Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Makan Malam


__ADS_3

Makan malam yang dijanjikan telah tiba, Aksa menjemput Saira di perumahan elit di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Aksa menatap takjub bangunan megah yang didiami oleh Saira. Gadis itu keluar dari dalam dengan tampilan yang sangat menawan. Gaun warna krim, dipadukan dengan hills setinggi 7 centi meter. Chanel dengan warna senada juga menggantung indah di pundaknya, rambut digerai begitu saja dengan sentuhan gelombang. Aksa tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Saira.


"Apa kita hanya akan berdiri di sini?" tanya Saira sambil menautkan kedua alis.


Aksa tersadar dari keterpakuannya dan segera membuka pintu mobil. Keduanya menuju Woodpecker Coffee bertempat di jalan Panglima Polim.


"Silakan," ucap Aksa sambil kembuka pintu mobil. Saira bahkan tidak sadar jika mereka sudah sampai.


"Terima kasih."


Saira dan Aksa berjalan memasuki kafe yang terlihat lumayan ramai. Banyak pasangan muda mudi yang nongkrong di sana. Kebanyakan dari mereka masih anak kuliahan dan hanya beberapa yang terlihat pekerja kantoran.


"Selamat datang di kafe kami," ucap salah seorang pelayan sambil tersenyum ramah. Ia menunjukkan sebuah meja yang berada paling sudut. Saira tersenyum tipis dan segera menuju meja tersebut.


"Mau pesan apa, Mbak?" pelayan dengan rambut dikuncir satu bertanya dengan senyum ramah.


Aksa dan Saira melihat buku menu.


Pria itu menatap Saira yang sangat cantik.


"Eve, bisa pesankan sekalian saja."

__ADS_1


Gadis itu menganguk, ia segera menanyakan mkana apa yang ingin dipesan oleh Aksa. Setelah itu, ia segera mendikte pesanannya.


"Untuk minumannya, virgin mojito, red velvete latte, orange juice, masing-masing satu porsi. Untuk makanan, chicken popcorn, classic fried chicken, achari murgh tikka, mushroom croquenes, vegetable salt & paper, spring rolls, masing-masing satu porsi. Terima kasih!"


Pelayan itu segera pergi setelah mencatat pesanan mereka. Aksa masih melanjutkan menatap Saira.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah?" tanya Saira sambil memeriksa bagian wajah sampai rambutnya.


"Kamu sangat cantik malam ini."


"Sebelumnya aku kurang cantik?"


"Cantikan mana sama kekasihmu dulu?" pancing Saira membuat Aksa terdiam. Hal itu membuat tawa Saira pecah.


"Abaikan saja, aku yakin dia lebih cantik dariku."


Aksa menatap Saira dengan tidak enak hati. Ia mengakui almarhum istrinya sangat cantik, tapi gadis yang sedang makan malam bersamanya ini jauh lebih cantik. Bahkan saat makan pun, gayanya sangat elegan. Aksa yakin, siapa pun yang melihat Saira akan jatuh cinta.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Saira memecah suasana.


"Semenjak bekerja sama denganmu, perusahaanku semakin berkembang pesat. Banyak investor yang berdatangan untuk menanam modal."

__ADS_1


"Syukurlah," ucap Saira sembari meneguk jus jeruknya.


"Eve, ada yang ingin kukatakan padamu."


"Katakan aja," ucap Saira cuek.


Disela makan malamnya, ada seseorang yang menyapa Aksa. Ia bahkan duduk tanpa permisi. Ia menatap Saira dengan tatapan memuja. Gadis yang diketahui bernama Tya, dulu sering menghinanya karena menikah dengan Aksa. Saira bahkan tidak berniat melempar senyum sedikit pun.


"Datang ke sini sama siapa?" tanya Aksa lembut. Dia memang sangat menyayangi adiknya.


"Sama teman, Kak. Siapa gadis cantik itu." bisiknya.


"Dia partner kerja kakak dari Australia."


"Pantas cantik banget," pujinya.


Saira sangat ingat siapa gadis yang saat ini sedang berdiri dihadapannya. Gadis yang tidak memiliki sopan santun dan membuat Saira sangat muak.


--------


Gais beberapa hari ini aku merasa hampa.

__ADS_1


__ADS_2