
Dia berkelana mencari sesuatu yang tidak kunjung ia temukan, sosok yang selalu terlihat menangis tidak kunjung ia temukan. Mereka seperti dipisahkan dan entah kenapa pria itu selalu merasakan kesakitan di setiap bait tangis itu. Ia ingin mendatanginya lalu memeluk dengan erat dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Saira bangun saat alarm nya berbunyi. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke suatu tempat. Ia memandangi dirinya dari cermin sedang yang menggantung di sana. Ia terlihat lebih kurus dari terakhir kali. Setelah dirasa selesai, ia segera keluar dan memakai pakaiannya.
Alyne terlihat sedang berkutat di dapur, menyiapkan beberapa sarapan dan melihat Saira turun. Ia tersenyum karena melihat gadis itu lebih segar dari biasanya.
"Selamat pagi," sapa Alyne membuat kening Saira terangkat.
"Sedang apa kau?" tanya nya.
"Sedang menyapamu."
"Maksudku yang lainnya."
"Sedang menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan kita."
__ADS_1
Saira segera duduk di meja dan menatap gadis itu dengan seksama. Melihatnya membuat Saira teringat pada Izora kakaknya. Bagaimana kabarnya sekarang, apakah mereka baik-baik saja atau sebaliknya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mengetahui kabarnya.
"Bagaimana kabar mereka?" taya Saira langsung saat panggilan diangkat.
"Kabar mereka? Ah apa yang kau maksud adalah mereka bertiga?" kekeh seseorang dari seberang.
Tangan Saira mengepal dengan sempurna mendengar suara pria tersebut. "Jika kau berani melukai mereka seinci saja, aku akan membunuhmu!"
"Jangan mengancamku, aku bisa melakukan apa pun untuk mereka. Mungkin mengirim jasad mereka kepadamu akan menyenangkan."
Alyne mengambil ponsel tersebut dan bertanya pada Saira apa yang sedang terjadi. Tangis Saira pecah, bahunya terguncang. Ia tidak sanggup lama dengan semua ini. Bagaimana bisa bersikap kuat jika sebenarnya dia sangat lemah. Apa lagi yang bisa ia lakukan saat ini. Pria itu akan merenggut semua yang dia miliki.
"Pria itu, dia akan merebut segalanya dariku Alyne! Dia akan melakukannya." teriak Saira menangis pilu. Alyne sungguh tidak bisa melihatnya seperti ini. Kehilangan Romeo menjadi pukulan paling mematikan dalam hidupnya.
"Eve, dengarkan aku! Jika kamu hanya menangis di sini, apa mereka akan bisa baik-baik saja?"
__ADS_1
Gadis itu menggeleng lemah, justru keluarganya akan berada dalam bahaya jika ia tetap seperti ini.
"Jika ingin mengalahkan iblis, kamu harus berpikir seperti iblis juga."
Mendengar ucapan Alyne, darah Saira mendidih. Gadis itu benar, jika ingin melindungi orang-orang yang dia sayangi, menjadi iblis adalah pilihan terbaiknya. Saira menghapus air matanya dan menatap Alyne dengan senyuman mengerikan.
"Apa kau siap mendampingi iblis ini!" seringainya dibalas senyuman oleh Alyne. Ia sudah mengatakan sebelumnya jika Eve tidak cocok menjadi lemah.
"Aku selalu siap mendampingimu Eve!" seringai Alyne. Keduanya adalah perpaduan yang sangat serasi.
Saira tidak akan lagi mengampuni siapa pun lagi yang sudah membuatnya gila seperti ini. Kehidupan tidak akan pernah cocok bagi mereka. Namun, kematian juga tidak akan mrmbuat Saira merasa puas. Ia akan melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dari kematian. Bahkan pria itu akan memohon kematian menjemputnya.
Halow Nisby semuanya, Aku punya panggilan khusus buat kalian. Panggilannya Nisby ya. Terima kasih doanya, aku udah lebih baik ya. Terima kasih Nisby 😘😘😘
__ADS_1