Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Saira mengetuk pintu kamar Izora, sejak tadi tidak kunjung ada jawaban. Ia mencoba memutar handel pintu. Membuka pelan dan kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Saira melihat jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Saira mengecek semua ruangan. Tapi tetap hanya kekosongan yang menyambutnya.


"Kemana dia?" tanya Saira sambil celingak celinguk.


Ia segera turun dan bertemu dengan Alyne di dapur. "Apa kau melihat Izora?"


"Tidak, biasanya dia selalu berada di sini kalau sudah jam enam."


Saira mencari ke seluruh ruangan tapi tidak kunjung ditemukan. Lalu Alyne bertanya.


"Apa jangan-jangan dia pergi dari sini?"


"Tidak mungkin, aku sudah melarangnya untuk tidak pergi dari sini.


"Coba cek kamarnya, siapa tahu dia memang benar-benar pergi dengan alasan yang tidak diketahui."


Saira teringat sesuatu, "Apa mungkin dia mendengar pembicaraan kita tadi malam?"

__ADS_1


Alyne ikut teringat dan segera mengecek kamar yang gadis itu tempati, Saira juga ikut mengekor dari belakang dan Alyne segera memeriksa almari yang sudah kosong. Tidak ada apa pun di sana. Lalu Saira menemukan secarik kertas yang terselip di balik bantal. Ia mengambil dan membacanya.


"Dia sudah pergi, Lyn!"


Alyne segera mengambil surat tersebut dan ikut serta membacanya.


"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Alyne.


"Biarkan saja, aku akan menyuruh seseorang untuk tetap memantaunya. Aku hanya tidak ingin Wira mengetahui hal ini dan membuat keributan dengan menimbulkan masalah baru."


Alyne menganguk paham. Gadia itu segera mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Buat pegangan mana tahu Si Yudi sialan itu berbuat macam-macam."


Gadis itu tertawa mendengar ucapan Alyne. Semakin lama gadis itu semakin terlihat mengerikan. Lihatlah apa yang dia bawa, setrum kecil yang ia dapatkan entah dari mana. Saira yakin jika Yudi terkena benda tersebut ia akan pingsan seketika. Saira segera turun terlebih dahulu dan segera makan. Sisanya akan ia urus setelah selesai makan. Ia harus mencari pria bernama Alvin untuk memberi Wira pelajaran.


Alyne membuka siaran televisi dan melihat berita mengenai Wira yang dinyatakan sebagai pengusaha paling dermawan. Sudut garis Saira terlihat menyungging melihatnya. Ia lalu menelpon pria yang sudah ia percayai.

__ADS_1


"Kerja bagus, kita akan menggulingkan dua orang sekaligus. Kejahatan tidak akan bisa ditumpas kalau akarnya melindungi hama."


Pria di seberang sedikit tertawa memdengar kalimat yang keluar dari mulut Saira. Ia menyadari betul jika kalimat tersebut mengandung makna yang besar. Maka apa pun yang akan terjadi, dirinya akan memberantas setiap kejahatan. Atasannya memang memiliki tabiat yang tidak baik, sering kali berbuat sesukanya. Apalagi jika ada salah satu dari rekannya yang bermasalah, ia akan menjadi tameng pelindung seperti yang terjadi kali ini.


"Apa kau sudah siap dengan segala kemungkinannya?" tanya Saira dengan alis bertaut.


"Saya siap," ucap pria yang biasa disapa Riko.


"Kalau begitu, kau harus ikut berjuang untuk melawan ketidakadilan yang selama ini membelenggu kalian semua." terang Saira dengan tegas.


"Wali, kau tidak tahu sedang bermain dengan siapa? Kau pikir semudah itu membersihkan nama pria itu? Bahkan kejahatanmu ada padaku!"


Saira tersenyum jahat membayangkan segala kemungkinan yang akan dihadapi Wali nantinya. Ia akan menyaksikan bagaimana pria itu akan menangis karena kehilangan segalanya. Kehormatan, keluarga serta jabatannya. Ia hanya akan dikenal sebagai koruptor.


"Dasar pria bodoh, itulah kenapa ada pepatah mengatakan pilihlah takdirmu."


------

__ADS_1


Gais maaf baru update,


__ADS_2