
Romeo menghampiri Danish yang berada di ambang pintu. Di dalam sudah ada Saira dan Alyne yang menatap datar Danish. Pria itu tersenyum kikuk dan memberi kode pada Romeo yang dibalas Anggukan olehnya. Danish menatap kekasihnya yang hanya menatap cuek padanya. Seolah tidak ada rindu di matanya. Hal itu semakin membuat Danish menginginkan Alyne menjadi pendampingnya karena dia menyukai kepribadiannya.
“Em, selamat pagi.” Sapa Danish yang sedikit kikuk karena Saira sejak tadi memandanginya dengan serius.
“Bro, selamat datang. Silakan duduk, anggap aja kantor sendiri.” Kekeh Romeo.
“Thanks, Bro.”
“Sssttt, apa dia calonmu?” Tanya Saira sambil berbisik pelan. Alyne hanya menjawab dengan kedipan mata tanda malas mengiyakan karena hanya membuang-buang tenaganya yang berharga.
“Dia tampan dan seksi.” Bisik Saira yang sayangnya didengar oleh Romeo. Pria itu langsung mencubit pinggang Saira dengan kesal membuatnya mengadu kesakitan. Hal itu membuat Danish spontan bertanya dan terlihat khawatir.
“Ada apa?’ tanyanya sambil melihat wajah Saira yang sedang komat kami dengan mata membesar melihat Romeo. Pria itu juga tidak mau kalah dan memelototkan matanya.
“Abaikan saja mereka,” ucap Alyne pada akhirnya.
“Kenapa?” Tanya Danish dengan gerakan mulut saja. Tentu dia penasaran dengan tingkah dua sejoli yang sedang saling memelototi satu sama lain. Bahkan kegiatan mereka masih berlangsung.
“Nanti juga kamu akan mengerti dengan kegilaan keduanya.” Alyne menatap Danish yang dengan setelan jasnya. Dia akui kekasihnya memang tampan.
Alyne berdehem sejenak kemudian memberi isyarat mata untuk mengajak Danish keluar dari sana karena sebentar lagi drama akan dimulai. Alyne sangat muak melihatnya karena hampir setiap hari melihatnya. Pikirannya jadi ikutan ternoda karena keduanya. Dia tanpa sadar menggandeng tangan Danish, membawanya ke roftop. Hanya itu tempat satu-satunya yang dipikirkan oleh Alyne. Akan banyak wanita ganjen yang syok jika mengetahui Danish kekasihnya.
__ADS_1
“Kamu sangat cantik seperti biasanya.” Celetuk Danish begitu mereka sampai di tujuan.
“Aku tahu,” ucap Alyne cuek dan melepaskan tangan Danish.
“Kenapa dilepaskan?”
“Memangnya mau gandengan terus?” Tanya Alyne sambil menaikkan alisnya.
“Sampai tua pun aku mau kalau gandengannya kamu.” Kekeh Danish sambil menatap serius wajah kekasihnya yang selalu mempesona di matanya. Entah kenapa gadis yang kini berada di hadapannya memiliki daya pikat luar biasa. Bahkan untuk berpaling pun Danish enggan karena dia hanya ingin menikmati keindahan yang sudah Tuhan ciptakan didepannya.
“Kamu tahu kan? Aku tidak suka dengan pria tukang gombal. Mereka hanya sampah di mataku.”
Alyne menatap Danish dengan lekat dan mengembuskan napasnya pelan. “Ada urusan apa datang ke kantornya Pak Romeo?”
“Kalau kubilang ingin bertemu denganmu, kamu pasti tidak suka jawaban itu. Aku ada meeting penting dengannya. Perusahaanku akan bekerja sama dengan perusahaannya dalam waktu dekat.”
Alyne menganguk paham. “Selamat kalau begitu.”
“Terima kasih sayang, semangat darimu akan selalu kuimpan baik-baik di dalam hatiku.”
“Emm Danish ada hal yang belum kuberitahu padamu. Kupikir kamu wajib mengetahuinya sebelum nanti hubungan kita terlalu jauh. Aku hanya tidak ingin menjadi wanita jahat yang hadir dalam hidupmu.”
__ADS_1
Kening Danish tampak mengernyit bingung. Hal apa yang ingin disampaikan kekasihnya Sampai-sampai mimik wajahnya terlihat khawatir, cemas dan murung. Alyne juga terlihat memilih tangannya sejak tadi dan menarik napasnya beberapa kali. Danish yang mengetahui kegundahan kekasihnya, lalu menggenggam tangannya dan meremas nya lembut.
“Apa pun yang nantinya akan kamu katakan, aku akan menerimanya.” Ujar Danish menenangkan Alyne.
“Apa kamu benar-benar bisa menerimanya?” Tanya Alyne kurang yakin.
“Aku yakin, sayang.”
“Apa kamu bisa memakluminya?”
“Iya, aku bisa.”
“Termasuk tidak memiliki anak denganku?” tanyanya.
“Iy—“ Danish terdiam sejenak mencoba mencerna kalimat Alyne barusan. Apa dia salah dengar atau sedang dikerjai. Dia menatap wajah Alyne dengan raut wajah kaget dan seolah ingin mendapatkan jawaban pasti atas kalimatnya barusan. Namun, Reaksinya barusan membuat Alyne sedih.
Alyne terkekeh getir dan menarik lagi napasnya. “Aku sudah menduganya.”
----
Alyne pasti punya alasan kenapa dia nggak mau punya anak. Tapi apa Danish bakalan nerima?
__ADS_1