
Reaksi Angel yang mulai mengalami depresi pun membuat Saira semakin buas melakukan aksinya. Ia tidak akan pernah puas sebelum gadia itu merasakan penderitaan yang sesungguhnya.
"Ah, seharunya kau itu malu pada Tuhan atau pada ibu yang sudah mengandungmu. Dia seharusnya tahu bahwa mengandungmu perbuatan yang sangat sia-sia. Kalau aku jadi ibumu, aku akan lebih memilih mati dari pada harus melahirkan iblis sepertimu."
Kini Angel jatuh terduduk di lantai, ia meringkuk di sudut ruangan sembari menarik rambutnya kasar. Saira tersenyum sadis melihat semua itu. Mungkin sekarang tidak ada lagi kewarasan yang tertinggal dalam dirinya. Kehilangan kekasih, kehilangan bayinya, dan ia sudah kehilangan segalanya. Tidak ada lagi yang bisa ia perjuangkan.
Saira mendekati Angel yang masih ketakutan dengan masa lalunya. Ia jongkok dan memegang dagunya.
"Jika kau berani mati sebelum kuinginkan, ibumu akan membayar semua kejahatanmu padaku."
Saira melangkahkan kakinya keluar dari sana tapi ia menghentikan langkahnya dan menatap Angel datar.
"Jika ingin bermain, jangan salah memilih lawan! Kau hanya melihatku dari luar tanpa melihat apa yang bisa kulakukan pada orang-orang yang berani mengangguku!"
Setelah kepergian Saira, Angel mulai berhalusinasi. Ingatan yang sudah lama ia kubur, kini bangkit kembali menghantuinya. Ia semakin dihantui rasa bersalah sampai melihat seorang bayi yang penuh darah menatapnya tajam. Ia yakin itu adalah bayi Saira yang meninggal karena perbuatannya.
"Tidak, tidak, pergi dari sini!"
__ADS_1
"Angel lihat lukanya tidak bisa sembuh lagi." seseorang datang sambil menunjukkan luka sayatan di lehernya membuat Angel lari ke sana kemari dengan keadaan sangat kacau.
"Menjauhlah dariku! Pergi kalian!"
Saira yang sudah sampai ke apartemennya di lantai 20 pun segera merebahkan diri ke ranjang. Ia kembali menangis sampai terlelap. Kenapa hidupnya selalu dikelilingi masalah dan derita yang tidak pernah usai. Apa hukumannya belum juga berlalu.
Alyne yang teringat sesuatu segera mengecek lokasi keberadaan Saira saat ini. Ia lupa jika pernah meletakkan alat pelacak pada tas Saira tanpa sepengetahuan gadis itu. Ia yang saat itu sedang bersama Romeo pun segera memberitahu pria itu.
"Dia berada di apartemen Anne Garden-AG. Jika tidak ingin lagi kehilangan, kita harus segera menuju ke sana."
"Jaraknya juga tidak terlalu jauh, syukurlah."
Beberapa puluh menit kemudian mereka sudah sampai di apartemen dan segera menuju nomor apartemen gadis itu. Saira yang masih menangis merasa bingung saat ada yang menekan bel apartemennya. Ia segera mengambil sesuatu yang bisa digunakan untuk menjaga diri.
Dengan sangat pelan, Saira mengendap pelan dan melihat tidak ada siapa pun yang ada di layar monitor. Ia bingung sejenak tapi bunyi kembali terdengar. Karena sangat penasaran Saira segera membuka pintunya dan bersiap mengacungkan tongkat baseball.
"Eve, ini aku."
__ADS_1
Alyne segera menubruk tubuh Saira dan menangis sejadi-jadinya. Apalagi ia melihat mata sembab Saira yang terlihat habis menangis. Romeo masih belum menunjukkan diri. Hal itu semakin membuat Alyne merasa sedih.
"Kenapa ...."
"Tolong, jangan tinggalkan aku lagi seperti gadis bodoh. Aku akan bunuh diri jika kamu melakukannya lagi!" ancam Alyne masih menangis dengan sesegukan.
Saira ikut menangis mendengarnya. Sekuat apa pun ia menjauhkan Alyne darinya, gadis itu tetap bisa menemukannya. Ia juga sedang sangat membutuhkan semangat karena ia tidak tahu harus bagaimana lagi menjalani hidupnya.
"Jangan menangis lagi, aku membawa seseorang untukmu."
"Aku tidak akan menangis lagi, tapi jangan pernah mencoba bunuh diri. Lalu siapa orang itu?"
Saira dan Alyne sudah merungkai pelukannya. Alyne menutup mata Saira dan seseorang pun datang dari belakang sembari memeluknya.
-----
Ayo siapa yang kemarin katanya bosan 🤣🤣🤣🤣 nanti akan ada twist gais
__ADS_1