan saya lebih tepatnya supaya bisa mencatat nama kalian."


"Buat apa?" hardik salah satu dari mereka. "Kamu hanya gadis manja yang kebetulan dilirik oleh Pak Asthon.


Saira mengeluarkan ponselnya setelah memotret mereka bertiga tanpa diketahui oleh mereka. Ia menerima panggilan dari seseorang.


"Pak Astin, cari tahu identitas dari poto yang tadi saya kirim, kalau sudah selesai segera kirim lagi sama saya."

__ADS_1


Saira tersenyum mematikan dan memainkan ponselnya.


-----------


__ADS_2