
"Tuhan sangat mencintaimu sampai tidak ingin jauh darimu," ucap Alyne tenang.
"Mana ada Tuhan mencintai umatnya melalui hal seperti ini, Alyne. Aku bahkan tidak lagi berharap apa pun."
"Eve, semua yang kita alami selalu ada yang bisa kita petik pelajarannya."
"Aku tahu, tapi hatiku terlalu banyak diselimuti luka, entah sampai semua akan kembali."
"Meski dunia menyudutkanmu, aku akan selalu berada di sampingmu."
"Aku tahu, kamu adalah sahabat terbaikku, terima kasih Alyne."
"Jangan pernah mengatakan terima kasih padaku."
Sesampainya di hotel, Saira segera pergi ke kamar mandi untuk mmbersihkan tubuhnya. Di bath up dia merenung panjang sampai tidak sadar kalau air mata jatuh membasahi pipinya. Perlahan ia menangis dan meringkuk.
"Kenapa semua yang kumiliki harus diambil, apa karmaku masih berlanjut? Bagaimana kau melakukan ini semua kepadaku Tuhan. Bagaimana?"
Alyne tahu Saira sedang sangat butuh sendirian, ia memutuskan pergi dari sana menemui seseorang yang bertanggung jaeab atas semua kehilangan yang dirasakan Saira.
__ADS_1
"Aku keluar sebentar," itulah isi pesannya.
Sesampainya di perusahaan milik Romeo, Alyne segera meminta menemui Romeo tapi seseorang yang berdiri di depan ruang Romeo melarang keras. Tidak peduli dengan apa pun, Alyne menerobos masuk dan menatap Romeo dingin. Dia sedang berciuman panas dengan Angelina bahkan gafis itu hampir telanjang.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Angelina.
"Hanya ingin memberi sedikit wejangan!"
"Apa bosmu memintamu mengemis lagi?" tanya Romeo dengan nada sindiran.
Alyne bahkan tidak mengubah raut wajahnya. Ia berjalan ke arah Romeo dan menampar pria itu dengan keras.
"Apa yang kau ...," ucap Angelina terhenti saat tangan Alyne ikut mendarat di pipi mulusnya.
"Beraninya kau menampar ...."
Kembali tangan Alyne mendarat di pipi Angelina yang menurutnya terlalu cerewet. Ia tidak menyukainya sama sekali.
"Dengarkan aku Romeo Asthon Dominic! Aku tahu kau mengalami lupa ingatan, dan sangat menikmatinya. Sama seperti kau kehilangan ingatan maka, kau juga akan kehilangan
__ADS_1
wanita yang paling penting dari hidupmu."
Kini Alyne menatap Angelina tajam. "Kau, sama seperti bosku kehilangan bayinya. Kau juga akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu. TUNGGU DAN SAKSIKAN!"
Setelah selesai, Alyne pergi dari sana dengan menimbulkan beragam pertanyaan abstrak di benak Romeo. Siapa yang akan kehilangan, siapa Alyne dan wanita yang tadi siang dia permalukan. Kepala Romeo kembali sakit dan jatuh pingsan. Sedangkan Angelina gemetar di tempat ia terduduk sebelum berteriak meminta bantuan.
Saira keluar dari kamar dan melihat sebuah surat dari Alyne. Bertepatan dengan itu suara pintu terbuka dan menampilkan Alyne dengan wajah senang. Terlihat ada rasa puas di sana.
"Alyne, dari mana saja?"
"Memberikan pelajaran untuk orang-orang brengsek yang sudah membuatku kesal, marah dan sedih."
"Oh, ya? Kau ini masih saja sama." kekeh Saira.
"Aku akan tetap bersikap sama sebagai pelindungmu. Selagi kamu hidup, aku akan terus hidup dan melakukan apa pun untukmu. Itu adalah janjiku saat kau memutuskan menolongku dulu."
"Alyne, aku akan senang jika kamu memiliki pasangan hidup."
"Kita lihat saja nanti."
__ADS_1
-----
udah jangan esmoni jiwa..semua ada hikmahnya wkwkwkwkwk semangat gaisss