Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Ingin Memastikan


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" tanya Saira pada seseorang di seberang jalan.


"Sangat, terima kasih banyak!"


"Sama-sama, lagi pula kupikir kau memang sangat membutuhkan liburan, wajahmu menunjukkan semuanya."


Gadis di seberang tertawa mendengar kalimat yang diucapkan oleh Saira. Memnag selama ini ia sangat ingin pergi berlibur ke pulau dewata. Namun, belum pernah sekali pun tercapai karena beberapa alasan. Dia sangat senang karena Tuhan mengabulkan keinginannya melalui Saira. Gadis yang sudah banyak menolongnya.


"Ya sudah kalau begitu, nikmati liburannya Elca."


Saira segera menutup panggilannya dan segera pergi menemui Romeo yang sudah menunggunya di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Alyne, apa kau bosan di rumah?" tanya Saira.


"Tidak," ucapnya.


Saira mengalihkan tatapan pada Izora yang masih menatapnya dengan takut-takut.


"Bagaimana denganmu?" tanya Saira.


"Aku juga baik-baik saja di rumah," ucapnya.


Saira menatap dirinya dengan serius, dia tahu bahwa Izora sedikit takut padanya. "Pergilah keluar!"


Gadis itu terkesiap mendengar perintah Saira. Saira terlalu misterius untuk dia tebak jalan pikirannya. Terkadang galaknya mengalahkan singa, tapi kali ini terlalu baik. Ia melihat isyarat dari Alyne yang menyuruhnya untuk bersiap-siap. Sedangkan Saira sudah lebih dulu meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Apa kau sudah siap?" tanya Saira pada Izora yang masih di kamar.


"Sudah, ayo!"


Mereka segera pergi menuju tempat yang direkomendasikan oleh Izora.


"Sudah lama menunggu?" tanya Saira saat sudah sampai di tempat Romeo.


"Aku juga baru sampai ke sini, jika hanya menunggumu selama tiga puluh menit, bukan sebuah masalah."


Saira kembali dibuat tertawa oleh gombalan Romeo. Entah kenapa setiap gombalan yang keluar dari bibir pria itu selalu berhasil membuatnya tertawa dan bahagia.


"Jadi, kapan kita akan kembali ke Australia?" tanya Romeo.


"Lalu, bagaimana dengan keluargamu yang di sini? Apa kau tidak akan merindukannya?" tanya Romeo serius.


"Antara iya dan tidak," ucapnya.


"Kenapa begitu?"


"Karena setidaknya mereka sudah tidak memiliki penyesalan lagi dan aku juga sudah bahagia karena melihat mereka bahagia seperti sekarang. Namun, aku harus memastikan satu hal sebelum pergi ke Australia."


"Mengenai hal apa?" tanya Romeo penasaran.


Seseorang datang sambil membawa pesanan mereka. Romeo selalu memberi tips bagi mereka yang menyajikan makanan untuknya.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan!"


Romeo hanya tersenyum dan kembali menatap Saira. Gadis itu terlihat sedang memutar minuman yang baru tadi sampai.


"Mengenai hubungan Izora dan Alvin, putra dari Wira."


"Kenapa mereka bisa berpacaran?" tanya Romeo heran.


"Entahlah, untuk itu aku harus memastikan sesuatu sebelum meninggalkannya bersama pria itu. Melihat ayah dan kakaknya seperti iblis, aku takut dia juga seperti itu."


"Apa yang akan kamu lakukan sayang?"


"Aku akan mengetes pria bernama Alvin, jika dia pria baik-baik dan mencintai kakaknya, dia pasti akan melakukan apa pun."


Romeo mengangguk mendengarnya, kekasihnya memang berbeda dengan karakternya yang jauh dari kata cuek seperti kelihatannya. Bahkan saat pertama kali mereka bertemu, gadis itu sangat cuek dan enggan mengambil pusing mengenainya. Jika di luaran sana banyak gadis yang melata mendekatinya. Baik anak menteri atau pun anak pengusaha, ia selalu menolak mereka karena sangat murahan.


"Kau kenapa?" tanya Saira saat melihat pria itu tersenyum menatap ke arahnya.


"Hanya teringat secuil masa lalu."


Mereka berdua tertawa bersama saat mengingat awal pertemuan mereka yang terlihat konyol.


------


Maaf guys, aku nggak update kemarin, karena lelah hayati bikin kueh 🤣🤣🤣🤣🤣 maklum mau lebaran hahahahhaa

__ADS_1


__ADS_2